Katingan Satu, Hadir dalam Mimpiku

Kemaren malam, aku mimpi mengenai Katingan. Hmmmm…, setelah sekian lama akhirnya mimpi itu datang tiba-tiba. Membawa kerinduanku pada tanah dimana aku pertama kali melihat dunia ini.

Katingan Satu itu namanya dulu, ntah sekarang. Desa Subur Indah, itu namanya dulu. Tempat yang familiar di bibirku dengan PAGATANnya. Tempat dimana aku lahir dan menghabiskan masa kecilku.

Kemaren aku mimpi, tentang ia, Pagatan. Khususnya Desa Subur Indah itu.
Aku berada disana. Ah, setelah sekian lama.

Katingan Satu apa kabar dia??
Munculnya ia dalam mimpi mungkinkah panggilan kerinduannya padaku??
Rindu berat, bahkan berton-ton. Sampai pundakku melambai dibuatnya.

Katingan Satu, aku rindu…
Aku rindu jernih sungainya ketika pasang.
Aku rindu keruh sungainya ketika surut. Airnya yang berwarna orange keruh, kata orang itu campuran lumpur sawah dengan zat asam.
Ntah lah saat itu aku gak peduli, apa itu zat asam. Atau zat apalah…
Zat yang banyak disebut orang seiring dengan seringnya gagal panen padi tiap tahunnya.
Aku gak mau peduli itu,
Yang aku pedulikan warna airnya bagus. Dan sejak saat itu, aku diam-diam suka warna orange.
Aku suka orange baik terang maupun keruh.
Benar-benar sejak saat itu.
Diam-diam.

Katingan Satu, apa kabar tanggul-tanggul gagahnya?
Tanggul yang penuh dengan pakis hijau yang pucuknya senantiasa muda dan setiap saat siap petik.
Tanggul yang banyak sekali amalan pahalanya, karena menyediakan sayur sebagai salah satu sumber vitamin buat setiap warga.
Gratis.

Katingan Satu apa kabar parit cacingnya??
Hmmm….
Ini bukan parit yang banyak cacingnya.
Hanya saja, selokan yang mengalir di setiap depan rumah warga.
Parit cacing yang menyediakan sumber protein hewani yang berlimpah.
Lagi-lagi, GRATIS…

Ah, aku sekarang merana..
Satu ikat genggaman kecil pakis aja sampai dua ribu rupiah.
Setengah kilo ikan aja sampai sepuluh ribu rupiah.
Sekarang Aku sering puasa,
Puasa makan sayur pakis dan makan ikan.

Aku ingat, dulu bahkan satu ikat pakis sebesar lingkaran jempol dan telunjuk gabungan tangan kanan dan kiri orang dewasa aja seratus rupiah para bakul sayur membelinya.
Aku ingat, dulu bahkan hanya dengan bermodalkan lidi dan serat batang pisang hanya untuk mendapatkan satu ember sedang ikan.

Katingan Satu, apa kabar sekolahnya??
Bagaimana tanaman kaca piring dengan ES DE EN SUBUR INDAH di depannya.
Aku belum menemukan lagi sekolah dengan tanaman kaca piring sebagus seperti di sana.
Pohon nangkanya,
Masihkah ia tumbuh dengan gagah??
Kata mamah, itu ditanam saat mamah masih sekolah di situ.
Wah, sampai aku sekolah pun bahkan masih tumbuh.
Meski tanahnya gak subur, namun semangat juang untuk terus tumbuh yang patut ditiru manusia.

Di katingan Satu terukir persahabatan sederhana namun penuh dengan ketulusan.
Ada beberapa nama yang masih kuingat.
Sebagian masih dengan nama lengkapnya. Sebagian hanya nama panggilannya. Ada teman ngaji, juga teman es de.

Ada Siti Rahayu.
Teman paling vital.
Sahabat karib.
Siti, masih ingat gak, kita hiasi persahabatan kita dengan mimpi-mimpi masa kecil kita.
Kita hiasi persahabatan kita dengan khayalan tingkat dewa.
Walau kadang ada duri, namun duri itu hadir malah menambah kedekatan kita.
Menambah keindahan persahabatan kita.
Seperti hadirnya duri untuk sang mawar.

Ada Ida.
Aku lupa nama lengkap Ida. Maaf.
Ida, yang kadang aku cemburukan ke Siti.
Rumah kalian yang satu er te, bahkan bersebelahan.
Membuat intensitas ketemu pun tinggi.
Aku cemburu, sama Ida, sama Siti.

