Bahkan Ke Sampit Pun Harus Lewat Pelantaran

Ini bukan mengenai laporan perjalanan. Yaa, semacam reportase gitu misalnya. Bukan. Ya, bukan. Aku tegaskan sekali lagi. Ini mengenai suatu kisah yang gak sengaja menyertakan aku sebagai salah satu pemerannya.

Agustus tahun dua ribu empat.

Aku, seorang gadis beranjak remaja. Kalau misalnya Mangga, aku bukan pentil lagi. Aku masih gemadung, begitu keluargaku sering menyebut Mangga yang masih lagi kecut-kecutnya. Kalau bunga aku sudah bukan kuncup lagi. Tapi juga belum mekar. Harumnya belum lagi tersebar, bahkan angin pun belum bisa membawa molekul baunya. Namun harumnya cukup untuk membuat otot hidung kumbang terdekat kembang kempis. Maduku belum lagi mengalir, namun cukuplah ada untuk mengundang kumbang yang terdekat. Meskipun undangan tidak pernah aku sebarkan.

Aku, dengan tinggi seratus empat puluhan lebih dikit. Dengan berat badan empat puluh tujuh kilo gram. Cukup berisi untuk anak seumuran aku. Berusia empat belas tahun. Lihat, aku bahkan belum lagi sweet seventeen, begitu orang bilang. Ka Te Pe pun belum ditangan. Hanya kartu pelajar yang menjadi jimat andalanku. Jimat andalan dengan mantra yang tertulis di atasnya “nama titik dua Arni kelas titik dua dua romawi be”.  Sebuah foto dipojok kanan bawah jimatku memunculkan penampakan seorang gadis berambut panjang keriting.

Hari-hariku tidak ada yang berbeda dengan hari-hari para remaja di kota ini. Kota kecil. Sampit. Dan, aku tinggal jauh di pinggiran sebelum Sampit. Jauuuuh…!!! Parenggean. Lebih tepatnya suatu desa yang aman, damai, hijau nan asri, Karang Sari. Ya, Desa Karang Sari. Tempat aku berhari-hari menghabiskan detik demi detik. Memuntahkannya menjadi menit, dan membuangnya menjadi jam demi jam untuk belajar di sekolah. Tinggal nebeng di rumah salah seorang familiku. Bibiku yang tercinta. Rela menahan rindu, berjauhan dengan mamah dan adik-adikku yang tinggal di Desa sebelah Nun Jauh di sana. Desa dengan nama Cempaka Putih. Dengan perjalanan dua jam naik sepeda motor dengan kecepatan rata-rata enam puluh kilo meter per jam dari Karang sari.

Desa Karang Sari dan Juga Cempaka Putih adalah salah satu desa di kecamatan Parenggean yang berada di dalam wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur yang lebih akrab dengan KOTIMnya. Propinsi Kalimantan Tengah. Negara Indonesia.

Sampit. Kota yang sedikit populer untuk warga Karang Sari dan juga Cempaka Putih. Satu lagi, Pelantaran. Hmmmm…. Sampit??? Siapa orang di Desa Karang Sari dan Cempaka Putih yang gak tahu nama itu. Sampit adalah Ibu Kota Kabupaten untuk KOTIM. Dan lagi, Pelantaran. Gak mungkin penduduk di sini gak tahu daerah itu. Karena setiap orang dari Desa Karang Sari dan Cempaka Putih yang mau ke Sampit gak akan sampai Sampit kalau gak lewat Pelantaran. Pelantaran ibarat sebuah oase di panasnya dan jauhnya perjalanan ke Sampit. Sangat jarang orang yang gak singgah di Pelantaran. Dalam perjalanan ke Sampit.

*****

Ini bukan laporan perjalanan. Sekali lagi bukan.

Masih di bulan Agustus tahun dua ribu empat.

Hari-hariku indah. Melenggok mengikuti irama alam dan waktu. Tidak ada kerikil di tengah jalanku. Hampir semua jalan yang kulalui licin beraspal. Tidak ada luka yang tanpa darah. Kalau luka, ya berdarah. Tidak ada hujan ditengah musim kemarau. Kalau kemarau ya kemarau aja. Dan kalau musim hujan, ya tentu banyak hujan.

