Bukan Memahat Batu ataupun Menempa Baja

Dimulai tanggal 25 November tahun 2010 saat nongkrong di kos seorang teman.

“Asih, dah SMS Bapak Ibu Gurumu kah?” teriak salah seorang akhwat memutuskan obrolanku dengannya.

“SMS apa Kak?” Asih balik tanya.

“Ya SMS apa aja lah.. Hari guru nie..” jelas sang akhwat.

“Ooooo…” gak cuma Asih, aku juga terperangah. Sejak kapan tanggal 25 November ditetapkan jadi hari Guru? Tak tahulah..

Setelah keperluanku selesai dengan Asih, segera aku pulang. Sampai Rumah Kos, segera ku comot hape dan ku sms nomor guruku yag ada di hape. Hanya guru SMA yang kupunya. Itu juga gak sampai lima nomor.

*****

Tanggal 25 November tahun 2011. Kriririk… Kririririkkk… kriririrriririkkk…   Alarm pengingat mengagetkanku. Saat kulongokkan mata melihatnya, “Hari Guru” berkedap-kedip di layar hapeku. Mengimbangi nyanyian alarmnya. Segera kumatikan alarmnya dan menganti statusnya dengan “ulangi tahun depan” kemudian ku sms nomor guruku yang ada di hape. Hanya satu orang guru yang ku sms. Guru SMA.

*****

Tanggal 25 November 2012. Hari ini. Aku dah tahu kalau itu akan tiba hari ini. Bahkan aku sudah dari beberapa hari yang lalu mempersiapkan mental untuk menjalani hari ini. Meskipun tanpa upacara peringatan yang kulakukan.

Guru. Pahlawan tanpa tanda jasa. Itu yang sering kudengar. Ah, aku bahkan dah di tangga atas dalam langkahku untuk menjadi seorang guru. Insya Allah…

Aku, akan menjadi guru, berkat para guru-guruku. Tentunya. Di hatiku menjadi guru adalah suatu hal yang menakjubkan ku kira. Bagaimana tidak, dipanggil ibu oleh seorang anak yang bukan anakku. Mengajari seorang anak yang bukan anakku. Menjadi seorang pemeran dalam kisah-kisah di sekolahnya. Mendampingi masa pertumbuhannya, melihat tingkah lakunya yang selalu ada-ada saja. Memantau kemampuannya. Mengawasi bagaimana pertemanannnya di sekolah. Memikirkan bagaimana dia setelah belajar denganku, adakah dia akan memberi manfaat untuk hidupnya? Atau malah celaka yang mengenainya? Bagaimanapun, tiap kali kata “guru” mampir di telingaku selalu saja mampu menyulap darah yang mengalir di seluruh tubuhku membanjir.

Jika di sekolah, para guru yang mengabsen siswanya. Jika di sekolah, para guru memanggil nama siswa satu persatu untuk mengecek kehadirannya. Kali ini gantian aku yang mengabsen mereka.

Aku belajar secara beneran dimulai dari usia sekitar lima tahun. Bukan di sekolah formal, tapi di tempat ngaji. Pak Iqbal. Hadir dengan tugas suci, menjadikan aku dan teman-temanku, anak-anak yang soleh dan solehah. Guru ngaji waktu masih di Kalimantan Barat. Kata mamah beliau itu ustad yang ditugaskan sama pemerintah untuk ngajarin anak-anak transmigrasi di desa tempatku tinggal. Orangnya putih, ganteng menurutku. Yaa, menurut pandangan mata anak usia lima tahunan lah…

Aku ingat, dulu ikut ngaji diajak oleh teman satu er –te. Nyai, Onyas dan yang lainnya. Beberapa kali berangkat aku hanya bisa nangis, aku gak mau ngaji ke Beliau. Aku takut. Ah, aku begitu penakutnya sama seorang laki-laki dewasa. Dulu. Hal itu diadukan teman-teman ke Bapakku. Bapak gak marah. Malah besoknya ku diantarnya ngaji. Bapak nembung sama Pak Iqbal, menitipkan aku ngaji. Bapak meminta Pak Iqbal menggajari aku. Dan mungkin itu sumber kekuatan yang menjadikan aku berani berhadapan dengan Beliau. Dan dengan lancar ku eja huruf demi huruf hijaiyah yang beliau ajarkan padaku. Bahkan aku mendengar kabar, bahwa aku adalah murid ngaji kesayangan Pak Iqbal. Karena hanya aku yang orang tuanya sampai bilang baik-baik sama Pak Iqbal supaya anaknya diajarin ngaji. Kalau yang lainnya ngaji asal yang penting mau datang aja. Gitu, kabar yang kudengar. Allah, itu semakin membuatku semangat ngaji.

