Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) II Keguruan (bagian 1)

*Catatan Seorang Mahasiswa Udung

Hari Kamis tanggal 21 Februari kemaren, aku masuk. Ngajar di kelas X-8 pada jam pertama dan ke dua. Materinya Optik Geometri. Untuk Sub Materi pembelajaran adalah Pemantulan Pada Cermin Lengkung. Sebenernya, sudah dari bulan Januari kemaren massa PPL II. Di SMA Negeri 2 Palangka Raya. Tapi, ini catatan pertama yang aku buat mengenai PPL II ini.

Dalam materi pematulan cahaya pada cermin itu, ada rumus mengenai perbesaran. Orang fisika pasti tahu, m= s’/s = h’/h dimana m merupakan perbesaran, s’ adalah jarak bayangan ke cermin, s adalah jarak benda ke cermin, h’ adalah tinggi bayangan, dan h adalah tinggi bendanya. Aku bingung mengenai ini. Terlebih sebenernya ini adalah keudungan aku yang kurang menguasai materi. Ku akui emang. Bingungnya gemana? begini… Aku pake banyak buku. Anak-anak di kelas juga pake buku yang beda denganku. Aku pake buku Erlangga, Yohanes Surya, dan buku diknas terbitan zaman bahari. Anak-anak pake buku Intan Pariwara, LKS. Di buku yang aku pake semuanya menuliskan kalau rumus perbesaran adalah m=-s’/s=h’/h sedangkan di buku siswa, s’nya gak pake tanda (-). Aku kan waktu PPL I materinya banyak ngambil optik juga, nah kata dosen yang bimbing aku, tanda (-)nya dipake. Buat mengetahui itu bayangan yang dihasilkan sama cermin itu nyata atau maya. Kan, sudah tahu kalau s’nya bertanda negatif (-) maka, bayangannya maya. Kalau s’nya bertanda (+) banyangannya nyata. Tapi, dalam perhitungan tanda (-)nya gak dipake. Dosen aku dulu kasih petuah begitu. Aku, kurang paham, dalam perhitungan yang gemana yang tanda (-)nya gak dipake. Dan salah aku adalah, dulu gak nanya. Dan ini sangat kebangetan untuk seorang calon guru kalau sampe gak tahu. Dan mujurnya lagi, hal ini terjadi sama aku. Aku gak kasih penjelasan sama mereka, siswa X-8, kapan si tanda (-) dipake, kapan diabaikan. Dan hasilnya, ketika siswa bingung harus gemana. Aku tambah bingung sendiri. Ini salah aku. Kurang memahami materi pelajaran, dan dah songong berani menyampaikan.

Hari Kamis itu, aku kasih soal ke mereka. Mengenai perbesaran pada cermin lengkung tersebut. Soalnya aku ambil dari buku Energi Dan Gelombang terbitan diknas tahun 1980an. Halaman 122 nomor 18.2. Soalnya buat dikumpulkan hari Sabtu. Hari ini. Dan tadi, di jam sekolah. Ada 3 orang siswa datang. Mereka menanyakan kebenaran jawaban hasil kerja mereka, sebelum bener-bener dikumpulkan. Aku mengoreksi. Ada dua jawaban yang mereka sodorkan. Yang satu jawabannya 10 cm dengan menyertakan tanda (-) pada s’ dalam perhitungannya, yang satunya 15 cm tanpa menyertakan tanda (-) dalam perhitungannya. Mereka menanyakan kepastian jawabannya. Aku memberikan rambu-rambu jawaban sama mereka. Dan salahnya aku, ternyata aku yang salah, aku yaa, udung banget lah… Prosesnya pada akhirnya membuat aku menemukan jawaban yang bener adalah yang 10 cm. Mereka cukup puas, balik ke kelas. Gak lama, datang 1 orang siswa lain. tanpa banyak tanya dia ngumpulin tugasnya. Selang beberapa menitan, datang lagi 3 orang siswa. Salah satu dari mereka adalah yang pertama datang tadi. Mereka memprotes jawabanku. Katanya yang bener adalah yang 15 cm tanpa menyertakan tanda (-) dalam perhitungan. Bahkan dilakukan pembuktian juga. Dan emang itu yang benernya. Wah, sangat heboh tadi mereka di depan guru piket. Apalagi siswa yang pertama datang tadi, yang jawabannya kusalahkan. Aku gak grogi hadapin mereka. Aku gak gentar. Walaupun salah satu temen PPL II ku malah kaya menakut-nakutin dengan mehayoh-hayohkan aku. Aku biasa aja. Santai aja.

