Mereka, Anak-Anakku, Anak-Anak Zamannya

*TPA Al Hijrah jl. Lawu Palangka Raya

Dulu…, tapi belum “sekali”. Kak Kis salah satu pengajar di TPA Al Hijrah Jl. Lawu Palangka Raya dimana tempat aku juga mengajar, mengamati anak-anak sebagai kuntum-kuntum yang mulai bermekaran, lalu memanggil beberapa dari mereka. Wabil khusus anak laki-laki yang terlihat bongsor di usia, yang telah mulai hilang gurat kanak-kanak di wajahnya. Sebut saja mereka adalah Alif, Mimin, Yudha, Wawan, seingatku itu aja. Maklum udah dulu kejadiannya, walaupun belum “sekali”.

Diselang waktu antara istirahat dengan jam masuk lagi, kakak memanggil anak-anak yang tersebut diatas.  Aku hanya mengamati di salah satu pojok di ruangan kelas. Menerka tentang sesuatu hal yang mereka perbincangkan. Suatu kebiasaan kakak untuk memanggil anak-anak tertentu untuk bicara face to face dengan mereka mengenai sesuatu hal.

Ketika mereka sudah duduk manis dihadapan Kakak, beliau mengawali dengan kalimat pembuka.

“Kalian sudah baligh lah?” Tanya kakak. Yang pada pendengaran mereka kata “baligh” lebih terdengar sebagai “balik”.

Lalu jawab salah seorang diantara mereka, “Balik kemana ustadzah?”. Kontan hal ini membuat kakak terpingkal-pingkal.

“Bukan balik, tapi BAALIIGH …” jelas kakak dengan pengucapan difasihkan.

“Apa itu ustadzah?” Tanya mereka…

Kakak menyimpan pertanyaan mereka dengan memberi pertanyaan lanjutan, “Kalian sudah mimpilah?”

“Sering ja, Ustadzah… semalam gin aku mimpi.” Jawab salah seorang dari mereka.

“Mimpinya bukan sembarang mimpi. Mimpi basah.” Kata kakak dengan senyum mendengar jawaban mereka.

“Ngompolkah ustadzah? Pernah ai …” jawab Alif. Spontan. Tanpa dosa.

“Bukan ngompol, Alif…!!!” Kak Kis kelabakan. Duh, gemana ini menjelaskannya??

“Bukan ngompol. Kalian itu mimpi, terus pas bangun tidur, kalian basah…” lanjut kakak.

“Oh…, aku tahu.. mimpi itu, ya pas tidur, kan mimpi… terus kebanjiran, kan tebangun tuh.. basah pula. Jadi am mimpi basah. Iya kalo ustdzah?” Mimin si konyol yang satu ini mulai beraksi. Dan tentu saja gelak tawa semakin melingkupi mereka.

Wajah anak-anak yang sholeh itu nampak berkerut. Mereka memikirkan mimpi seperti apakah itu, yang basah tapi bukan ngompol. Dan bukan kebanjiran.

“Mimpi basah kaya apa am Ustadzah, amun lain ngompol, amun kada kebanjiran, adakah mimpi kaya itu?” Tanya mereka.

“Heeghhh…, ada. Itu tu mimpi yang menandakan kalian sudah baligh, sudah dewasa. Mimpi sesuatu, terus waktu kalian bangun, kalian basah. Tapi bukan ngompol loh ya…” terang kakak.

“Mimpinya, mimpi apa ustdzah?” Tanya Wawan.

“Ya mana ustadzah tahu mimpi apa, wong ustadzah nggak bisa liat apa yang kalian mimpikan. Yang tahu ya kalian sendiri. Nanti kalau waktunya tiba kalian akan ngerti” jelas kakak.

“Kalau kalian udah mimpi, itu tadi mimpi basah.. itu artinya kalian udah dewasa. Segala amalan udah menjadi milik kalian, segala perbuatan kalian udah jadi tanggung jawab kalian.” Kakak menjelaskan dengan lebih rinci, lebih banyak. Mengenai baligh ini…

Kelas tiba saatnya masuk. Sore. Pulang. Menuju pulang, kakak menceritakan apa yang terjadi, apa yang tadi dibicarakan dengan mereka-mereka. Aku tidak bisa menahan tawa. Geli dengan apa yang barusan, tidak lama yang lalu terjadi di sudut lain dalam kelas.

Hari ini, seolah terasa film lama diputar.

Jam bulat putih di dinding kelas, jarum panjangnya ke angka 12, dan jarum pendeknya menunjuk ke angka lima. Anak-anak udah pada berhamburan keluar, untuk mereka yang sudah dibolehkan keluar kelas. Di detik akhir itu, Kak Kis memanggil Mimin, Nendi, dan Yunus, sebagai anak TPA yang tertua dari yang laki-laki. Awalnya Nendi mau kabur, alasan sudah dijemput. Ntah apa yang ada dipikirannya, bisa jadi takut dan merasa bersalah kenapa sampe ditahan, belum boleh pulang dulu, terkhusus, sebelum pulang mereka melakukan kesalahan dengan tidak bisa tenang ketika diberi materi pelajaran di kelas.

