Pembelajaran Kooperatif

Mengingat kembali makalah seminarku di semester tujuh kemaren, aku mengambil mengenai pembelajaran kooperatif tipe Teams games Tournaments atau yang banyak dikenal, (-emmm…, gampang nyebutnya-) sebagai TGT. Beberapa buku pembelajaran banyak yang aku pake. Namun yang banyak mendominasi adalah bukunya Robert E. Slavin dengan judul Cooperative Learning. Disitu banyak dijelaskan mengenai pembelajaran kooperatif, terutama TGT itu. Ada beberapa teman yang bilang, katanya kalau mau belajar, kalau mau tahu banyak mengenai TGT yang menjadi makalahku, baca aja bukunya Slavin. Tulisanku kali ini bukan mengenai bukunya Slavin. Karena kalau ditanya tentang buku itu pun aku hanya bisa jawab dikit. Itu pun hanya mengenai TGTnya. Yang ku baca dari buku Slavin hanya baru Bab STAD dan TGT doank. Memakai asas keperluan. Karena untuk makalah saat itu perlunya TGT aja, jadi yang kupelajari ya TGT aja. (-sungguh bukan perilaku yang baik-)

Buku Slavin punyaku itu dibeli di Jogja. Nitip lewat temen yang lagi PKL ke sana. Dan sekarang bukunya gak ada di tanganku. Gak ada diantara tumpukan buku-buku yang tidak banyak. Bukunya lagi dipinjam sama temenku yang lain. (-hehehe…. penting gak sech nulis kaya gini???-). Aku lanjut cerita. Buku Slavin, lagi dipinjam ama temenku. Dia perlu untuk bahan bacaannya menjelang pengurusan proposal skripsi gitu. Selain itu aku juga punya maksud tersendiri dengan meminjamkannya buku Slavin. Lagi-lagi asas manfaat. Suatu kondisi aku lebih suka mendapatkan ilmu dengan mendengarkan. Jadi, aku minta temenku ini (-yang pinjam buku Slavin-) supaya dia baca buku dengan seksama, dan aku hanya minta laporan hasil bacaannya. Setelah membaca buku Slavin temenku bercerita, kenapa sampai dibuat model pembelajaran kooperatif. Ternyata bukan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, bukan untuk supaya siswa lebih semangat lagi belajar, bukan supaya siswa mencapai nilai ketuntasan maksimal, bukan supaya siswa lebih bisa mendalami materi (-yang banyak digaungkan dikampusku-).Ternyata bukan itu. Jawabannya, adalah untuk memperkecil ketegangan yang ditimbulkan karena perbedaan ras di muka bumi ini. Sederhana sekali. Ya!

Sangat jelas bahwa salah satu ciri pembelajaran koperatif adalah pengelompokan siswa dalam kelompok kooperatif. Yaitu kelompok yang bersifat heterogen, baik dalam tingkat kecerdasan siswa, dia pintar atau jenius. Suku, apakah dia jawa, sunda, bali, dayak, banjar, aceh, papua, negro atau cina. Agama, apakah dia Islam, hindu, Budha, Kristen atau tidak beragama sekalipun. Apakah dia dari keluarga yang kaya atau miskin. apakah dia berambut lurus atau keriting. berkulit hitam atau putih atau kuning atau pucat atau merah atau apa sajalah warna kulitnya. matanya dia sipit atau belo. Dan ketika setelah pembelajaran kooperatif dilaksanakan, harapan yang diinginkan dengan sangat adalah, siswa mampu bersosialisasi dengan sesamanya. Berteman dengan mereka, tidak memandang perbedaan sebagai sekat, tetapi lebih kepada sebagai warna dalam hidup. bukankah lautan dan pantai tidak akan menarik tanpa gelombang yang beriak dengan mesra?, yang kadang-kadang juga menyapa sebagai badai. bukankah lukisan tidak akan bernilai keindahan jika hanya berupa warna hijau saja? Atau biru saja, atau hanya merah. Pink atau warna merah muda, dimana menjadikan simbol sebagai warna keindahan, warna keanggunan, warna kemanisan, sungguh tidak akan menjadi karya seni yang bernilai tinggi jika hanya warna merah muda saja yang dicoretkan dikanvas sebagus apapun. Tidak percaya? Coba saja.

Ketika evaluasi diakhir pembelajaran, pertanyaan yang banyak diujikan kepada siswa ya seputar interaksi sesama mereka saja. Bukan seperti yang banyak didendangkan para calon guru di antara bangku-bangku tangguh di pengapnya gedung M.

Itu cerita temen aku dengan sedikit tambahan dariku. Setelah membaca, mendengar, melihat dan mengamati berbagai referensi yang kudapatkan.

Kadang terlintas dipikiran, kenapa perbedaan sangat diributkan? Jawabannya tidak sederhana. Setidak sederhana orang bisa menerima perbedaan antara satu dengan lainnya.

Malam ini aku nonton film The Help. Yang kudapatkan setelah ngocek laptop temen. Isi filmnya menjelaskan banyak hal ke aku kenapa sampai pembelajaran kooperatif itu diadakan, diciptakan. Film ini bukan mengenai metode pembelajaran, bukan mengenai model-model pembelajaran (-mentang-mentang mau jadi guru, omongannya pembelajaran mulu-). Film ini mengenai para pembantu kulit hitam yang dipekerjakan di negara Bagian Amerika sono. Sangat miris. Cukup sadis ku kira. Yang punya laptop bilang, film gak terlalu ngena. Tapi menurutku film ini ngena banget. Ntah emang fimnya yang keren, atau aku yang telalu lebay menanggapi filmnya. Tapi apapun itu, film ini udah membuka salah satu gerbong di dendritku. Menumbuhkan salah satu sel di otakku. Sel apa itu? Ntahlah, belum terdefinisi. mungkin film ini udah keluaran bahari. dan bisa jadi aku dah gak zamannya lagi nulis kaya beginian. ini hanya untuk mengingat kembali yang lupa. dan yang pasti film ini bagus buat ditonton, menurutku.

Belajar gak harus di kelas formal, melalui film, melalui alam yang terus bergerak, bintang yang terus berkedip malu-malu, bulan yang terus tersenyum. Angin yang membelai lembut di malam-malam Palangka Raya yang lebih sering dingin. Matahari yang kadang melotot sangar, hujan yang sesekali mengimbangi kesemuanya, sungguh mereka telah mempraktekkan pembelajaran kooperatif dengan sukses. Mereka telah mempraktekan the real pembelajaran kooperatif. Dengan sukses. Bukan hanya teori-teori belajar yang dibukukan dengan sangat tebal. Yang hanya sebagai anak tangga menuju suatu gelar.

(The Help mantap, Pondhok Luwes 27 Februari 2013 di jam 01:54)

Iklan

2 thoughts on “Pembelajaran Kooperatif

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s