Suatu saat aku mengetahui sedikit tentang beliau. Beliau sosok yang galak. Bukan sama murid ngaji. Tapi sama istrinya. Dalam satu kali kami (aku dan teman-teman) lagi ngaji. Pak Iqbal bertengkar dengan istrinya. Masya Allah….!!! satu potong kayu bakar terlempar ke tengah rumah. Yang di susul dengan tangisan istrinya (aku lupa namanya). Dugaan aku dan teman-teman, Pak Iqbal pasti mukul istrinya. Hari itu kami tegang. Ngaji dengan wajah tertunduk. Istri beliau yang ngajarin. Pak Iqbalnya ntah ke mana. Mungkin menenangkan diri. Kejadian itu sangat membekas dalam ingatanku. Bahkan setelah 15 tahun berlalu. Aku ceritakan hal itu sama mamah. Tapi mamah gak komentar apa-apa, seingatku. Ah, kejadian yang kemudian mengajariku bahwa suatu hal yang biasa kalau suami dan istri bertengkar dalam berumah tangga. Hanya saja mesti pandai bersikap dalam meluapkan emosi.

Ada satu hal lagi yang masih kuingat dalam masa-masa ngaji ke Pak Iqbal. Ada satu anak laki-laki yang ngaji sama-sama aku juga. Dia dah gede. Aku sebutnya dah bujang. Tapi ngajinya masih pengenalan huruf hijaiyah mulu. Gak naik-naik. Bahkan kalah sama aku. Aku juga ceritakan hal itu sama mamah.

Pak Iqbal punya anak dua. Dua-duanya laki-laki. Satu bawaan waktu sebelum Trans, satunya lahir di Trans. Yang paling gede namanya Muhammad Askah. Yang kedua namanya unik. Bukan “Unik” namanya. Tapi emang unik, ya unik. Lucu gitu. Dalam salah satu hari waktu ngaji, bapak memperkenalkan aku dan temen-temen ke anak keduanya. Namanya Askah Gilang Kalimantan. Kata Pak Iqbal, Askah itu nama kakaknya. Gilang itu nama si bayi. Dan Kalimantan menandakan kalau dia lahir di kalimantan. Jadi arti namanya begini, “Adiknya Askah namanya Gilang lahir di Kalimantan.” Kami semua ketawa. Bener-bener nama yang unik, lucu.

Tahun 1996 aku pindah ke Kalimantan Tengah. Bukan pindah, ketang. Tepatnya pulang. Aku masuk TK tahun 1997. Ketemu guru baru. Kali ini perempuan. Dua orang. Aku hanya ingat satu namanya saja. Ibu Paryati. Itu juga gak jelas orangnya yang mana. Ntah guru satunya, ntah guru yang ku maksud.

Ini mengenai ibu guru yang ku maksud. Ibu di TK rambutnya keriting, panjang. Ah, aku selalu pengen menjadi seperti beliau. Ramah. Sabar. Penyayang. Suaranya merdu. Dan banyak lagi dech yang menjadikan aku pengen kaya beliau. Beliau punya kalung emas yang bagus banget. Kalung yang sangat kukagumi. Sampai-sampai ketika aku akan mendapatkan kalung pertamaku, aku katakan sama mamah kalau aku pengen kalung yang kaya punya ibu guru. Tentu saja kalimat polosku mengundang bingung mamah dan penjual emasnya.

“Kalung yang kaya gemana?” mamah dan penjual emas bertanya

“Yaa, kalung yang bagus,” kataku, bingung juga. “Pokoknya yang bagus, yang kaya punya bu guru..” Hihihi..

Sekolah TK penuh dengan nyanyian. Aku yang memiliki suara mirip Doel Sumbang (penyanyi favorit mamah-dulu-). Serak dikit kaya Iwan Fales. Sangat tidak menyukai acara konser harian di kelas. Aku ingat, bagaimana dulu aku berusaha keras menghafal Pancasila bareng mamah. Dan aku selalu ngeles minta hafalin Pancasila aja kalau disuruh nyanyi di depan kelas. Satu dua kali aku bisa aja menghindar. Lama-lama, aku gak bisa lagi. Aku harus tetep nyanyi. Jadilah sering terdengar suara yang kalau diteliti untuk suatu makalah bisa di dapat kesimpulan suara itu bisa bikin gendang telinga robek-robek. Siapa pemilik suara itu. Aku, yuyun Sumarni.