Namun, Mimin dengan Yunus berhasil menangkap Nendi dan membawanya kembali ke kelas. Di kelas ada aku, Kak Kis, dan mereka bertiga. Aku bertindak mengendalikan anak-anak yang penasaran ingin tahu apa yang terjadi dengan mereka bertiga. Mengendalikan mereka yang ngintip-ngintip di jendela. Kali ini aku bisa mendengar dengan jelas apa-apa yang mereka bicarakan, Kakak dengan anak-anak.

“Kalian sudah BAALIIGH lah?” Tanya Kakak dengan kalimat fasih pol.

“Belum ustadzah…” jawab mereka.

Mimin, April ini usianya 10 tahun, Nendi sudah 12 tahun. Dan Yunus, tidak terlalu mendengar aku tadi berapa usianya.

“Kalian kalau liat cewek cantik, ada rasa-rasa gemanaa gituu, nggak?” pancing kakak. Keriuhan terjadi, mereka menyangkal, mereka saling olok. Aku pun turut serta terlibat dalam keriuhan itu. Kakak juga.

“Aku kada lah ustadzah…” kata Yunus dengan senyum malu-malu.

“ Aku gin kada ustadzah. Nendi nie ustadzah, bla bla bla… Dengan Prita, bla bla bla…” adu Mimin.

“Ih, bohong ustadzah, kada kok..” elak Nendi, dengan senyum malu menampakkan gingsulnya..

“Mmmm, kada  ngaku paling ya…” cerusku yang malah menambah keriuhan.

Kakak mengarahkan pembicaraan untuk kembali ke jalan yang benar. Seputar mimpi basah. Seperti dulu. Mimin bilang masih belum mimpi basah, dia udah dua kali dipanggil, jadi lebih paham. Mengenai baligh. Dulu, Yunus dengan Nendi belum jadi murid TPA Al Hijah saat pemanggilan Kakak yang pertama ke mereka untuk bicarain baligh. Yunus, sedikit-banyak tahu mengenai itu. Yunus juga belum mimpi basah akunya. Lalu Nendi, yang duduk di tengah. Dia bilang kalau dia pernah mimpi basah, dan bukan ngompol. Aku tersentak. Lebih tersentak lagi ketika…

“Terus pas abis mimpi itu, apa yang kamu lakukan?”Tanya Kak Kis.

“Nggak ngapa-ngapain ustadzah. Males bangun malah…”jawab Nendi dengan Jujur, Insya Allah.

“Mandi Keramas nggak abis itu, Nendi?” selidik Kakak.

“Nggak Ustadzah. Mandi biasa aja gitu…” Nendi menjawab.

Lalu mengalirlah penjelasan Kakak yang ringan dan santai tapi berbobot. Menjelaskan bahwa Nendi sudah baligh. Bahwa kalau seorang laki-laki abis mimpi basah harus mandi wajib, mandi junub, mandi besar, mandi keramas yang ada bacaan doanya. Dan lain sebagainya seputar balighnya laki-laki… Begitu tahu Nendi sudah “mimpi” aku tersentak, aku nggak bisa bilang apa-apa, Ya Robb, anak sekecil Nendi??? Sebagai salah seorang gurunya, sedikit banyak aku tahu tentang Nendi. Keseharian di TPA memberiku gambaran bagaimana keluarganya. Ayah-ibu yang sibuk, rumah yang teramat sederhana, sangat sederhana.

“Kalian pernah liat porno lah?” Tanya Kakak lagi.

Mereka berebut menjawab, “Aku pernah ustadzah..” astagfirullah…

Yunus bercerita, “Aku liat di BB, pas mau nonton kungfu-kungfu. Pas di buka ternyata, wee’.. film gitu ustadzah… Jefri juga pernah ditipu loh, sama Om… dia dipanggil, katanya mau diliatin film ninja, taunya film kaya gitu..” (*Jefri adiknya Yunus)

Nendi bercerita,”Aku pernah liat juga ustadzah, di hape. Pas mau mainan, eh, malah terbuka film gitu ustadzah…”

Mimin bercerita, “Temen aku ada ustadzah, mutar film gitu pas aku main. Bilangnya film Power Ranger. Tahunya kaya gitu, aku nggak jadi main.”

Mengetahui ini, kakak menyarankan kepada mereka untuk hati-hati. Disarankan kepada mereka untuk banyak-banyak membaca Al Quran di rumah. Terkhusus kepada Nendi. Dan juga Nendi diharuskan mandi wajib. Walau udah ntah kapan kejadian dia mimpinya, insya Allah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.