Dalam kesantaian aku, terngiang lagi petuah dosen pembimbing aku waktu PPL I. Katanya beliau, hati-hati dalam memberikan materi pelajaran. Karena akibatnya sangat fatal. Meracuni anak bangsa. Dosen aku bilang, “Kalau saya punya makanan yang saya taburin racun. Lalu saya kasihkan sama kalian bersepuluh ini. Ya, yang mati keracunan cuma kalian bersepuluh aja. tapi kalau salah dalam memberikan konsep kepada siswa kalian. misalnya siswa kalian sepuluh, lalu masing-masing siswa jadi guru. Dan punya siswa sepuluh. Menyampaikan konsep yang salah seperti yang anda sampaikan. Dan siswa dari siswa anda ini ada yang menjadi guru. Lalu menyampaikan lagi konsep bekal dari gurunya yang tadi anda sampaikan. Coba hitung. Berapa siswa, berapa anak bangsa yang anda bunuh? Dan kalau siswa dari siswanya siswa anda tadi menjadi guru juga, lalu terus berulang menyampaikan konsep yang anda ajarkan, dan salah. Lama-lama, satu indonesia anda racunin. Hati-hati loh ya dalam mengajar.” Panjang lebar, dosen aku kasih petuah. Dan aku. Yuyun sumarni, telah melanggar petuah itu. Petuah untuk berhati-hati dalam memberikan konsep materi. Ya Allah, udung banget sih aku….

Aku, telah salah dalam memberikan konsep perbesaran pada cermin lengkung. Di kelas X-8 ada 35 orang. Kalau misalnya nanti mereka menjadi guru, dan masing-masing punya 35 siswa. Mereka, siswaku sekarang menyampaikan konsep salah yang aku ajarkan Kamis kemaren. Lalu siswa mereka menjadi guru, misalnya masing-masing siswa mempunya 35 siswa juga. Dikasih konsep yang sama, yang aku ajarkan. Allah, rasanya mati seketika aku mengingat ini.

Pertemuan selanjutnya, aku mau bahas ini. Meluruskan konsep salah yang telah aku sampaikan. Tapi, satu minggu kedepan, mereka gak masuk. Pertama, try out kelas tiga sampai Rabu, Kamisnya yang seharusnya aku ngajar mereka, malah guru-guru SMAN 2 ini ada rapat. Jadi harus tunggu minggu depan berikutnya. Di hari Rabu, tanggal 6 Maret 2013. Allah, umurku nyampe gak ke sana ya?? Aku takut mati sebelum meluruskan ini semua. Kalau aku mati sebelum membenerkan semua ini, wah bakal jadi dosa jariyah aku, ni materi perbesaran pada cermin lengkung. Bakal jadi dosa, yang dosanya terus mengalir selama itu konsep gak diluruskan.

Allah, sampaikanlah umurku pada hari Rabu, 6 Maret mendatang.
Ibu dosen pembimbing PPL I, bu Titik, maaf telah melanggar pesan ibu.
Diusahakan dengan sangat, kedepannya banyak belajar lagi deh sebelum ngajar…
Dan, untuk anak bangsa sekarang dan di masa mendatang, sebelum racun itu nyampe ke kalian, sebelum racun itu membunuh pemikiran kalian, tolong maafkan saya. Ini murni salah saya, yang kurang belajar mendalami konsep fisika. Dan silahkan bertanya, belajar dengan orang fisika lainnya yang sangat ahli dibidangnya. Saya akui dengan rendah hati, bahwa saya banyak salah. Banyak tidak tahu. Banyak kekurangan. Mengenai fisika ini.

(Dalam lelah pulang dari SMA Negeri 2 Palangka Raya Sabtu 23 Februari 2013, 13:59)

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s