TK satu tahun. Tahun 1998, aku masuk SD. SDN SUBUR INDAH. Kelas satu. Guru kelasnya Pak Ihsan. Orangnya Item abis..!! Tapi juga manis. Kaya-kaya gula aren gitu ibaratnya. Kurang tahu dari suku mana. Agamanya islam. Waktu aku kelas satu, anaknya bapak masih satu. Kalau gak salah namanya Anhar. Bapak sangat jago matematika. Di kelas satu aku dapat NoL dua kali. Gak paham sama materinya. Malu. Takut. Jadi satu. Menghasilkan butiran air mata yang menganak sungai di pipiku. Menghasilkan kebohongan pertamaku, sama bapakku di rumah. Ku katakan kalau penghapus pensilku kurang bagus, jadi gak bisa bersih menghapusnya. Masih hitam-hitam jadi Pak Ihsan gak bisa melihat jawabanku dengan jelas. Tentang penghapus emang benar adanya. Namun ada hal lain yang aku gak bilang sama bapak, kalau aku sebenarnya gak paham apa yang dijelaskan sama Pak Ihsan. Dan penghapus yang kurang bagus mendukungku untuk tidak merasa bersalah seratus persen. Pak Ihsan galak. Itu imej yang tercipta di hati aku dan teman-teman. Teriakannya lantang. Luar biasa.

Kelas dua, Pak Anjas. Pak Anjas dulu pendek, semi botak gitu. Kalau gak suku dayak ya suku banjarlah. Pokoknya suku asli Kalimantan, kalau gak salah. Agamanya kurang tahu, apa. Kurang memiliki ingatan kenangan sama beliau. Yang kutahu, Pak Anjas bisa pengobatan alternatif. Soalnya salah satu pamanku pernah berobat ke beliau.

Kelas tiga sama Pak Ihsan lagi. Allah.. Pak Ihsan sayang sama aku… Dampingi aku terus.

Semakin mengenal bapak guru yang satu ini. Semakin kagum. Dan akhir-akir ini kalau keingetan beliau suka gerimis di mataku. Apa kabar, Pak???

Guru yang lain di SDN SUBUR INDAH yang gak sempat ngajarin aku adalah Bu Sri, Pak Rosidi dan Pak Budi. Itu aja yang kuingat.

*****

Kelas empat, aku pindah ke Parenggean. SDN Cempaka Putih. Ketemu sama Pak Isar. Bapak guru yang bangga namanya mirip dengan Pak Ihsan (ketika aku salah pengucapan jadi Pak “Isan”), guruku sebelumnya. Tapi Pak Isar malah mirip sama Pak Anjas secara fisik, menurutku. Hanya bedanya Pak Isar dengan humornya yang gak ada abis-abisnya. Mewarnai kelas dengan candaan yang selalu segar, walaupun di siang hari. Pak Isar jago banget olah raga. Emang kayanya spesialis guru olah raga dech…

Kelas lima ketemu sama Pak Wito. Suwito nama lengkapnya. Jawa Banget. Guru yang T.O.P dech… Bapak yang bener-bener mengayomi keempat siswanya. Dengan aku sebagai satu-satunya murid perempuan di kelas. Tapi tidak pernah dimanjakan, juga tidak ada intimidasi di kelas.

Kelas enam ketemu Pak Gulvin. Asli Dayak. Salah satu motivatorku untuk lanjut sekolah. Bapak yang gak bosan mengingatkan kalau “Pendidikan itu penting”. Beliau Pak Guru yang memotivasiku “Perempuan gak cuma untuk di dapur. Bahkan kalau menikah pun toh perlu pendidikan. Belajar bagaimana ngurus rumah, ngurus suami, anak, masak dan lain sebagainya.” Ketika seorang teman yang dari Jawa Barat menjawab, “Pak kalau orang sunda, katanya yang penting dah bisa nyambal. Perempuan gak usah sekolah tinggi-tinggi.” Temanku ini cowok, yang bilang gitu. Lalu Pak Gulvin bilang, “Lah.. Makan sambal terus kan gak nyaman. Perlu sayur juga lauknya. Untuk bisa masak sayur sama masak lauk yang enak kan perlu belajar juga..” semua diam. Terbungkam. Kecuali aku. Aku ternganga karena pesona ucapannya..

Lebih dari beliau di atas. Ada seorang guru perempuan yang sangat besar jasanya padaku selama di SDN Cempaka Putih. Ibu Misyani. Ibu yang cantik luar biasa. Sungguh, hidung terbagus yang pernah kulihat, ada padanya. Ibu Guru Agama. Ah, ibu… Banyak banget salahku sama ibu. “Maafkan semua salah Yuyun, Bu…”

Guru lain di SD Cempaka Putih, ada Bu Sariana. Istrinya Pak Gulvin. Ada Bu Maria, dengan gurat wajah anggun dan sikap keibuan yang luar biasa.

*****

Tahun 2003 masuk SMP N 3 Parenggean.

SMP beda banget. Dapat meja dan kursi sendiri-sendiri. Gurunya per mata pelajaran. Wali kelas juga ada tersendiri. Benar-benar hal yang baru.

Kelas satu, 1B wali kelasku ibu Sugiarti. Ibu yang seksi abis (sebelum akhirnya berkerudung sekitaran waktu aku kelas dua akhir atau kelas tiga awal). Guru bahasa Indonesia. Sangat menyenangkan belajar bahasa sama beliau. Beliaulah salah satu yang memotivasi aku untuk selalu menulis. Menulis dan menulis. Apa aja di tulis pokoknya.