Selain aku, Arni. Ada tokoh lain dalam kisah ini. Lela, seorang kakak sepupu. Dan Rya, Bibiku yang lain. Kami bertiga seumuran. Sama-sama belajar di SMP Negeri Tiga Parenggean. Hanya bedanya, mereka berdua, Lela dan Rya satu kelas. Sama-sama kelas tiga A, mereka.

Aku, Lela dan Rya. Sangat dekat. Selain karena kita bersodara. Selain karena kita merasa senasib seperjuangan. Selain karena sama-sama merasa jauh dari orang tua demi sekolah. Selain karena kita belajar di sekolah yang sama. Ada alasan lain yang sampai kapan pun tidak bisa kami jelaskan mengenai kedekatan kami.

Berbagi kamar. Satu kamar berisi tiga orang gadis. Berbagi lemari baju. Berbagi meja belajar. Tidak menjadikan kami saling iri atau berebutan. Malah menjadikan kami saling terikat kuat satu sama lain. Sangat erat. Saling terbuka. Saling berbagi. Sampai-sampai tidak ada rahasia diantara kami.

Alo, panggilan Rya padaku. Ntah lah. Katanya dia itu panggilan sayangnya padaku. Bil, kependekan dari gembil. Itu panggilan Lela padaku. Lagi-lagi katanya panggilan sayang. Aku, sebagai yang termuda diantara mereka hanya bisa nrimo banjir sayang dari mereka.

*****

Ini bukan laporan perjalanan. Sekali lagi bukan. Memang bukan laporan Perjalan dari satu daerah ke daerah lainnya. Melainkan suatu laporan perjalanan masa remaja, yang sedikit banyak mencoret-coret satu, dua lembaran kisah hidupku. Kisah yang disisipi tokoh tambahan bernama cowok. Masa pengenalan.

Lela, kulihat fine-fine aja dengan Tanto. Anak laki-laki berkulit putih yang rumahnya selang lima er te dari rumah familiku ini. Mereka berdua, kulihat baik-baik aja, mewarnai lembaran remaja Lela dan Tanto bersama-sama. Melukis tiap lembarannya dengan tinta berbagai warna. Ada Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu de el el pokoknya. Balapan sama warna pelangi di langit yang biru di atas sana.

Rya. Ah, dia pribadi mengagumkan. Sosok dengan wajah lembut. Teramat sangat. Bahkan sampai ke dalam hatinya. Tinggi semampai, dengan rabut panjang lurus melambai. Seolah seperti mengandung magnet yang akan menarik logam apa aja di sekitarnya. Dan magnet bawaan Rya ajaib, bukan logam yang tertarik. Melainkan makhluk Tuhan yang berjenis laki-laki, Sodara-sodara..!! Belum lagi di sekolah, selalu tiga besar. Dan dia gak pernah keluar dari lingkaran itu.

Dan aku??? Hmmmm…

Paling muda diantara mereka, Lela dan Rya. Paling doyan makan. Paling gemuk dari mereka. Dalam suatu waktu aku paling ceria, paling rajin. Dan dalam waktu lain aku adalah sosok paling malas dibandingkan mereka, paling pendiam dibandingkan mereka. Bukan bermaksud membanding-bandingkan, hanya saja.. Ya hanya saja, emang gitu adanya. Paling sering kena marah familiku. Dan lebih dari itu, paling pintar di kelasku. Sampai kelas dua ini, aku selalu dengan mudah nongkrong di ranking satu. Ya, ku akui emang terlepas dari usahaku. Kehendak Allah lah yang menjadikan aku tetap bertahan. Satu hal lagi mengenai aku, kalo lagi kambuh aku cuek dan judes udzubillah. Mungkin hal ini membuat tidak pernah ada satu teman cowok pun yang berani dekat denganku. Dekat dalam arti tanda kutip. Dekat dalam arti tanda tanya. Dekat dalam arti tanda seru. Dekat dalam arti tanda titik dua. Dekat dalam arti tanda koma. Dekat dalam arti tanda apa aja lah…

*****

Dalam suatu bulan yang aku lalui, masih dalam Bulan Agustus di tahun dua ribu empat. Aku merasa ada yang aneh. Semacam firasat sesuatu bakal terjadi. Dan benar saja. Sesuatu mengenai hidupku, meskipun hal itu gak merubah apapun dariku. Hanya membuat aku menambahkan warna lain dalam lembaran hidupku. Lembaran milikku. Sesuatu hal itu menjadikan sebutir kerikil tergeletak di jalanku yang semula licin beraspal. Menjadikan secuil luka tertoreh, dan tanpa darah. Menjadikan di Desa Karang sari ini tiba-tiba hujan turun deras dalam Agustusnya kemarau.

