Sampai Dimana Aku, Kawan??

Seorang teman pernah bertanya, “Kamu, kalau disuruh milih antara tamasya mendaki gunung sama ke air terjun, pilih mana?”

Terlintas di benakku. Hmmm…. Indahnya kalau bisa berdiri di atas gunung. Semilir angin dan hangatnya matahari bisa langsung menerpa kulitku. Belum lagi, sang mata akan disuguhkan ladang dan pesawahan yang bersusun seperti tangga raksasa yang beralaskan permadani hijau yang lembut.

Kalau air terjun??

Apa bagusnya??

Air melulu kan??

Aku tidak bisa berenang pula.

Matilah aku terseret airnya..

Dengan pertimbangan itu, aku jawab, “Naik Gunung.”

“Kamu orang ambisius. Tujuanmu puncak ya?” Dia memandangku. Kuanggukan kepala dengan semangat ’45 dan senyum lebar. “Kok dia bisa tahu?” batinku.

“Hati-hati dengan gunung. Kalau kamu mendaki, sampai puncak, kalau gak terus bertahan di puncak, maka hanya satu jalan lain. Yaitu kamu harus turun gunung.” Gitu jelas dia.

Hehehe…

Turun gunung??

Kaya pertapa aja.

Aku gak paham sama ucapannya.

“Kalau lagi nih, ya. Misalnya kamu lagi di hutan, dan kamu gak tahu arah. Terus ada kakek-kakek tua. Jelek. Bau lagi.  Kamu tanya gak dia?” pertanyaan lagi nih buat aku darinya.

“Aku tanya donk.. kali aja bisa nanya ke mana arah yang mesti aku lewati.” Jawabku. Ini pertanyaan apaan sih, pikirku.

“Kamu oragnya cerewet. Banyak nanya segala. Kamu kan gak tahu tu kakek orang apa bukan. Siapa tahu hantu. Atau orang baik apa orang jahat. Iya kan?? Hati-hati dengan lidahmu. Kalau di hubungkan dengan pilihanmu, gunung. Ada beberapa kemungkinan. Kamu akan banyak bertanya untuk cari tahu caramu menuju puncak. Atau kamu hanya akan membual dengan puncak yang jadi impianmu.” Panjang lebar dia bilang.

Hahahaha….

Aku hanya tertawa.

Tanpa mempedulikan yang mentertawakannya, dia bertanya lagi.

“Lagi, ya..!?” tanyanya.

Hmmm… itu bukan pertanyaan. Nada yang kudengar adalah pemaksaaan.

“Iyaaaa…” balasku rada suntuk.

“Misal lagi nihh…” antusias dia. “Ada sebuah gua yang harus kamu masuki. Dan gua itu gelap banget. Nah, untuk menolong kamu, di pintu gua ada disediain banyak lilin. Buat menerangi jalan kamu di gua, kamu mau ambil berapa lilin??” senyum mengembang di bibirnya.

Tanpa berpikir aku jawab, “Satu ajalah. Ngapain banyak-banyak.”

“Hebat kamu. Kamu orang yang setia.” Bahagia dia denger jawabanku.

“Hore.. tepuk tangan buat teman kita yang setia.” Teriaknya memenuhi kelas. Bikin aku malu aja. eh, tapi ada yang merona di pipiku.

Cieeeee….

Hati bersorak. Akhirnya ada juga jawaban yang bagus. Dari tadi perasaan jawabanku nyelekit mulu disahutinya. Yang apa tadi, katanya aku ambisius lah. Yang cerewetlah. Ada-ada aja dia. Haaaaahhhhhh… akhirnya ada juga bagusnya aku ini, setiaaaa…

“Akuuuu… masih disiniii… untuk setiaaa…”

Merdunya suara Pongki memenuhi gendang telingaku.

(Tolong….!!! aku budeg..!!!) eh, gak jadi ketang. Hehehe…

Suara genderang perang berdebam-debam.

Daradam, daradammm, daradaammmm, dam.. dammm…

“Orang setia itu sakit, tahu…!”

Deg.

Astagfirullah…

Aku budeg beneran kah??? Apa tadi dia bilang?? Sakit??? Bukannya bagus??? Ah, bintang berkelip-kelip mengelilingi kepalaku.

Pongki lari terbirit-birit sambil tetap nyanyi. Meninggalkan suara melerek di telingaku. Kaya kaset yang kusut pitanya.

Ah, sayang Pongki. Yang suatu hari, kata temenku nama Pongki itu katanya sebenarnya nama pendek aja. alias singkatan. Yang kata temenku juga, konon Pongki artinya Ompong Kiri.

Hahaha…

Ada-ada aja dia.

Dia loh ya.

Bukan aku.

“Kalau misalnya setia sama pasangan, kamu akan melakukan apa aja untuk bahagiain dia. Kamu termasuk orang yang mencintai cinta. Kamu gak bisa menempatkan seseorang di hati kamu dengan mudah. Bisa jadi, kamu hanya mau pacaran sama yang kamu inginkan bener-bener untuk jadi pendamping hidup kamu. Terbukti kan sampai sekarang kamu gak punya pacar. Heeehhhh…” ih, ngece dia. Dasar!

“Coba kamu pikir, gemana kalau pasangan kamu berkhianat??” aku menunduk. Aku rasa itu bukan pertanyaan untuk dijawab. Aku tahu, pasti akan sangat menyakitkan kejadian itu. Aku gak sanggup membayangkannya.

Berkhianat??!!

Aduh, ampun. Ampun…

Gak deh..

Amit-amit jabang orok.