Ibu, yang selalu menyertai aku dan teman-teman sampe kelas dua. Kami sedih, bu… gak diajarin ibu lagi di kelas tiga. Sempat down. Terima kasih, ibu selalu menyemangati kami. Walau akhirnya aku dan teman-teman down lagi, dan tambah lagi karena kepindahan ibu.

Kelas dua, 2B ada Pak Manan. Abdul Manan. Sekaligus guru Sejarah dan Ekonomi. Bapak yang mengajari aku banyak hal. Bapak yang mengajak aku jalan-jalan ke masa Dinosaurus sampai masanya Indonesia merdeka. Bahkan bapak guru ter-up date yang menginfokan banyak hal tentang dunia di masa terkini.

Kelas tiga, 3B ada Pak Ahmadi. Guru olah raga. Pak Guru yang selalu ingin membagikan banyak ilmu dengan para murid tercintanya. “Maaf, Pak.. sering meremehkan Bapak. Sering males ke pelajaran Bapak”. Beliau yang mampu menyentuh hatiku dengan perhatian diam-diamnya kepada murid-murid bandelnya di kelas 3B. Sungguh, satu lilin bahkan mampu mencairkan salju di puncak Himalaya. Kupikir itu adalah ibarat yang pas untuk Pak Ahmadi. Satu kejadian yang akhirnya membuat aku tahu, aku sadar kalau “Pak Ahmadi itu sayang sama anak-anak 3B. Pak Ahmadi itu peduli sama anak-anak 3B. Pak Ahmadi itu perhatian sama anak-anak 3B. Hanya saja beliau kurang bisa menyampaikannya kepada anak-anak 3B.”

Di SMP ada Bu Mutma’inah (mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan nama). Ibu yang subur. Dengan kerudung lebarnya. (sekarang aku pun berkerudung kaya ibu gitu loh…) Ibu guru biologi. Guru favorite waktu kelas satu. Sangat ingat komentar ibu guru yang satu ini waktu kelas dua, di lab biologi. Waktu materi tentang fotosintesis. Di suruh bawa tanaman kacang tanah sekitaran tiga atau lima pot gitu, lupa lagi. Ibu marah-marah. Bukan hanya karena banyak yang gak bawa, tapi karena hal lainnya….

“Pelajaran biologi buat …. (gak ingat siapa nama yang disebut ibu) oke kalau materi. Males kalau praktek.  Pelajaran biologi buat Yuyun. Suka ngantuk kalau materi. Semangat kalau praktek. Pelajaran biologi, gak masalah mau materi maupun praktek kalau buat Dian. Oke-oke aja dua-duanya. Pelajaran biologi buat … (gak inget juga siapa namanya) baik materi maupun praktek sama-sama males..!!!” kalimat ibu yang menggelegar membuat aku menciut mendengarnya.

Satu lagi ciri khas ibu yang kuingat, “Masa penjelasan ibu Mutma’inah dengan suara yang menggelegar kaya petir gini, masih saja ada yang kurang dimengerti…!!” Hehehe… kadang otak kami lelet bu…

Bu Emelyn (mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan nama). Guru matematika kelas satu dan di kelas tiga, setelah pak Nandar gak ada. Dan Fisika waktu kelas satu. “Maaf, Bu.. Saya sering ngantuk di pelajaran itu. Bukan karena pelajarannya yang gak asyik. Tapi karena emang sayanya aja yang udung..” Sempat ngajar biologi sebentar, waktu bu Mut cuti melahirkan.

Ada Pak Kisli, guru PPKN waktu di kelas satu, dua, dan tiga. Suami Ibu Emelyn. Juga guru bahasa inggris waktu di kelas satu. Maaf pak, sering menghitung “ya”-nya bapak selama pelajaran. Saya cuma ikutan teman-teman aja loh, pak. meskipun cuma sekali, namun begitu, hal tersebut merupakan tindakan yang sangat ku sesali. Maaf pak..

Ada Bu Eka. Guru Geografi waktu kelas satu, dua, dan tiga. Dan guru bahasa Inggris waktu kelas dua, dan sebentar waktu di kelas tiga. Ibu seorang perempuan yang  Jowo banget. Cantik. Lembut. Sangat bersihan. Pinter lagi. Dan kern dech pokoknya..

Ibu Puji. Hehehe… ibu guru bahasa Indonesia yang satu ini, paling di takuti di kelasku waktu kelas satu. Beliau guru pertama yang menjemur kelasku di salah satu Seninnya bulan Juli yang sangat terik. Ngajar bahasa Indonesia waktu kelas tiga. Maaf bu, kadang suka membandingkan ibu dengan Bu Sugi. Ibu yang baru aku dan teman-teman ketahui di kelas tiga, bahwa betapa baik hatinya beliau. Betapa selama ini, beliau selalu belain anak 3B di saat semua guru bela anak 3A.