Mamang. Satu tokoh lain dalam kisahku. Mungkin dia hanya figuran. Yang numpang lewat dalam episodeku. Namun, dia ternyata meminta bayaran mahal. Dan hampir membuatku bangkrut. Hampir saja!

Mamang, seorang pemuda yang yaa…, sedang lagi muda-mudanya lah… Berusia sekitar dua puluh lima tahunan. Rumahnya selang satu er te dari rumah familiku. Hanya saja dia memang sering datang. Bukan untuk apel pada salah seorang diantara aku, Lela maupun Rya. Hanya saja, kebetulan dia teman akrab suami dari Familiku. Teman pamanku. Mungkin karena intensitas yang sering, atau mungkin karena emang gemes liat kuntum-kuntum mulai mekar. Mamang, yang bisa dibilang Pe eM Te (Pemuda Menjelang Tua) yang bisa dibilang lambat nikah untuk pemuda seumuran dia di Karang Sari ini, mulai melakukan aksinya.

Hal itu wajar saja sebenarnya dan tidak perlu menjadi cerita. Jika saja…. Ya. Jika saja…

“Ar, ada salam dari Mamang…” Aa Cep membuyarkan konsentrasi pencetan tanganku di kalkulator.

“Walaika waalaihi salam.” Sahutku pendek, tanpa mengalihkan perhatianku.

Itu, satu kali. awal yang selanjutnya diikuti berkali-kali salam. Salam. Salam. Lama-lama, “Daun salam,” kataku mengejek.

Mamang. Laki-laki seumuran Aa Cep. Laki-laki dengan postur imut untuk usianya. Imut dalam arti item mutlak. Juga memang imut dalam ukuran, mini. Laki-laki pemurah. Yang dengan gampang mengeluarkan dompet ketika paman bakso lewat depan rumah. Ah, ntah pemurah ntah, bising mendengar teriakan Lela yang setengah memaksa minta Mamang membelikan bakso. Selalu. Tiap kali paman penjual bakso lewat dan kalau Mamang datang. Dan ujungnya, gak Cuma semangkuk bakso buat Lela tapi hampir semua penghuni rumah dapat bagiannya.

“Satu mangkok untuk satu orang. Kalo mau lebih, bayar sendiri..” Mamang memberi ultimatum. Sebagai syarat kesediannya membelikan bakso. Dan biasanya kami patuh dengan syarat tersebut. Acara makan sering di lakukan di bawah pohon di depan rumah.

Mamang, sosok lucu. Selalu hadir dengan canda-candanya yang segar. Ya, menurutku. Setidaknya sampai sesaat sebelum…

“Aar.. ada salam dari Mamang. Cie ciee.. yang lagi kecelup tinta pink..” Aa cep teriak, sampai seisi rumah bisa jadi tuli karenanya. Membuat aku malu setengah udung.

Ya, malu tentunya. Setelah hampir satu bulan ini Mamang berubah. Setidaknya itu yang orang rumah katakan padaku. Dan aku tersugesti. Ntah lah, mungkin itu bukan sugesti. Tapi emang adanya begitu. Mamang terlihat anggun akhir-akhir ini, tidak ada lagi canda darinya. Mamang terlihat tampil bijaksana dalam berkata. Bahkan celoteh Lela pun di tanggapi bak Pujangga tingkat dewa. Mamang yang sering curi-curi memandangku, akhir-akhir ini. Bukannya aku ge er. Malah, aku merasa jengah. Belum lagi mider akut yang jadi penyakitku suka kambuh dalam kondisi gitu, jangan-jangan ada yang aneh dengan penampilanku. Tapi aku dengan cuek kadang membiarkannya.

“Peduli amit.” Kataku ketus tiap kali mereka, orang rumah ngeledekin aku.

Sampai suatu malam, aku lagi belajar di depan rumah. Memang biasa aku, Lela maupun Rya belajar di depan rumah. Kemudian Mamang datang. Satu per satu, Lela dan Rya tinggalin aku. Ada yang di suruh ini lah, di suruh itulah. Dan lain sebagainya. Tinggallah berdua aku dan Mamang. Sebenarnya bukan hal aneh kalo aku ngobrol sama Mamang. Sangat biasa. Mamang yang lumayan jago di bahasa inggris. Sering membantu aku, Lela maupun Rya belajar. Ntah emang beneran bantu belajar, ntah juga malah mengganggu kami belajar. Mengganggu kami dengan candaan yang membuat kami jadi lebih konsen ketawa. Mengganggu kami dengan traktiran baksonya, yang membuat kami konsen makan.

