Pertanyaan Yang Belum Terjawab

Dalam hiruk pikuk Bumi Tambun Bungai yang tidak terlalu ramai, dalam senja yang mulai membiaskan kemerahannya, dalam hangat yang mulai mengabur seiring lenyapnya matahari di hari ini, aku sejenak menutup mata. Bukan untuk tidur, hanya saja ingin memanfaatkan mataku yang lain untuk melihat. Berusaha berbuat adil dalam menggunakan setiap komponen raga yang Allah pinjamkan kepadaku.

Ah, dunia…
Hmm…
Penuh dengan kenikmatan, juga dengan kesakitan yang kadang hadir sebagai pemanis tambahan untuk sang kenikmatan. Dunia. Hadir juga dengan keindahan, serta keburukrupaannya yang kadang hadir sebagai hiasan yang akan mempercantik sang keindahan. Dunia. Hadir dengan sedikit lelucon yang kadang membuat terbahak sejenak dan dilanjutkan dengan sendu berkepanjangan. Dunia. Hadir juga dengan tanda tanya (?) kasat mata. Hadir juga dengan tanda koma(,) tanda kekurangpuasan, tanda kekurangtepatan, dan tanda kekurang-kurang lainnya. Dan jarang sekali ditemukan tanda titik(.) sebagai kepuasan, sebagai kesudahan. Kalaupun ada tanda titik (.) adanya ia hanya sementara. Bukankah itu artinya sama saja dengan koma? Tanda seru (!) ini merupakan sinyal bahwa tanda koma (,) ingin segera berlanjut cerita. Menuju tanda tanya (?) atau tanda titik (.) atau bahkan tanda seru (!) itu sendiri. Menurutku ini unik. Dan sensor mataku menangkap bahwa inilah yang membuat para penghuni dunia yang berpikir, terus berupaya menjawab setiap teka-teki yang disuguhkannya. Yang membuat para penghuni dunia yang berpikir, terus berupaya menyusun potongan-potongan puzzle yang berserakan.

Aku penghuni dunia, dalam bab Planet Bumi aku ditempatkan. Aku tergolong dalam makhluk hidup. Dibarisan manusia aku berada. Salah satu komponen dalam diriku adalah otak. Dan itulah yang akhirnya yang membuat aku berstempel sebagai penghuni dunia yang berpikir. Karena otak adalah pusat pemikiran. Itu yang kudapatkan dari proses berpikirku selama ini. Dalam proses berpikir aku, aku memerlukan rangsangan. Hasilnya, 21 tahun 1 bulan 11 hari perjalananku di dunia ini, aku telah menemukan banyak rangsangan untuk membuat para saraf sensorik-motorik di seluruh ragaku, neuron, neurit, dan dendrit di otakku bergotong-royong, menciptakan  sesuatu hal. Bisa berupa tindakan, ide, benda atau hal apapun. Salah satu hasil proses berpikirku menghasilkan sebuah pernyataan, yang diambil berdasarkan hipotesis, dalil, postulat, teorema, dan dibuktikan dengan fakta-fakta di lapangan bahwa dunia ini ada karena ada yang menciptakan. Allah swt. Dialah pemilik dunia ini. Untuk seluruh babnya. Bab Planet Bumi, Mars, Yupiter dan bab apapun. Semuanya dech… Bahkan akupun. Ragaku ini, hanyalah peminjaman. DariNya. Allah swt.

Dan dalam kali ini, hasil gotong royong para saraf sensorik-motorik di seluruh ragaku, neuron, neurit, dan dendrit di otakku membuahkan hasil berupa pertanyaan-pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya. Pertanyaan ini hadir beriringan dengan ayunan langkahku menyusuri dunia ini. Dalam salah satu hari perjalananku menyusuri Planet Bumi, aku menemukan sebuah benda yang terdefinisi sebagai buah kedondong, yang membuatku bertanya. Aku bertanya, untuk apa Allah ciptakan buah kedondong dengan bentuk halus diluarnya namun amburadul di dalamnya? Kedondong, hadir di dunia ini dengan kulit luar yang halus. Dan ketika ia berkenan membuka dirinya, aku menemukan serabut acak-acakan gak karuan di dalamnya.

