Surat Cintaku

Di tulis dengan hitungan detak jantung dan hembusan napas yang memburu.
Di salah satu sudut bumi Allah, palangka raya.

Kepada engkau yang aku cintai karena Allah Subhanahuwata ‘ala
Di kolong langitNya.

Sodariku,
Sabtu dua puluh tiga Juni dua ribu dua belas Allah mempertemukanku denganmu.
Aku tahu sebelumnya pun kita telah pernah saling bertemu.
Lebih sering, malah.
Namun karena kealpaanku, baru saat itu aku memandangmu dengan jeli
Memandang bukan hanya melalui bulatnya kedua bola mataku namun juga dengan hatiku

Sodariku,
Ah..
Terlalu pede aku menyatakan kalau aku mencintaimu
Sementara aku selama ini alpa terhadapmu.
Namun, aku sungguh jujur.
Aku mencintaimu.
Aku telah jatuh cinta padamu.

Sodariku,
Inilah buktinya.
Inilah surat cintaku padamu.

Sodariku,
Betapa Allah telah menciptakanmu, menciptakanku dengan penuh keindahan.
Betapa Allah dengan kemahasempurnaanNya
Telah menjadikan kita sebagai perhiasan terindah di muka bumiNya.
Insya Allah.

Sodariku,
Dalam tarian jemariku, lahir satu cinta untukmu di otakku.
Ini semua tentang kita.
Aku dan kamu.
Kita.

Sodariku,
Betapa selama ini ikrar kita satu.
Ashadu alla ilaha illallah, wa ashadu anna muhammadan rosulullah.
Ikrar kita satu.
Aku,
Kamu,
Kita,
Bersaksi bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah.
Dan aku,
Kamu,
Kita,
Bersaksi bahwa Nabi Muhammad benar utusan Allah.

Sodariku,
Tuhan kita satu.
Allah.
Rabb semesta Alam.
Rasul kita Muhammad solallahu alaihi wasallam.
Al quran kita pun satu. Ia pedoman hidup kita. Di sertai al hadits sebagai pelengkapnya.
Jalan hidup kita pun sama, Islam.
Lihat.
Betapa banyak yg menjadikan kita satu.
Betapa banyak yang sama dari diri kita.

Lalu, Sodariku..
Bagaimana bisa, kita saling mengatakan kau bukan golonganku?
Ku bukan golonganmu?
Kau bukan bagianku?
Ku bukan bagianmu?
Bagaimana bisa kita saling mengatakan itu?
Setelah semua ikrar kita,
Setelah solat kita,
Setelah puasa kita,
Setelah zakat kita,
Setelah haji kita.
Setelah semua hal yang sama dari kita.
Setelah semua hal yang menyatukan kita

Sodariku, sebatang pohon yg menaungi kita sore itu tiba-tiba ia terlihat jernih.
Tembus pandang di mataku
Ia menjadi cermin untukku.
Untukmu juga kurasa.

Sodariku,
Ku katakan lagi ini semua tentang kita.

Sodariku,
Kalau lah diambil ibarat, rasanya tak usah jauh memilih kata.
Biarkan pohon yang menaungi kita sore itu berbicara.

Sodariku,
Kalau kau ingin menjadi akarnya.
Jadilah akar yang kuat, akar yang tajam namun lembut selamanya.
Dan biarkan aku akan menjadi sampah busuk yang akan menjadi lumbung untukmu
Memberimu stok energi untuk tetap menjadi gagah.

Sodariku,
Kalau kau ingin menjadi batangnya, jadilah batang yang kokoh.
Jadilah batang yang kuat, batang yang tangguh.
Dan biarkan aku menjadi daun-daun kecil yang menumpang hidup di dahanmu.
Namun akan aku masakkan nutrisi terbaik di dapur fotosintesisku

Sodariku,
Kalau kau ingin menjadi sekuntum bunganya,
Jadilah bunga yang indah, mekarlah dengan sempurna.
Sebarkan harummu, tebarkan sarimu, rekahkan kelopakmu.
Dan izinkan aku disini, menjadi setitik duri
Kecil dan tajam.
Biarkan aku disampingmu, biarkan aku menyertaimu.
Biarkan aku menjadi pelindungmu.
Menghalau kumbang-kumbang jalang yang tergoda menghisap madumu tanpa permisi

Sodariku,
Bagaimana bisa kita bilang, kita bersimpangan
Sementara jalan kita satu.
Dalam jalan dakwah, jalan terbaik. Jalan para nabi
Bagaimana bisa, arah kita bilang berlawanan sementara kita semua mengarah ke surgaNya.

Sodariku,
Biarkanlah aku menari dengan tarianku
Dan akan ku biarkan engkau menari dengan tarianmu.
Toh, kita tidak menarikan tarian topeng?
Dan malah, irama kita sama.
Karena itu aku yakin, suatu saat akan lahir pagelaran terbaik yang pernah ada
Dari kita.

Sodariku,
Dalam kali ini aku ulurkan kedua tanganku,
Dan ku memohon tanganmu serta.
Sambut tanganku, sodariku.
Aku telah menunggumu.
Genggam tanganku, sodariku.
Dan akan kugenggam tanganmu lebih erat.

Sodariku,
Ku beritahu sedikit tentang sesuatu.
Surganya Allah itu luas.
Meski aku belum pernah ke sana.
Namun hamparan semesta meyakinkanku bahwa Surga lebih dari yang sudah ada di bumi ini.

Sodariku,
Izinkan aku ikut serta ke dalamnya.
Aku gak mau kau akan bosan bila sendirian di sana kelak.
Aku ingin bersamamu, menemanimu.
Selamanya.

Sodariku,
Semoga Allah merahmatimu, merahmatiku.
Merahmati kita semua.
Aamiin.

Dari Aku, yang mencintaimu,
Yuyun Sumarni

Selesai di Palangka Raya, 24 Juni 2012 pukul 12:05

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s