Siti, sama Ida.
Ingat gak, ketemuan kita terakhir??
Kalian berdua, aku sendiri.
Kita saling pandang dari seberang sungai di belakang rumah kalian.
Dan aku, sungai dibelakang rumah uwaku.
Di jalur tujuh itu.
Tidak banyak kata dari bibir kita,
Tangan kita saling mengepal erat,
Meskipun tidak berjabat, hanya mata dan hati kita selalu menaut erat.
Saat itu.
Kalian tanya kapan aku berangkat?
Dan kusebutkan sebuah tanggal.
Ah, kejadian haru yangs selalu menguras air mataku.

Ada Eni Purwanti.
Sang juara dua.
Bergantian dengan Trisnawati.
Apa kabar Pur?
Setelah kepindahaku, apa kamu juara satunya?
Atau kamu tetap betah dijuara dua??
Atau malah juara tiga??
Tulisanmu yang rapi, bahkan kamu yang pertama yang bisa nulis tegak bersambung dengan bagus. Aku tahu kabar itu setelah kepindahanku. Salah seorang teman menceritakannya padaku melalui salah satu suratnya.
Kamu melanjutkan sekolah ke mana?? Sudah sukseskah??

Ada Trisnawati
Si Jawa yang lucu..
Apa kabar Tris??
Kamu tahu, setelah kepindahanku. waktu kudengar kamu pindah ke Balik papan.
Aku menangis sampai sesenggukkan. Aku takut kita gak ketemu lagi. Ntah lah, walau aku pun meninggalkan kalian. tapi aku sangat takut waktu aku tahu dengan kabarmu pindah ke Balik Papan.
Negeri mana itu? kala itu pikirku.
Terlalu jauh pindahmu.
Maafkan aku kalo aku malah bahagia ketika pindah ke Parenggean.
Bahagia yang sesaat.
Bahagia yang justru malah berganti dengan kerinduan mendalam yang ntah kapan akan terbayarkan.
Aku yang bahkan gak peduli dengan perasaan kalian.
Aku tahu, aku salah. Tapi,
“Tris jangan hukum aku kaya gini..”Sesalku.
Tangis yang berhari-hari menjadi ritualku sebelum tidur.
Tangis yang kemudian meninggalkan pulau di bantal.
Ini bukan iler.
Ini murni air mataku. Air mata dari tangis yang tertahan, karena malu kalo ketahuan mamah, membuat dadaku sesak.

Ada Nani
Ah, Apa kabar??
Kamu dengan kecentilan yang menjadi ciri khas anak kecil.
Sudah nikah kah sekarang??

Ada Uwas.
Yang katanya berhenti waktu aku pindah.
Aku dengar kamu gak naik kelas, makanya berhenti.
Sabar ya Was. Mungkin jalan suksesmu bukan dari sekolah.
Uwas,
Yang kemudian namamu mengingatkan aku pada satu tokoh pada masa Rasulullah,
Uwais al-Qarniy.
Dia yang gak begitu di kenal di dunia ini.
Namun, merupakan Tokoh populer di negeri akhirat.
Uwas…
Namamu, sering kusebut dalam doaku,
Kuberdoa agar kamu diberi kemuliaan
Seperti halnya Allah swt. memuliakan Uwais al-Qarniy.

Ada Nyai.
Ah, maaf. Aku lupa nama lengkapmu.
Nyai mewarnai kelas dengan sikap lembutnya.
Nyai, yang membuat cowok dikelas berebut dekat denganmu.
Nyai dengan rambut lurusnya, paling cantik dikelas.
Nyai yang sunda banget.
Apa kabar??
Masihkan Nyai yang paling cantik dikelas sekarang??
Dikelas manapun Nyai berada…

Ada Ani cungkring dan Ani Gendut.
Kalian sering duduk sebangku.
Ntah siapa yang memulai, hanya nama itu melekat di otak kita sekelas
untuk diucapkan dibibir mungil kita. Pada setiap orang, dari kita.
Kalian yang selalu protes dengan panggilan itu, gak kami pedulikan.
Malah, ekspresi ngambek kalian menjadi lem perekat keakraban kita. Sekelas.
Kalian bukan anak kembar.
Bahkan dari orang tua yang berbeda.
Namun, kedekatan kalian, kemiripan kalian lebih dari sekedar sodara kembar.