Ada Pak Nandar. Suami ibu Sugiarti. Pakar Matematika di SMP. Kalau muridnya gak mudeng-mudeng, kapur bisa berubah jadi bom Molotov. Hehehe… Aku dan teman-teman yang otaknya sering lowbat atau Bapak yang terlalu pintar ya??? Sama kaya bu Sugi. Beliau juga pindah waktu aku kelas 3.

Ada ibu Trisna. Hmmm… Nama ibu mengingatkan saya pada teman SD waktu di Katingan. Ibu guru bahasa inggris waktu kelas 3. Beliau sangat jago. Mampu membakar kelas 3B dengan bahasa Inggrisnya. Suara Ibu sangat merdu, saat menyanyikan lagu “Mother How are You today”nya Maywood diiringi dengan sedikit gerimis di wajah ibu. Kami bingung. Lalu mengalirlah cerita, ketika pertama kali ibu nyanyi lagi itu. Di kelas bahasa inggris. Waktu ibu masih ngajar di jawa, setelah nyanyi lagu itu datang kepala sekolah ke kelas ibu. Mengabarkan bahwa ibunya ibu telah meninggal. Kira-kira itu yang dapat ku tangkap dalam kisah yang ibu ucapkan dalam bahasa inggris ibu yang sangat Jreng, yang terdengar di telinga seorang anak kelas 3B yang asli Indonesia totok banget ini.

Pak Anwar. Guru agama. Dan sempat ngajar ekonomi sedikit waktu kelas tiga, yang kemudian kembali ke Pak Manan. “Yuyun ini pintar ya…” itu sedikit komentar bapak waktu ujian lisan agama sama bapak. waktu kelas dua, kalau gak salah. Aku hanya bilang, “makasih pak..” ah… andai saja saat itu aku dah tahu, kalau pujian adalah panah syetan. Aku gak akan mengucapkan terima kasih. Apapun itu, ada kebanggan tersendiri di saya buat bapak.

saat aku kelas dua, bapak bilang “Bapak udah sekitar 10 tahun menduda.” Bukan curhat. Hanya saja sedikit kisah untuk mengusir ngantuknya anak 2B. Aku dah tahu bapak duda sejak aku kelas satu, dengan dua orang anak pula. Temen yang satu desa dengan Pak Anwar, cerita sama aku. Katanya istrinya ninggalin dia waktu anak-anaknya masih kecil. Ah, ntahlah kebenarannya, namanya juga gosip. Namun begitu, aku tetep bangga sama bapak. Dengan motor antiknya. Sungguh ketangguhan yang luar biasa. Setia mengajarkan aku dan teman-teman ilmu agama. Semoga menjadi amal jariyah buat bapak kelak.

Ada Bu Yeni. Guru Fisika di kelas dua dan kelas tiga. Melalui ibu, I Know a little about Physics very well.

Untuk Pak Parjo. kepala sekolah waktu periode aku. Makasih, udah membawa SMP N 3 Parenggean menjadi lebih baik.

Pak Imam dan Bu Dyah. Hadir terakhir. Waktu aku kelas tiga. Buat Pak Imam. Makasih satu waktu bapak mengajarkan saya kejujuran. Akan saya ingat. Untuk Bu Diah dan Pak Imam, saya menyayangkan Bapak dan Ibu bercerai.

*****

Tahun 2006 aku masuk SMA. SMAN 1 Parenggean.

Kelas X ruang 2. Dengan wali kelas yang luar biasa, Ibu Rina. Sekaligus guru matematika. Seorang yang sabar menghadapi Badung-nya aku dan teman-temanku yang beralih dari masa remajanya anak SMP menuju setengah dewasanya anak SMA. Ibu yang sabar ketika aku dan teman-teman dengan pedenya melongok ke jendela melihat rombongan truck baru berwarna hijau, meninggalkan ibu di depan kelas dengan penjelasan mengenai persamaan dan pertidaksamaan linear. Ibu yang hanya senyum. Senyum dan senyum. Membuat aku dan teman-teman merasa bersalah akut. Ibu ngajar kimia, yang waktu aku dan teman-teman di kelas dua. Aku dan teman-teman yang lola nangkap pelajaran malah ibu yang aku dan teman-teman salahkan. Aku dan teman-teman minta ganti guru. Sangat berani. Ya, tindakan sangat berani. Berani bodoh. Sangat wajar kalau ibu marah. Maaf ya Bu…

Ibu Puput Sari Wulan. Wali kelas waktu kelas dua dan kelas tiga. Kelas 2 IPA dan 3 IPA. Ibu, yang aku dan teman-teman rada gak suka. Kenapa?? Karena ibu gak ngurusin anak IPA. Coba, berapa kali ada kegiatan di sekolah ibu malah tinggalin??

