mengapa aku berpikir

Aku ingin menurunkan ketinggian langit.
Agar aku bisa menyapa bintang
Berjabat dengan bulan
Agar aku bisa mengatur posisi para meteor
Agar aku bisa kompromikan kecepatan bumi dengan para meteor
Agar mereka tidak membuat penghuni bumi dag dig dug dor.

Aku ingin mendengar percakapan di langit
Agar bisa ngintip hari esok
Agar bisa meraba takdir
supaya tidak terlalu banyak kejutan untukku
karena aku takut, jantungku gak mampu lagi berdegup kencang
ketika setiap kejutan demi kejutan menyapaku.

Aku ingin menghentikan matahari terbit
Agar aku bisa bergenit ria dengan bintang
Berlatih senyum dengan bulan
Lebih lama

Suatu keadaan aku juga ingin mencegah terbenamnya matahari
Karena aku tahu, daun-daun masih sangat memerlukan sinarnya
Memasakkan makanan terbaik untuk para penghuni bumi yang merantai
Sedangkan hari esok belum tentu ia datang

Aku sangat sering ingin menolak kebaikan hati Matahari atas radiasi sinarnya
Karena, kasian sekali sang ozon telah lelah menjadi jongos pengantarnya
Ia perlu istirahat
Sangat perlu, ku kira.

Aku ingin merukunkan bulan dengan matahari
Salah satu cita-citaku, sangat ingin mengadakan suatu pesta tingkat tata surya
Dimana tamu undangan yang datang bukan hanya saja penghuni bumi
Tapi juga para planet, bintang-bintang, para meteor
Dan tentu juga bulan dan matahari datang ke pestaku

Aku ingin sekali berada di suatu purnama yang tidak diikuti air pasang
Aku ingin semua anak bisa main gobag sodor di bawah purnama
Tanpa perlu khawatir halaman rumah terendam
Tanpa perlu khawatir, buku-buku larut terbawa pasang

Suatu keadaan lain aku ingin sekali saja menghentikan bumi berotasi, berevolusi
Sebentar saja.
Karena aku pernah merasakan bagaimana pusingnya berputar-putar
Aku khawatir bumi akan pusing juga
Lalu…, BUMMMM….!!
Bumi pingsan.

Aku sesekali ingin kalau terciprat air tidak basah
Supaya aku tidak perlu balik ke rumah,
ketika di jalan bertemu beberapa pengendara sial yang gak punya otak
melindas genangan air dengan sadis

aku, sangat memerlukan air tawar
sedangkan jumlahnya sangat sedikit
air laut, sebagai air terbanyak di bumi asin rasanya
tidak bisa diminum
ah…, kalau air laut itu tawar
kalau air laut itu bisa diminum
tidak akan ada lagi orang mati kehausan
tidak akan ada lagi acara berebut kencing unta

jika saja haus terbayar tanpa minum,
jika saja lapar terbayar tanpa makan,
jika saja lelah terbayar tanpa istirahat…
ya, jika saja…
hanya sebagai jika…

 

(Dalam kesunyian malam di Pondhok Luwes yang mulai larut, Senin 18 Februari 2013 → 23:28)

 

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s