Termodinamika Kehidupan

*sedikit curhat

Jumat, 08 Maret 2013
Jam berwarna putih berbentuk bulat di dinding ruang utama Laboratorium Analitik Universitas Palangka Raya jarum panjangnya menunjukkan angka satu, dan jarum pendeknya menunjukkan ke angka tujuh serong sangat sedikit. Ruang utama Lab. Analitik penuh dengan mahasiswa Fisika Unpar. Salah satu diantaranya adalah aku. Yuyun sumarni. Duduk di barisan terdepan. Hari jumat ini emang jadwalnya kuliah Termodinamika. Dan aku termasuk mahasiswa yang menjadwalkan mata kuliah itu semester ini.

Karena barisan terdepan, absen pun duluan. Aku bukan yang pertama, seorang teman yang duduk di sebelah kiriku, dia yang pertama. Kedua, aku. Aku buka-buka itu absen, tidak ada namaku. Temenku yang disebelah kiri berbisik, “Nama Teteh gak ada.” Aku teliti sekali lagi. Dan beneran gak ada. Di dua-duanya absen. Ntah apa maksudnya, absennya di buat dua bagian. Di lembaran akhir kedua absen itu, aku melihat ada sedikit catatan. Katanya, “Bagi yang namanya tidak ada harap melapor ke Prodi dan membawa KRS”.

Sedikit bingung juga, kenapa namaku gak ada. Secara gitu ya, seingatku. Dengan ingatan yang sesadar-sadarnya, aku telah melakukan urutan registrasi dengan baik. Baik ketika urus Kartu Rencana Studi (KRS) maupun Kartu Perubahan Rencana Studi (KPRS). Salah satu point terakhirnya adalah, menyerahkan 1 lembar KRS/KPRS ke asisten Prodi untuk keperluan pembuatan absen perkuliahan. Aku sudah melaksanakan. Wong aku punya mata, jadi bisa baca tulisan perintah itu. Aku juga punya telinga, bisa mendengarkan pemberitahuan dari temen-temen mahasiswa lainnya yang bilang kalau 1 lembar KRS/KPRS harus diserahkan ke asisten prodi. Aku juga punya otak yang masih bekerja dengan baik, mampu menampung dan mengolah pesan-pesan yang aku terima. Untuk kemudian disalurkan ke saraf-saraf motorikku. Dan saraf-saraf motorikku Alhmadulillah masih bekerja dengan baik, saraf di kaki masih bisa bergerak membawaku ke prodi. Saraf di tangan masih bekerja dengan baik, masih bisa tanganku ini bergerak untuk membawa selembar KRS dan KPRSku ke meja Asisten Prodi. Kalau kertas terlalu ringan, bahkan, saraf ditanganku masih mampu menganggkat pulpennya si asiten prodi untuk ku tindihkan ke kertasku, karena otakku membuat definisi kalau kertas sangat mudah diterbangkan angin. Sedangkan di prodi full AC dan kipas angin. Hasil definisi itulah yang kemudian memberikan efek tindakan tanganku menyomot pulpen asisten prodi untuk ku tindihkan ke kertasku. Sebagai upaya pencegahan kertasku terbang, tercecer atau lainnya. Aku pun bahkan meletakkan kertasku sedemikian rupa menyesuaikan terhadap perkiraan posisi duduknya si asisten prodi itu. Dengan harapan, begitu duduk dia akan melihat kertasku. Atau ketika dia menyentuh pulpennya, dia akan melihat kertasku. Aku melakukan semua itu karena dia, asisten prodi gak ada di tempat.

Kembali ke hari ini. Heran juga kenapa namaku bisa gak ada. Tapi biarkan, nanti setelah kuliah, aku ke prodi urus absen.

Pulang kuliah, aku ambil KPRS. Ku foto kopi. Lalu aku ke Prodi. Absen semula mau ku bawa, ternyata diminta temenku yang lain. kita ketemu di prodi. Dan dia dah ngurus duluan. Ketika ketemu di prodi, absen sudah berpindah tangan lagi ke kakak tingkat yang juga ngurus absen termodinamika. Ketika aku minta absen itu, kakak menyerahkan ke aku. Mungkin dia masih ada yang lebih urgent yang harus diurusinnya jadinya untuk absen, dia mempersilahkan aku duluan.