Waktu kelas dua. Saat menjelang perpisahan anak kelas tiga. Kelas lain sibuk sama wali kelas masing-masing memikirkan mau menampilkan apa. Bagaimana tindakan ibu ke anak 2 IPA?? Alhamdulillahnya ada yang mau menerima anak 2 IPA. Ibu Hastri berbaik hati menolong anak 2 IPA. Kami ada drama untuk perpisahan anak kelas tiga. Jangankan waktu latihan peduli, wong malah waktu tampil aja ibu malah ke Sampit. Meskipun aku gak jadi pemeran utama, aku kecewa sama sikap ibu. Dan dari apa yang teman-teman obrolkan, aku tahu. Aku gak sendiri.

Salah satu tindakan anak 2 IPA yang menuai protes guru-guru adalah ketika aku dan teman-teman nempelin kertas warna warni di kelas. Yang membuat silau mata. Mana komentar ibu?? Gak ada. Guru lain malah lebih peduli dengan 2 IPA. Nyatanya omelan malah datang dari mereka. Kelas jadi kotor, kata mereka.

Waktu Agustus di kelas 3. Ada berbagai lomba. Mulai dari lomba bersih kelas sampai berbagai macam olah raga. Ketika kelas lain bergotong-rotong sama-sama membersihkan dan menghias kelas. Anak 3 IPA malah harus sampai lempar-lemparan meja ketika diskusi kelas mau diapain. Saling bentak. Saling… ah, kacau. Ketika diharuskan tiap kelas mengikuti pertandingan olahraga. Anak 3 IPA kekurangan pemain untuk beberapa lomba, kaya sepak bola, voli. Untuk cowok dan ceweknya. Aku dan teman-teman harus saling suruh. Saling marahan untuk meminta agar mereka mau ikut. Ketika pertandingan dimulai. Gak ada pendukungnya. Karena kelas amburadul. Pada mencar. Coba kalau kelas lain, wali kelasnya sampai turun ke lapangan kasih suport sama mereka. Muram wajah aku dan teman-teman, kala itu. Aku masih ingat.

Kalau boleh dibilang, aku dan teman-teman sakit hati dengan cara ibu memperlakukan anak 3 IPA. Ibu, di mana saat 3 IPA perlu ibu?? Ibu ke sampit, kata ibu beberapa hari kemudian. Puih… beberapa wajah tanpa muka. Karena buang muka ketika melihat ekspresi ibu.

Saat-saat itu, saat-saat aku dan teman-teman genting. Aku melihat satu tekad di wajah semua teman-teman. Meskipun bibir saling terkatup. Tapi hatilah yang berbicara. Kelas kita harus jadi kelas yang kern. Dan benar saja. Lomba kebersihan kelas juara. Lomba olah raga juga banyak yang dimenangkan sama 3 IPA. Ada voli putri, pastinya. Dan aku lupa yang cowok menang apa.

Sikap dingin ibu. Yang lama-lama aku mengerti, mungkin begitu lah cara ibu mendidik 3 IPA. Apapun yang dah ibu lakukan ke kelas IPA. Makasih bu… karena ibu, aku akhirnya begini. Dan bentar lagi aku pun akan jadi guru… Kabar terakhir yang kudengar, bu Puput dah jadi wakasek kurkulum. Selamat bu…

Ibu Sri Yuniarti. Ibu guru bahasa Indonesia waktu kelas satu dan dua. Suka sama sikap jutek ibu. Menjadikan ibu sebagai guru yang unik. Walaupun jujur, waktu kelas satu. Selalu tegang kalau belajar sama ibu. Alhamdulillahnya ibu melembut waktu kelas dua.

Ibu Sri Suanti. Ibu yang cantik. Ibu guru bahasa indonesia. Bener-bener ciri khas guru bahasa indonesia. Lembut. Gak gampang marah. Banyak senyum…

Ibu asih. Ibu BP waktu kelas dua. Walau sebentar, sungguh bu.. banyak pelajaran yang aku dapat dari ibu. Mengenai remaja dan pubertas dan dengan segala aksesorisnya.

Ibu Hastri. Ibu guru matematika waktu kelas dua dan tiga. Makasih bu, karena ibu aku jadi suka matematika. Cara ibu ngajar sungguh renyah. Saat itu. Masih saja aku ingat, aku dapat nilai 12,5 untuk ulangan logaritma. Padahal nilai tertinggi adalah 10. Kata ibu, yang 2,5nya ditabung. Sejak saat itu aku suka logaritma. Eh, enggak ketang. Hanya saat itu aja sukanya. Di kelas tiga ibu ngajar fisika, sungguh bu.. gak mudeng sama apa yang ibu sampaikan. Tapi aku gak menyalahkan ibu ketika UAN fisika dapat 6,0 malah Alhamdulillah banget. Lulus.