Ada juga suparman alias castrol.
Teman sekolah sekaligus teman ngaji yang setia.
Dari jalur enam, rela ngaji ke jalur delapan. Ke Langgar abah.
Apa kabar Cas??
Castrol???
Aku masih ingat kenapa aku memanggilmu Castrol.
Hanya karena celana hitam yang kamu pake ngaji malam itu.
Ya, celana hitam dengan bordir kecil bertuliskan “castrol” di lututmu.
Sedangkan castrol (kastrol) dalam versi kita adalah penanak nasi. Yang memang selalu hitam karena terbakar di tungku.
Aku yang geli bilang,”Udah item. Castrol lagi namanya..”
Ntahlah, hanya saja di benakku kejadian itu terasa lucu.
Dan aku mengabadikannya dengan memanggilmu “Castrol”
Sekarang masih adakah lagi yang panggil kamu Castrol setelah aku, Cas??

Ada Slamet Haryanto.
Pak Ihsan sering manggil kamu, Slamet Tambur.
Yang mana itu adalah nama ayahmu.
Protesmu, bahkan gak mengubah Pak Ihsan. Malah, selalu ada canda di dalamnya
Slamet,
Wakil ketua kelas waktu kelas tiga.
Cowok paling putih. Rambut ikal. Dengan ciri pendiam yang akut.
Bagaimana kabarmu?
Kabar terakhir yang kudengar kamu udah kerja.
Sukses ya…

Ada Syukur Bahrudin.
Maaf Syukur, aku pernah mukul punggungmu dengan penggaris.
Maafkan aku.
Aku hanya ingin bertindak tegas kepada siapa aja yang ribut dikelas.
Sebagai ketua, tentunya.
Walau pun kadang aku sendiri merasa, aku kurang adil.
Dalam menjalankan tugasku.

Ada Wiwik Widyawati.
Waktu kelas satu, kalo gak salah kita duduk bareng.
Ntah dasar apa Pak Ihsan mencocokkan kita.
Kata bapakku, kita sodara.
Tapi kenapa kita gak pernah akur??
Bahkan setelah kepindahanku, aku sering menanyakan kabarmu lewat teman-teman yang berkiriman surat denganku.
Ku kira aku aja yang gak suka temenan sama kamu. Ternyata, dari cerita mereka, aku tahu. Aku gak sendiri.
Mungkin kamu sekarang dah berubah ya, Neng???
Kemanjaanmu udah disalurkan pada jalan yang benar.
Maafkan aku, kalo selama kita bersama.
Aku tidak pernah baik sama kamu.
Aku, bahkan pernah berpikir bahwa persaudaraan kita (walau kerabat jauh) sangat aku sesalkan. Kenapa harus bersodara denganmu??
Pikiran yang sangat aku sesali.
Maafkan aku Neng…

Teman-teman sekelas.
Dari kelas satu sampe kelas tiga lainnya.
Nama kalian gak kusebut, bukan berarti aku lupa kalian.
Hanya saja, waktu nulis ini, otakku lagi mulai ngedrop. Untuk mengingat kalian semuanya.

Teman cowok maupun cewek
Sejujurnya, aku kangen kalian, meskipun kalian gak kangen sama aku.
Aku inget kalian, meskipun kalian mungkin gak inget aku.
Aku sangat pengen ketemu kalian. meskipun kalian mungkin gak pengen ketemu aku.

Maafkan aku.
Aku pasti banyak nyakitin kalian.
Dengan  kebersamaan kita tiga tahun.
Dua kali aku jadi ketua kelas, (kalo gak salah) aku ingat pastinya waktu kelas tiga aja jadi ketua, waktu kelas dua kan Neng Wiwik yang jadi ketua.
Nah, dikelas satu, aku lupa siapa ketuanya. Dan ingatanku lima puluh persen mengatakan kalo aku deh kayanya yang jadi ketua.

Maafkan aku, sering marah sama kalian, kalo kalian ribut.
Bahkan ada yang pernah kupukul. Ntah meja kalian, ntah pun anggota badan kalian. Kaya Syukur. Misalnya.
Juga maafin aku, sering jewerin kalian.
Kalian yang belum bisa baca, (waktu kelas satu) selalu jadi sasaran empuk jari-jariku.
Bahkan ketika tanganku gak bisa menjewer kalian satu per satu, aku (atas amanat dari Pak Ihsan) menyuruh kalian saling jewer satu sama lain.