Aku serahkanlah absen dan KPRSku ke asisten prodi. Setelah menunggu rada lamaan dikit, dia mengutak-atik komputer di depannya ntah kenapa. Dia tanya keperluanku, aku bilang absen. Namaku gak ada. Dia ngomel-ngomel. Ngata-ngtain aku. Salah satu katanya, padahal dah berulang kali dibilang suruh ngumpulin 1 lembar buat absen, tetep aja gak nurut. Aku bilang kalau aku udah ngumpulin. Eh, dianya gak mau tahu. Malah tambah nyerocos ngomel. Aku diam aja. biarkan lah…

Namun, dalam diamku. Aku gak diam-diam gitu aja. aku berpikir juga. Kenapa gini amat ya.. kenapa aku diomelin, padahal aku tidak melakukan kesalahan seperti yang dia omelkan ke aku. Kenapa? Seharusnya aku yang ngomelin dia, aku udah ngumpulin seperti yang diperintahkan, kok namaku gak ada. Seharusnya sech. Ya. Dan keharusan yang tinggal seharusnya saja.

Kejadian ini cukup membuat suhu hatiku naik. Pembelajaran termodinamika hari ini langsung aku dapatkan aplikasinya dalam kehidupanku.

Itu satu kejadian yang menimpaku hari ini. Kejadian ini membawaku ke belakang. Ke beberapa bulan yang lalu. Saat aku pulang kampung, liburan.

Agenda di desaku yang lagi hot-hotnya adalah pemasangan listrik. Dari setelah hampir kurang lebih 13 tahunan desaku dibuka, alhamdulillahnya tahun 2013 di warnai dengan pemasangan listrik. Harapannya desaku gak gelap lagi.

Ada sedikit pembicaraan mengenai pemasangan listrik itu. Kan, warga yang mau rumahnya dilistikin mesti daftar. Pada daftar lah mereka. Cukup besar biayanya, 4-5 jutaan gitu. Setelah data terkumpul, dipasangin lah satu-satu rumah warga. Ternyata ada data punya warga yang hilang, dan kata si pemasang, sang warga mesti daftar lagi. Emang kalau daftarnya gak ribet sih gak masalah. Ribetnya itu lah yang membuat kenaikan suhu di warga. Yang ku tahu ribet di berkas-berkas. Pasti.

Jadinya, warga yang seharusnya dipasangin itu tiba gilirannya, karena datanya ilang. Ditunda lah. Sampai dia daftar ulang.

Nah, kan kalau ditelaah. Sang warga dah melakukan seperti yang instruksikan. Mengenai data yang hilang, aku yakin, bukan salah warga. Wong datanya gak ada setelah di si petugasnya. Kenapa mesti warga juga yang menerima susahnya?

Sama seperti halnya aku.

Aku, setelah kejadian ini berpikir, dan membuat aku mengambil hipotesis. Aku sangat yakin bahwa kejadian serupa banyak yang terjadi di kehidupan ini. Dan mungkin kejadian yang menimpaku dan yang menimpa orang di kampungku adalah kejadian yang tersederhana dari yang sederhana. Tapi sungguh. Tak ayal semua itu bikin gondokan. Kenapa aku mesti merasakan kekesalan dari seseorang, sedangkan bukan aku yang melakukan kesalahan? Kenapa mesti seseorang menerima akibat dari suatu suatu keburukan yang tidak dilakukannya?

Dan kenapa, selalu orang di level rendah yang dipersalahkan. Kenapa mahasiswa yang selalu salah. Kenapa orang kampung yang selalu salah. Kenapa, kenapa, kenapa. Lagi-lagi kenapa. Terus kenapa. Selalu kenapa.

 

(suatu hari di Palangka dengan suhu di lingkungan sekitar 300c dan suhu di dalam sistem mencapai titik didihnya, jam 11:34)

 

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s