Jika Laskar Pelangi punya Bu Mus. Bu Muslimah. Aku dan teman-teman di SMA N 1 Parenggean juga punya Bu Mus. Ibu Musini. Ibu guru PPKN. Ibu paling lembut. Paling sabar. Gak pernah marah. Dan sejarah SMA seharusnya mencatat rekor baru, bahwa anak 2 IPA (kelasku) pertama kali membuat ibu Mus marah.

“Pertama kali dalam sejarah IPAnya SMA sini, anak IPAnya nakal kaya kalian.” ucap ibu dengan bersungut-sungut. Aku dan teman-teman terdiam. Sungguh, ucapan barusan mengirimkan beberapa ampere arus yang menyengat aku dan teman-teman.

Ibu Wahyu Nurdayati. Apapun itu, ibu terbaik dech… Jika hangatnya pagi karena sinar mentari. Jika merdunya pagi karena nyanyian sang burung. Jika sekuntum mawar mekar karena embun di pagi hari. Jika laut berkilau karena mutiara di dalamnya. Maka ibu lebih dari itu semua. Meskipun aku punya sepuluh mulut aku gak bisa bilang apa-apa. Saking luarbiasanya ibu.

Pak Kaslan juga..

Apapun orang bilang di luar sana. Itu adalah motivasi buat kita. Itu wejengan bapak di depan LabKom. Sebagai wakasek kurikulum, sebelum bapak akhirnya menjadi kepala sekolah di Kuayan dan meninggalkan SMA. Diskusi kita yang sebentar tapi dalam. Lebih dalam dari Lautan Hindia. Lebih tinggi dari langit. “karena diatas langit ada langit” itu judul sinetron yang waktu SMP sangat aku sukai. Namun menurutku memiliki makna yang bukan hanya judul film dooanggg..

Pak Kus. Guru olah raga. Sekaligus wakasek kesiswaan. Banyak air mata aku waktu kelas dua yang tertumpah karena kata-kata bapak. sikap bapak. ntah lah, kayanya bapak kurang suka aku jadi ketua OSIS. Terlebih dari itu, aku juga kurang suka (akhirnya). Namun harus aku jalani kan pak?? Kata bapak, “kalau gak mau menjalankan kenapa bikin proker? Seharusnya dari awal gak usah..!!” emang, benar. Seharusnya dari awal gak usah. Bapak dengan jogja-nya. Kadang membuat telinga serasa dijewer. Apapun itu, makasih buat bapak. berkat bapak, berat badanku terkontrol selama SMA. Coba sekarang?? Ampun melar terus kaya balon. Melendung.

Pak santo. Guru Fisika di kelas satu dan kelas dua. Salut sama bapak. bukan dari fisika tapi bisa ngajar Physics very well. Aku aja dan 3 tahun bergelut dengan fisika, ketika maju PPL 1 yang hanya 15 menit langsung di pre memory-in sama pembimbing dan gantian dia yang PPl 1 selama 1 jam. Khusus untuk aku.

Pak heri, guru tikom di kelas tiga. Terima kasih atas motivasinya. Membuka wawasan. Kasih tahu betapa cepatnya teknologi maju. Membuat aku sampai sekarang tetep semangat merangkak mengikuti teknog. Dan alhamdulillah jadi gak gaptek amat kaya dulu. Kalau dulu… ih, malu sangat kalau ingat..!!

Bu Meli, ibu guru ekonomi waktu kelas 1. Suara ibu sangat merdu. Membuat aku selalu pengen tidur. Kadang aku gak bisa bedakan antara ibu menjelaskan atau ibu menyenyi. Asli, enak banget suara ibu.

Pak Ali Badrun. Pak guru agama, satu-satunya di SMA. Kutemukan sosok mirip bapak di kulaih ini. Mr. Dr. ANDI BUSTAN, M.Si. hihiihi… ngajar sebentar, “kringggg…” atau bunyi sejenisnya yang berasal dari hape. Pebisnis ulung. Hebat..!! Sukses ngajar, sukses bisnis. Sangat memotivasi.

Pak weldi. Guru bahasa inggris. Bagaimanapun. Thank you very much, Sir..

Pak Sabar, guru sejarah waktu kelas satu dan kelas tiga. Semoga Arwahnya diterima di sisi Allah. Di tempatkan di tempat yang mulia. Semoga amal baiknya diterima Allah dan dosanya di ampuni. Selamat jalan, Bapak.

Untuk guru SMA yang lainnya. Pak Mulyadi, waktu kelas satu ngajar sosiologi. Dah pindah waktu aku kelas dua.

*****

Tahun 2009 aku kuliah. Di Universitas Palangka Raya. Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Jurusan MIPA. Prodi Fisika. Suatu babak baru dalam hidup aku. Gak ada seragam lagi. Gak ada piket lagi. Gak ada upacara tiap hari Senin. Gak ada penambahan poin kalau terlambat atau melanggar aturan. Sesuatu yang akhir-akhir ini sangat kurindukan.

