Empat Penjuru Bukit

Sebuah bukit telah kudaki
Meski tebingnya gak terlalu curam
Namun mampu membuat otot-otot kakiku berkerut memeras lemak yang
Bersemedi khusu.
Menyulapnya menjadi butiran keringat yang setitik demi setitik
mulai membanjiri titik-titik rawan di tubuhku
Tapi ini belum selesai

Napasku memburu.
Paru-paruku banting tulang berjuang
mendapatkan oksigen diketinggian ini.

Alhamdulillah
Segala puji bagi Allah
Rabb pemilik semesta alam
Aku bersyukur untuk lemak-lemak
Yang bersemedi diantara jaringan otot ini
Aku bersyukur untuk paru-paru yang dengan gagah berjuang
Untuk sehirup oksigen

Di atas sini, mataku dimanjakan
Oleh lukisa alam
Buah karya terbesar dari Yang Maha Besar
Namun tidak semua dari kemanjaan ini berupa kenyamanan

Di sana, disebelah kanan
sebuah bukit dengan semak penuh duri menyelimutinya.
Kukatakan tadi, perjalananku belum selesai
Aku harus melanjutkan perjalanan
Ke sanakah aku harus melangkah?
Ah, kalau aku ke bukit itu?
Aduh, apa jadinya aku.
Tentu kulit dan daging tubuhku akan habis tercabik-cabik

Di sana, di depanku sebuah bukit lain menjulang.
Dengan batu-batu kerikil yang tajam
Tak ada satu pohon pun di sana
Tak ada satu pohon pun di bukit itu yang akan meneduhiku,
Meneduhiku di bukit itu
yang jika aku melanjutkan perjalanan
dengan mendakinya

Di samping kiriku kulihat sebuah bukit dengan….
Ow, ow.. lihatlah..
Gua-gua gelap hampir selalu ada di setiap sudutnya.
Meski samar, namun aku bisa melihatnya.
Merasakan keberadaan gua-gua itu.
Ah, menyeramkan sekali.
Hantukah? Binatang buaskah? Yang menghuninya??
Atau kelelawar, yang konon katanya jelmaan dracula
yang katanya lagi, hobi menghisap darah manusia sampai kering.
Atau malah suku primitif yang menghuni gua itu?
Suku yang masih doyan makan daging manusia
sebagai sumber protein terbesar mereka

Dan di belakangku,
sebuah lembah yang tadi dah kulewati
Yang tadi dah kulawati untuk mendaki bukit dimana sekarang kakiku berpijak.
Sebuah lembah, tidak curam memang.
Namun dihiasi dengan batu cadas yang tajam.
Yang sekali saja orang terperosok
maka sang batu akan siap menyambut dan
menyulapnya menjadi daging penyet.

Aku harus melanjutkan perjalanan.
Tapi kemana?
Ke bukit sebelah kananku?
Ke sebelah kiri?
Melangkah kedepan?
Atau aku harus turun dari bukit in?
Kalau begitu, bukankah artinya aku kembali ke awal lagi?
Ah, harus kemana aku?

Atau aku harus diam di sini
Di bukit ini?
Ah, tidak mungkin.
Perbekalanku dah hampir habis.
Belum lagi lumbung oksigenku yang semakin kosong.
Aku harus kemana?

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s