Pun seperti malam itu. Aku ada tugas bahasa inggris. Mamang membantu aku. Jika dilukiskan, pemandangan yang terlihat adalah seperti seorang kakak yang membantu adiknya belajar. Sangat wajar, kukira. Sampai kemudian dalam suatu percakapan aku dan Mamang…

“Mamang suka sama Aar..” katanya. Merdu. Dia tiba-tiba menggerakkan tangannya mau meraih tanganku di atas meja. Mungkin niatannya mau kaya sinetron yang di tipi-tipi gitu.. Segera, dengan kecepatan penuh, aku menarik tanganku. Sebelum tangan Mamang mampir. Hampir saja. Tapi, Alhamdulillahnya itu tangan laki-laki yang bukan muhrimku gak sampe menyentuh kulit tanganku. Hanya kibasan angin karena pergerakan tanganku dan tangannya Mamang saja yang terekam oleh sensor indera di tanganku.

“Aar juga sama Mamang. Mamang baik, suka belikan bakso. Hehehe…” Kataku lugu.

“Ih, Aar ni…” balasnya.

Hmmm… aku gak lugu-lugu amat. Lucu-lucu gubluk. Aku tahu, dan bisa jadi sok tahu. Dengan arah pembicaraan ini. Namun aku gak ingin memperpanjangnya. Membahas sesuatu yang sangat gak aku mengerti. Perasaan. Cinta. Cemburu. Marahan. Baikan. Dan apapun itu. Menurutku, hubungan cowok-cewek selain yang dihubungan pernikahan lebih rumit dari pada memahami pelajaran Fisika. Hubungan itu abstrak. Gak jelas. Apaan coba. Dan aku gak suka sesuatu yang gak jelas.

Percakapanku dengan Mamang tidak sampai pada kesimpulan. Lebih pada aku yang selalu berusaha menghindarinya.

Kancil hewan yang cerdik. Teryata pemburu lebih cerdik lagi. Begitu juga Mamang. Kali ini, gak cuma salam-salam lagi.

Suatu hari aku sedang merangkum pelajaran agama. Kemudian satu panggilan menghentikanku. Aku diminta familiku ke warung. Ketika pulang dari warung, buku agama dah gak ada lagi di meja belajar. Berhari-hari. Kutanyakan pada Lela dan Rya. Mereka pun gak tahu. Aku uring-uringan gak jelas. Bingung, kenapa bukunya bisa ilang. Buku perpustakaan lagi. Sampai kemudian hari sabtu, aku mendapati buku agama itu di tempat semula ilang. Ntah siapa yang jahil tapi aku senang bukunya dah balik.

Sabtu ini, aku berencana pulang. Kangen sama Mamah dan adek-adekku dah membuncah, tanggul pertahanan dah hampir jebol. Karena dah ditunggu taksi. Aku menyambar sekenanya buku agama itu. Aku ingin merangkum di hari minggu nanti di rumah di Desa Cempaka Putih.

Sampai kemudian, ketika aku mau merangkum. Ku bukalah lembarannya. Bab tujuh. Dan teng, teng, teng, teeenggg….

Ada amplop merah muda di sana..!! Ah, sangat pas dengan bab yang bakal aku buka. Apa-apaan ini? Aku gak mengerti. Sampai kutemukan “untuk Aar yang manis.” Tertulis di pojok kanan bawah amplop itu. Hanya tulisan itu. Tidak ada menunjukkan dari siapa.

Aku buka, sebuah tulisan yang indah. Dan sepertinya aku kenal tulisan siapa. Kemudian ku baca. Isinya tentang cinta. Tentang perasaan seseorang padaku. Hihihihi…. Dari Mamang. Rasanya hari ini berjalan lama sekali. Aku sangat ingin cepat-cepat hari senin. Aku ingin cepat-cepat ketemu Lela dan Rya. Mereka pasti akan tertawa geli mendengar ceritaku. Ya, sesuatu hal wajib bagi kami untuk berbagi cerita. Seperti biasanya.