Nauzubillah…

“Kalau misal pasangannya berkhianat, orang setia itu. Ya kaya kamu, misalnya. Bakal merasa sangat menderita. Sakit hati yang sesakit-sakitnya. Dan lagian, orang setia itu bakal susah buat cari gantinya. Bukan gak ada yang mau sama dia. Tapi karena gak mau membuka diri aja. eh, bukan gak mau. Susah aja gitu membuka diri buat yang lain. Kalau setia sama impian. Orang setia akan pegang teguh. Kalau aku boleh bilang ya, orang tipe kaya kamu itu harus hati-hati, kalau cita-citanya kandas. Kamu bakal merasa seolah gak ada harapan hidup lagi. Loadingnya mentok sampe situ aja. misalnya, kamu pengen jadi artis. Trus misalnya gagal. Ini misal aja ya. Bukan doain. Kamu gak pengen jadi artis juga kan???” tanyanya dulu sebelum melanjutkan. Meyakinkan kalau-kalau dia salah ngomong.

“iyaaa..” sahutku sekenanya.

“Nah, misalnya trus kamu gagal audisi. Misalnya kurang tinggi atau kurang cantik. Hehehe…” dia tergelak.

Aku manyun. Huh, dasar.

Teganya jadiin aku lelucon. Bagusnya itu bukan cita-citaku.

“Orang kaya kamu itu bakal lama frustasi. Meratapi nasib. Orang lain udah bangun, kamu masih ngulet. Gitu juga sama kerjaan. Orang setia akan susah banting setir, kalau gagal dalam satu usaha. Orang kaya kamu intinya sulit ikhlas kalau kehilangan sesuatu. Terlalu merasa memiliki gitu deh..” ceramahnya panjang kali lebar kali tinggi. Hehehe, emang mencari volume apa? Yups, emang volume balok, panjang kali lebar kali tinggi itulah rumusnya.

Ucapannya mampu mengatupkan mulutku yang tadi terbuka lebar karena ketawa.

“Emang orang  setia itu bagus. Sangat bagus. Terlalu bagus malah. Sampai-sampai menyakitkan.” tambahnya.

Allah..

Apaan sih ini??

“Eh, gak boleh ngeramal orang. Haram. Empat puluh hari ibadah gak diterima.” Kataku ngeles.

“Huh.. kamu itu..!! Ini bukan ramalan tahu!” telunjuknya disentakan di wajahku. Tepat di depan hidung pesekku.

…….

Sekitar empat tahun percakapan itu telah berlalu, masih terngiang. Kadang suara percakapan kala itu terdengar kembali seperti memaki. Mencaci keadaanku sekarang. Terkadang terdengar seperti sorak-sorai cheerleaders di pinggir lapangan. Memberi semangat kepadaku. Kadang juga terdengar seperti nyanyian sumbang yang membuatku bangun tergagap mencari tombol on/off untk segera mematikan suara itu.

Tidak ada makian. Tidak ada sorak-sorai suara centil. Tidak ada nyanyian di sana. Pun tidak ada tombol on/off tentunya untuk suara-suara di telingaku. Yang ada aku duduk tergugu. Terjebak di sudut ruangan seluas tiga kali tiga meter kuadrat. Satu jendela dengan tirai usangnya. Satu pintu dengan kunci rusaknya. Satu lemari belel. Tumpukan buku dan diktat, serta foto kopian yang amburadul. Saju meja timpang. Satu kasur buluk. Seperangkat Loopy item yang suka ngadat.

……..

“Sampai dimana sekarang aku kawan?” Ingin kutanyakan padanya. Padanya yang gak kutemui setelah kutanggalkan si putih abu-abu dari tubuhku. Setelah kumasukkan si putih abu-abu dalam sel blok “baju yang gak di pakai lagi”. Aku ingin banyak bertanya padanya. Bertanya lebih banyak padanya tentang gunung yang kupilih dulu. Setelah empat tahun ini seberapa jauh tebing yang sudah kudaki? Seberapa dekat lagi puncak akan kucapai?

Bertanya tentang si kakek itu, ah.. Apa kabarnya si kakek kawan? Masihkan dia sehat? Masihkah dia menjadi kuncen di hutan itu? Hutan yang kau bilang. Hutan dimana aku gak tahu arah. Atau dia sudah mati? Kalau dia sudah mati, dimana kuburannya? Apakah dia juga setia pada hutan sampai-sampai setelah mati pun tetep menjaga hutan itu? Hmm setia, seperti aku??

Lalu bagaimana lilinnya, masihkah ia banyak seperti katamu? Atau sudah banyak yang masuk gua itu dan mengambilnya? Dan saking banyaknya yang masuk gua, jangan-jangan lilinnya sudah habis. Apalagi tentunya gak semua orang merasa cukup dengan satu lilin, kan??

Lalu, bagaimana dengan si air terjun yang gak kupilih? Keringkah airnya? Atau malah meluap seiring terus mencairnya es di kedua kutub karena bumi yang semakin panas? Kawan, bagaimana kalau aku beralih pilihan ke air terjun sekarang, boleh kah??

Satu lagi. Aku juga ingin menanyakannya lagi padamu. Pertanyaan yang dulu ku bilang “ramalan”. Yang sekarang, setelah empat tahun baru aku tahu kalau pertanyaan itu pertanyaan psikologi. Sejenis pertanyaan untuk mengetahui kepribadian seseorang. Aku juga ingin mengetahui pilihanmu, kawan. Gunung atau air terjun? kau tanya atau nggak si kakek tua itu? Kau ambil berapa lilinya? Atau kau malah sudah kehabisan lilin?

Hahahaha…

Aku tertawa.

Maaf, bukan mentertawakan habisnya si lilin.

Hanya saja aku ingin tertawa.

Hanya ingin.

Selesai 10.45 WIB (coret-coret kuliah fisika lingkungan) diketik dengan beberapa perubahan.

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s