MEDIA PEMBELAJARAN

Hari ini aku tadi masuk kuliah Media Pembelajaran. Jam masuk masih ada beberapa menit luang, aku samperin teman-teman yang lagi pada nongkrong di gedung depan Paman Pentol biasa parkir. Ngobrol-ngobrol, kata mereka dah ganti dosen. Masa dengan dosen sebelumnya udah abis, dan sekarang dengan Pak Theo. Rasaku, aku tidak ingat kalau Media pembelajaran disampaikan oleh dua dosen. Tapi Alhamdulillah, aku bersyukur. Karena dengan dosen yang sebelumnya tegang udzubillah. Dan ada perkiraan, hari ini sesuatu yang akan memuncak jika kuliah dengan beliau. Tapi syukur kepada Allah swt., itu tidak terjadi.

Masuklah kuliah dengan Pak Theo, dosen yang dimaksud dalam obrolan. Kelas di bagi dengan kelompok, dengan isinya masing-masing tiga orang. Mendiskusikan permasalahan mengajar, dari kasus-kasus yang beliau bagikan. Diskusi seru. Lalu dikuatkan dengan materi-materi dari beliau, Pak Theo. Ada juga beliau mencanangkan bahwa tugas akhir kuliah adalah membuat sebuah media mengajar yang namanya media pemaknaan. Dan beliau juga tentunya tadi menjelaskan apa itu media pemaknaan, dan semua-semuanya. Bahkan beliau juga mencontohkan mengenai media pemaknaan itu seperti apa. Media pemaknaan yang tadi beliau contohkan adalah mengenai ekositem di bumi ini, tapi disampaikan dengan luar biasa. Benar-benar media yang sarat dengan makna. Dan beliau tadi juga membagikan contoh media itu. kata beliau, pesan dari LIPI untuk menyampaikan dan juga membagi-bagikan contoh media pemaknaan itu. setelah mengikuti kuliah tadi, ada semacam keinginan kuat di aku untuk menuliskan ulang mengenai media tadi. Tadi itu medianya adalah sebuah slide demi slide tayangan yang mana isinya sebuah surat. Adapun suratnya aku tuliskan ulang sebagai berikut. 

 

SURAT DARI TAHUN  2070

Dokumen ini dipublikasi di majalah “Crónica de los Tiempos” April 2002.
(Translation in free bahasa: Yuliana Suliyanti, Aug 2007)