Senin tiba dengan kejadian yang tidak pernah aku bayangkan. Gak cuma di buku agama surat-surat cinta Mamang bertebaran. Di mana-mana. Bahkan di dalam tasku. Aku berpikir, pasti ini ada orang dalam yang membantu Mamang. Sempat beradu mulut dengan Lela dan Rya. Aku menuduh mereka yang membantu Mamang. Dan mereka membantah tuduhanku.

Aku jengkel dengan keadaan ini, sampai kemudian aku berkesempatan bicara dengan Mamang. Aku gak bisa jadi pacarnya Mamang. Aku katakan semua kejengkelanku padanya. Mengatakan kalau aku gak suka dia yang sekarang. Kaya ada sekat antara aku dan dia. Gak luwes seperti sebelumnya. Dan keadaan ini sangat tidak aku sukai. Aku pilih kata-kata yang baik tentunya untuk menyampaikan semua itu. Percuma bahasa Indonesia dapat sembilan kalau memilih kata-kata yang baik aja gak bisa, kan..??

Mungkin Mamang kaget atau apalah terserah. Dia terlalu dewasa untuk bercengeng ria. Dan aku gak bisa menebak ekspresi apapun dari wajahnya. Tapi yang kutahu, ekspresi dia menunjukkan kalau dia mengerti dengan baik apa yang kusampaikan. Bahwa, “CINTANYA KUTOLAK…!!”

Dan kemudian suatu peristiwa terjadi di Desa Karang Sari yang Aman, damai, nan Indah ini. Di rumah familiku tentunya. Ketika aku pulang sebentar ke Desa Cempaka Putih, tempat aku di buai oleh kasih sayang orang tuaku, minggu berikutnya.

*****

Di suatu Minggu siang. Di bawah pohon rindang. Hari dimana aku sedang berbahagia bercanda, tertawa bersama mamah, bapak dan adik tercinta. Di waktu yang bisa dikatakan bersamaan. Di halaman sebuah rumah beratapkan genteng bercat merah. Seorang gadis duduk di bangku panjang. Kedua kakinya sila di atas bangku tersebut. Di tangan si gadis ada sebuah buku. Layar Terkembang. Tertulis di halaman sampul buku tersebut. Di samping si gadis, duduk berlawanan arah, seorang pemuda. Dengan kaki berjuntai disilangkan.

“Mang, Mang.. Kamu itu aneh. Masa kemaren deketin keponakannya sekarang ke bibinya juga..” gerutu Lela, gadis dengan buku di tangannya itu. Meski matanya ke buku, namun arah pikiran dan apa yang mereka percakapkan bukan mengenai buku yang ada di tangannya. Bukan mengenai pe er bahasa indonesia. Bukan mengenai tugas resume lima puluh novel yang hari selasa harus dikumpulkan.

“Ya ampun La, jangan terlalu bodoh. Kan kalo mau ke Sampit juga harus lewat Pelantaran..” sahut Mamang enteng. Ringan. Bahkan lebih ringan daripada kapuk dari pohon Randu di samping rumah abah yang sering diterbangkan angin.

*****

“Lo, Mamang nembak aku loh.. Hari Sabtu kemaren pas kamu pulang..” Rya menyambut kedatanganku dengan sebaris kalimat bermuatan listrik lima ribu mega volt.

Tiga buah kerutan di dahiku mengalahkan kerutan tua di wajah nenekku. Namun segera kulenturkan kembali kerutan itu. Buru-buru. Bahkan Rya belum sempat melihatnya.

“Ih… kok bisa???” aku bertanya dengan senyum dikulum. Geli juga, pikirku. Setelah aku sadar dari sengatan ucapan Rya.

“Tau tuch.. gila gak sech..??!!” tanyanya. Tanpa memerlukan jawabanku.

“Hhhhh… Mamang aja, gila dia tu. Masa nyama-nyamain kalian sama Pelantaran, loh Bil…” Lela yang baru masuk kamar menambahkan.

“Hah..,!! Maksudnya apa??” aku tambah gak ngerti.

Lalu mengalirlah cerita dari mereka tentang peristiwa selama dua hari ketidakadaanku di Desa Karang Sari ini. Hanya dua hari. Sabtu dan Minggu.

(Selesai di Palangka Raya Hari Sabtu, 17 November 2012 at 14:51)

Iklan

One thought on “Bahkan Ke Sampit Pun Harus Lewat Pelantaran

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s