Aku, sekarang bergelar mahasiswa. Dengan dosen PA Pak Bustan. Beliau sangat hebat memotivasi. Kalau aku merasa, salah satu impainnya adalah menjadikan guru-guru fisika KALTENG sebagai guru yang T.O.P gitu. Tiap motivasinya selalu menjurus ke situ. Insya Allah, saya akan menajdi salah satu perwujudan impian bapak. Impian yang selalu bapak dendangkan.

Pak Har. Pak Suhartono. Dengannya kelas menjadi sangat menyenangkan. Dengan bapak, fisika menjadi sesuatu yang menakjubkan. Sesuatu yang memiliki daya tarik yang lebih kuat dari kutub magnet manapun. Kekuatan untuk menjadikan tiap mahasiswa geregetan untuk mempelajarinya. Karena Pak Har, aku bertahan di fisika ini.

Bu Titik. Dosen yang patut di contoh kegigihannya dalam membagikan ilmu yang di punya. Ibu, yang selalu tampak geregetan untuk berbagi ilmu. Sangat pengen kelak kalau dah jadi guru kaya ibu Titik. Ibarat teko, yang selalu berusaha mengisi gelas-gelas kosong. Itulah ibu.

Bu Fenno. Fenno Farcis, nama lengkapnya. Ingat waktu SBM. Komentar ataupun kritik yang sangat membangun untuk menjadi guru profesional. Masih tercatat dengan rapi di laptop, di buku dan juga di otakku. Selama gak lagi lowbat catatan itu muncul dalam memoriku. Dengan jelas. Mengajak aku untuk semangat. Semangat untuk segera menjadi guru profesional. Seperti yang ibu bilang.

Ibu Anggi. Luvia Ranggi Nastiti. Ibu sangat cantik juga pintar. Memotivasi aku banget. Walau aku gak cantik, setidaknya aku harus pintar.

Pak Gun. Gunarjo S. Budi nama lengkapnya. Dengan bapak, fisika adalah bahasa sehari-hari yang dekat dengan urat nadi kita, sebenernya. Bahasa yang ringan. Tanpa rumus, sama sekali. Pengen tahu apa jadinya fisika tanpa rumus?? Kuliah aja sama pak Gun, di jamin akan ditemukan fisika dari semilir angin. Akan ditemukan fisika dalam segarnya air es yang aku sedot dari gelas, dari paman penjual pentol di depan kampus. Sama Pak Gun aku akan menemukan fisika seindah pelangi sehabis hujan di siang hari yang terik. Sama pak gun, aku menemukan fisika serenyah kerupuk kulit sapi. Hehehehee…..

Pak Komang. Hadir dengan metode mengajar yang mantap. Serasa pengen cepet-cepet jadi guru beneran dan meniru apa pak komang lakukan di kelas.

Pak Nawir. Disiplin yang luar biasa. Terencana, terekam dan terukur. Tiga mantra sakti bapak.

Pak Saulim. Cara mengajar yang unik. Menjadikan kelas selalu lucu. Meskipun gak lagi melucu. Semangat Pak..!!!

Pak Lukman, hm…. Bapak aja bingung. Apa lagi saya…

Pak Theo. Putra daerah yang hebat..!!

Dan dosen-dosen dari prodi maupun fakultas lain yang pernah ngajar.

Ada pak satrio. Ngajar agama. Sangat bersyukur sempat diajarin sama bapak. sosok alim yang luar biasa. Semoga Allah telah menyiapkan istana termegah buat bapak.

Pak Aini. Ngajar agama juga, setelah Pak Satrio. Sama Pak Aini suka gak mudeng. Ini belajar agama apa PPKN???

Pak Khamid. Ngajar pengantar pendidikan. Sungguh, kelas aneh yang pernah kudapat.

Dan dosen lainnya dech…

Aku banyak cerita tentang guru-guru aku. Ada guru ngaji. TK. SD. SMP. SMA. For closing, ada satu guru yang sangat berjasa dari yang sangat berjasa untukku. Top of the Top. King af the King. Guru pertamaku. Mamah. Iya. Mamah guru pertamaku. Guru pertama yang ngajarin bagaimana melihat dengan kedua mata. Aku pun mulai belajar dengan mata kirip-kirip  melihat dunia ini. Mamah adalah guru pertama yang ngajarin aku minum. Ngajarin aku makan. Ngajarin aku pake sendok. Ngajarin berdiri. Ngajarin bangun. Ngajarin ngomong. Ngajarin buang ingus. Ngajarin cebok. Dan ngajarin banyak hal yang sampai kapanpun dengan sebesar apapun memori komputer menyimpan tulisan mengenai data-data apa yang dah mamah ajarkan ke aku, gak akan pernah muat.

Untuk SEMUA GURU DI SUNIA INI, SELAMAT HARI GURU…!!!!!!!!!!

Selesai di Palangka Raya hari Minggu tanggal 25 November 2012 at 21:21

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s