Aku hidup di tahun 2070.
Aku berumur 50 tahun, tetapi kelihatan seperti sudah 85 tahun.
Aku mengalami banyak masalah kesehatan, terutama masalah ginjal karena aku minum sangat sedikit air putih.
Aku fikir aku tidak akan hidup lama lagi.
Sekarang, aku adalah orang yang paling tua di lingkunganku.
Aku teringat disaat aku berumur 5 tahun
Semua sangat berbeda.
Masih banyak pohon di hutan dan tanaman hijau di sekitar, setiap rumah punya halaman dan taman yang indah, dan aku sangat  suka bermain air dan mandi sepuasnya.
Sekarang, kami harus membersihkan diri hanya dengan handuk sekali pakai yang dibasahi dengan minyak mineral.
Sebelumnya, rambut yang indah adalah kebanggaan semua perempuan.
Sekarang, kami harus mencukur habis rambut untuk membersihkan kepala tanpa menggunakan air.
Sebelumnya, ayahku mencuci mobilnya dengan  menyemprotkan air  langsung dari  keran ledeng.
Sekarang, anak-anak tidak percaya bahwa dulunya air bisa digunakan untuk apa saja.
Aku masih ingat seringkali  ada pesan yang mengatakan: ”JANGAN MEMBUANG BUANG AIR”
Tapi tak seorangpun memperhatikan pesan tersebut.
Orang beranggapan bahwa air tidak akan pernah habis karena persediaannya yang tidak terbatas.
Sekarang, sungai, danau, bendungan dan air bawah tanah semuanya telah tercemar atau sama sekali kering.
Pemandangan sekitar yang terlihat hanyalah gurun-gurun pasir yang tandus.
Infeksi saluran pencernaan, kulit dan penyakit saluran kencing sekarang menjadi penyebab kematian nomor satu.
Industri mengalami kelumpuhan, tingkat pengangguran mencapai angka yang sangat dramatik. Pekerja hanya dibayar dengan segelas air minum per harinya.
Banyak orang menjarah air di tempat-tempat yang sepi.
80% makanan adalah makanan sintetis.
Sebelumnya, rekomendasi umum untuk menjaga kesehatan adalah minum sedikitnya 8 gelas air putih setiap hari.
Sekarang, aku hanya bisa minum setengah gelas air setiap hari.
Sejak air menjadi barang langka, kami tidak mencuci baju, pakaian bekas pakai langsung dibuang, yang kemudian menambah banyaknya jumlah sampah.
Kami menggunakan septic tank untuk buang air, seperti pada masa lampau,  karena tidak ada air.
Manusia di jaman kami kelihatan menyedihkan: tubuh sangat lemah; kulit pecah-pecah akibat dehidrasi; ada banyak koreng dan luka akibat banyak terpapar sinar matahari karena lapisan ozon dan atmosfir bumi semakin habis.
Karena keringnya kulit, perempuan berusia 20 tahun kelihatan seperti telah berumur 40 tahun.
Para ilmuwan telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar.
Manusia tidak bisa membuat air.
Sedikitnya jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang, yang membuat turunnya kemampuan intelegensi generasi mendatang.
Morphology manusia mengalami perubahan…
…yang menghasilkan anak-anak dengan berbagai masalah defisiensi, mutasi, dan malformasi.
Pemerintah bahkan membuat pajak atas udara yang kami hirup: 137 m3 per orang per hari. [31,102 galon].
Bagi siapa yang tidak bisa membayar pajak ini akan dikeluarkan dari “kawasan ventilasi” yang dilengkapi dengan peralatan paru-paru mekanik raksasa bertenaga surya yang menyuplai oksigen.
Udara yang tersedia di dalam “kawasan ventilasi” tidak berkulitas baik, tetapi setidaknya  menyediakan oksigen untuk bernafas.
Umur hidup manusia rata-rata adalah 35 tahun.
Beberapa negara yang masih memiliki pulau bervegetasi mempunyai sumber air sendiri. Kawasan ini dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata.
Air menjadi barang yang sangat langka dan berharga, melebihi emas atau permata.
Disini ditempatku tidak ada lagi pohon karena sangat jarang turun hujan. Kalaupun hujan, itu adalah hujan asam.
Tidak dikenal lagi adanya musim. Perubahan iklim secara global terjadi di abad 20 akibat efek rumah kaca dan polusi.
Kami sebelumnya telah diperingatkan bahwa sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tetapi tidak ada yang peduli.
Pada saat anak perempuanku bertanya bagaimana keadaannya ketika aku masih muda dulu, aku menggambarkan bagaimana indahnya hutan dan alam sekitar yang masih hijau.
Aku menceritakan bagaimana indahnya hujan, bunga, asyiknya bermain air, memancing di sungai, dan bisa minum air sebanyak yang kita mau.
Aku menceritakan bagaimana sehatnya manusia pada masa itu.
Dia bertanya:
– Ayah! Mengapa tidak ada air lagi sekarang ?
Aku merasa seperti ada yang menyumbat tenggorokanku…
Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang menghancurkan alam dan lingkungan dengan tidak mengindahkan secara serius pesan-pesan pelestarian… dan banyak orang lain juga!
Aku berasal dari generasi yang sebenarnya bisa merubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun yang melakukan.
Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya.
Sejujurnya, dengan situasi ini kehidupan di planet bumi tidak akan lama lagi punah, karena kehancuran alam akibat ulah manusia sudah mencapai titik akhir.
 
Aku berharap untuk bisa kembali ke masa lampau dan meyakinkan umat manusia untuk mengerti apa yang akan terjadi …
…  Pada saat itu masih ada kemungkinan dan waktu bagi kita untuk melakukan upaya menyelamatkan planet bumi ini!
Kirim surat ini ke semua teman dan kenalan anda, walaupun hanya berupa pesan, kesadaran global dan aksi nyata akan pentingnya melestarikan air dan lingkungan harus dimulai dari setiap orang.
Persoalan ini adalah serius dan sebagian sudah menjadi hal yang nyata dan terjadi di sekitar kita.
Lakukan untuk anak dan keturunanmu kelak.

AIR DAN BUMI DEMI MASA DEPAN!
 
 
Pesan yang tadi disampaikan dikelas adalah supaya tayangan surat dari tahun 2070 itu kelak disampaikan kepada murid-murid. Tapi rasanya lama menunggu aku benar-benar punya murid. Kecintaan pada bumi, menjadi motivasi aku untuk menuliskan ulang, dan juga membagikan info mengenai surat dari tahun 2070 itu. Bagi guru-guru yang sudah tahu dan punya, serta telah menyampaikan isi surat itu, alhamdulillah. Bagi yang belum punya atau pun belum mengetahui mengenai surat itu, semoga tulisanku ini dapat membatu. Isi suratnya aku kopipas supaya lebih berasa gitu yang bacanya, dan mengenai bagaimana tayangannya bisa dibikin sekreatif mungkin oleh masing-masing guru. Sekalian mengasah ilmu media mengajarnya. Sebagai rekomen tambahan adalah film Dr. Seuss’ The Lorax. Sekali-kali siswa diajak refresing gitu, jam pelajaran dipake nobar. Biar greget, nggak melulu materi. Film lama sih, tapi kan tidak apa-apa juga itu…
 
Dalam rintik hujan yang sedikit deras, setelah bangun dari tidur siang, diselingi bau septik Tank yang udah mubal dari tetangga, disebuah kamar yang mulai redup menuju remang-remang.
(Senin, 02 Desember 2013
@15:54)

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s