Aku juga sering jewerin kalian sebelum masuk kelas.
Kalo hari Jumat. habis olah raga kita baris, sebelum masuk.
Jewerin kalian (anak cowok kebanyakan yang jadi sasaran) karena tanpa sepatu.

Aku yang begitu, menginginkan kelas dengan keadaan yang perfect. Aku yang bahkan selalu menginginkan kalian perfect, gak ingin kelas tercoreng karena kalian yang malas pake sepatu.
Gak ingin kelas tercoreng karena berisi anak-anak tukang ribut dikelas.
Sekarang, kadang aku suka berpikir. Kejamnya aku. Ketakutanku sekarang, aku takut, kalo aku ternyata masuk dalam sejarah, dan dicatat satu bab bareng Hitler.

Aku, yang kejam. Namun cengeng uzdubillah.
Ingat tragedi Pak (ntah siapa namanya lupa, dia dulu punya lokasi di samping rumah abah) ngunci pintu kelas kita. Setelah kasih tugas, karena Pak Ihsan berhalangan hadir. Aku lah orang pertama yang nagis.

Aku yang menginginkan kelas perfect, malah aku yang mengacaukannya. Sungguh, kelas kita jadi terkenal karena tangisku. Ketua kelas yang galak, namun ternyata cengeng. Memalukan. Kelas kita, terutama aku jadi bahan olokan yang sadis. Tapi, gak satupun dari kalian berani menyinggung kejadian itu. Apa lagi memperolokan aku. Sungguh, bukankah tragedi itu membuat kelas kita terkenal??

Ada juga Teman Ngaji.
Assalamualaikum…

Ada wanto.
Kamu cowok pendek dengan ciri iihhh, sunda pisan euiy…
Apa kabar teh Yuli, Wan??
Makin cantik aja ya dia???
Makin manis, walau aku gak pernah jilat.
Kalian keluarga sunda, yang sunda pisan. Keramahan kalian, juga kelembutannya.
Ada Agus.

Apa kabar Gus??
Si Aris dah kelas berapa sekarang??
Masih gemuk gak dia??

Wanto sama Agus, kalian dah jadi ustad ya sekarang???
Aamiin.. semoga ya…

Ada Maman.
Maman, yang nakalnya uzdubillah.
Katanya kamu ada kerja di sektar Parenggean sekarang??
Katanya kamu pernah ke es pe enam??
Kok kita gak pernah ketemu ya….

Untuk pak guru, terutama yang very very very and very spesial Pak Ihsan.
Makasih bapak.
Makasih untuk semuanya.
Bapak, guru yang unik yang pernah kutemui.
Bapak dengan BLACK BEAUTYnya.
Setelah aku belajar banyak sekarang, aku suka berpikir
“Jangan-jangan bapak adalah Bilalnya aku?”
Bapak tahu bilal??
Itu loh, sahabat Rasul yang hitam.
Namun memiliki tempat istimewa di hati Rasul. Bahkan, Rasul sampai mengabarkan, bahwa Rasul telah mendengar bunyi terompah bilal ada di surga.

Masya Allah..
Saat itu bahkan bilal masih hidup. Eh, sendalnya duluan dah masuk surga. Bunyinya pula…

Bapak, bukan kabar kaya Bilal yang mau saya sampaikan.
Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih.
Semua petuah Bapak telah mengantarkan saya sampai sekarang saya begini.
Saya akui, saya belum sukses Pak.
Es pe de pun belum.
Namun, jiwa guru yang salah satu bibitnya dari bapak,
Dah subur tumbuh di hati saya.

Bapak yang bukan hanya mengajar disekolah.
Tapi dikehidupan sosial.

Bapak yang bahkan tahu segala hal tentang siswa.
Anak keberapa? Berapa bersodara? Bapaknya siapa? Mamahnya siapa? Anak kandung atau anak angkat? Kakeknya siapa? rumahnya dimana? Tetangganya siapa? Teman mainnya siapa? Ngajinya dimana?

Dan point terakhir yang menjadikan lampu kekaguman di hati saya menyala terang.

Sangat jarang, bahkan bapak lah satu-satunya yang saya temui, seorang guru di sekolah yang demikian peduli dengan siswa bahkan sampai urusan akhirat siswa itu, ngajinya dimana.

Mimpiku, di akhir malam kemaren dah membuka kembali sejarah penuh simpul pita dan balon warna-warni dalam lembaran hidup aku.

(Palagka Raya, 13 November 2012 at 22:14)

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s