Lain hari, aku kembali menemukan sesuatu hal. Kali ini, durian membuatku bertanya, untuk apa Allah ciptakan buah durian, dengan duri yang cukup tajam diluarnya namun lembut dan manis di dalamnya? Durian, hadir dengan aroma sangat kuat. Bahkan bisa tercium dari jarak cukup jauh.

Aku juga menemukan air. Dan ia, mengajak otakku bekerja sama dan menghasilkan sebuah pertanyaan dariku. Kembali. Aku bertanya, kenapa Allah ciptakan air dengan gemulainya namun mampu memecahkan kerasnya batu? Yang bahkan dengan pisau, dengan pedang sangat tajam sekalipun tidak akan mampu melakukannya.

Di salah satu pergumulanku dengan matahari, aku kalah. Dan pohon beringin berbaik hati memapahku. Membelaiku, sebagai halauannyaterhadap serangan matahari ke aku. Dalam masa itu, aku bertanya lagi kenapa Allah ciptakan pohon beringin yang gagah dengan buah yang kecil?

Langkah kakiku ternyata sampai di suatu tempat bernama ladang. Iseng mataku jelalatan, aku menemukan labu. Buah dengan bentuk bulat besar yang dihiasi lekukan-lekukan unik. Kata orang jawa barat itu Waluh. Otakku gak bisa diam gitu aja. Otakku iseng juga, mengajak si pusat pertanyaan kelahi. Dan hasilnya, aku bertanya mengapa Allah ciptakan tanaman labu dengan pohon yang lemah namun berbuah besar? Buah dengan ketebalan daging yang cukup bagus, kukira. Dengan warna kuning emas, atau orange cerah yang menawan.

Kepala aku tegakkan. Mataku, pandanganku bertumbukan dengan langit. Hei…!!! ada awan hitam berarak. Hari sedikit gelap, karena matahari terhalang olehnya. Angin bertiup kencang. Kadang ia agak menakutkan.Tidak lama kemudian awan dan angin duet, menghasilkan pagelaran yang terdefinisi sebagai hujan. Pagelaran ini kadang juga dikenal sebagai gerimis. Mataku tidak sanggup lagi menatap langit. Bukan waktu sebentar menantikan selesainya pagelaran mereka. Namun, Alhamdulillah usai juga akhirnya. Sesaat setelah pagelaran hujan dan gerimis selesai, aku kembali memberanikan diri menatap langit. Meskipun tidak yakin, aku ingin sekali memastikan bahwa langit baik-baik saja. Hei….!!!, aku melihat sebuah lengkungan indah. Otakku menerjemahkan lengkungan indah itu sebagai pelangi. Otakku tidak puas dengan hanya menerjemahkan lengkungan indah itu saja. Otakku kembali mengajak aku untuk bertanya, kenapa Pelangi yang indah itu hadir setelah hujan? Setelah gerimis?

Aku terus menyusuri dunia ini. Perhentian sementaraku kali ini karena serombongan semak menyita perhatianku. Serumpun semak yang cukup menawan, sekuntum bunga terpampang ditangkainya. Ia terdefinisi sebagai mawar. Ya bunga mawar. Indah, dengan sedikit harum yang eksotis. Aku berusaha menggapainya. Tangan jahil ini tak terkendali, terkadang. Ketika, tanganku berusaha memetik kuntum sang semak, jari tanganku tertawan oleh duri kecil yang terselip diantaranya. Ah, aku begitu ceroboh. Sekali ini aku teliti. Akhirnya, mataku menemukan duri-duri kecil yang cukup tajam diantara kelopak indahnya sang mawar. Aku pun bertanya, mengapa Allah ciptakan mawar yang indah itu dikelilingi duri kecil yang jelek dan tajam itu? Ah, tidakkah malah merusak keindahan sang mawar?

Sampai di sini, aku menepi.
Hanya menepi. Karena suatu saat aku, langkahku akan tersambung lagi. Menelusuri dunia ini. Untuk menemukan pertanyaan-pertanyaan lain yang menghampiriku. Aku tidak mencari pertanyaan itu. Sungguh. Pertanyaannya itulah yang datang menemuiku.

 

(Dalam rangka menemukan mood untuk meng-gepengkan jari-jari menulis bejibun RPP –tulis tangan, cuy…- di Kamar Luwes no. 11 selesai Selasa, 05 Februari 2013 at 20:27)

Iklan

2 thoughts on “Pertanyaan Yang Belum Terjawab

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s