Tentang porno, film-film porno ini. Dan segala mengenai porno, Kakak pernah bilang bahwa usia baligh anak-anak semakin muda. Anak-anak semakin cepat DIPAKSA BALIGH oleh keadaan. Salah satu penyebab anak-anak lekas baligh diusia yang begitu muda adalah porno. Segala hal tentang porno yang dengan mudah terakses, terpampang dimana-mana. Tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi untuk hal begitu. Porno begitu mblarah dibalut dengan topeng yang oleh pihak-pihak yang teruntungkan disebut sebagai “KARYA SENI”. Gitu penjelasan Kakak ketika rapat pengajar. Kakak minta kepada Anam, salah seorang ustad di TPA untuk memasukkan materi tentang baligh. Anam pemegang materi Fiqh. Dan menurut kakak hal mengenai baligh sudah layak disampaikan kepada mereka, anak-anak yang udah mulai meninggalkan masa kanak-kanaknya.

Kepada mereke bertiga, ntah bagaimana lagi aku mesti bilang..

Yang satu udah mimpi basah, udah baligh, tapi begitu dangkal ilmu tentang itu. Dan lagi, aduh virus porno merajalela di mana-mana. Ini baru sampel. Tiga anak dari tiga puluh santri TPA. Bagaimana dengan dua puluh tujuh lainnya? Miris? Sangat! Sedih? banget…!! Di usia belum lagi genap 12 tahun, roman mereka, aura mereka… ah, anak-anakku ini…

Setelah interogasi dengan mereka selesai, kakak cerita sedikit ke aku, menambah perbendaharaan informasi aku mengenai Maulana bersodara. Nendi Maulana, Alwan Maulana, dan Leli Naharoh.. tapi cerita di fokus ke Nendi..

Ayah yang sibuk, begitu juga mamah. Rumah yang teramat sederhana. Bahkan kata kakak, “tidak layak huni”. Mmhhh.., ya Robb…

Pikirku melayang mengenai ayah Nendi, ah.. jangankan memperhatikan hal yang gitu-gitu mengenai anak laki-lakinya wong keseharian sudah capek mencari nafkah untuk keluarga. Semoga apa yang kupikirkan salah, walau dilihat dari sudut manapun indikasinya, apa yang aku pikirkan itu benar.

Mengingat lagi waktu liqo, di hari Minggu kemaren… My Murobbi ada bilang, bahwa yang terjdi sekarang ini, di Indonesia khususnya, ntahlah di negara tetangga, adalah KRISIS AYAH YANG SOLEH. Ayah yang soleh saat ini keberadaannya sudah masuk zona kritis, sebagai spesies yang HAMPIR PUNAH. Susah sekali mencari ayah-ayah yang bisa diteladani. YANG MASIH HIDUP tentunya. Berita selalu dihiasi dengan, seorang ayah begini, seorang ayah begitu, dan “ini dan itu” yang dimaksud adalah sesuatu yang buruk. So, aku mikirnya, mestinya ada program pemerintah yang namanya, MELESTARIKAN AYAH YANG SHOLEH. Atau ada seorang calon persiden dengan program yang diusung adalah men-SOLEH-kan AYAH-AYAH di INDONESIA. Hmmm, hanya pemikiran seorang warga yang bakalan jauh dari direalisasikannya oleh para pelaku maupun kampanye lovers.

Memang, baik buruk suatu negara, banyak diketahui ditentukan oleh bagaimana ibu-ibu di negara tersebut. Sudah tahu itu, sudah dari kecil dicekokin itu. Ustad-ustad juga kalau ceramah selalu gitu. Tapi mereka lupa…!! Para laki-laki lupa! Kalau tidak ada yang namanya sukses tunggal! Yang namanya sukses itu berjamaah! Sukses yang sendiri-sendiri itu namanya sukses yang semu. Bayang-bayang doank… Nggak bisa, ibu doank yang harus baik, terus negaranya jadi baik! BAPAKNYA JUGA KUDU BAIK…!!! Wong LAKI-LAKI ITU PEMIMPIN…!!

Tentang ayah, cukup Rasulullah saw. Sebagai panutan. Tapi, jika menganggap tidak bisa seperti beliau, karena beliau nabi dan rasul, atau karena jarak dengan beliau terlalu jauh, atau zaman sekarang dengan rasul sudah berbeda. Aku sedikit ceritakan tentang seorang ayah yang tidak berbeda jauh zamannya dengan sekarang. Beliau masuk di zaman milenium ini. Beliau masuk di zaman globalisasi ini. Beliau masuk di zaman ketika teknologi begitu canggih dan terus berkembang pesat tanpa bisa dikendalikan.

Ialah Kakekku… Aki Memed. (*Aki its mean Kakek, #bahasa_sunda). Kakak dari Kakek Kandungku. Pakde dari Mamahku. Aki Memed sangat memperhatikan anak laki-lakinya, yang kuingat dengan baik adalah Mang Adang. Mamah berkisah bahwa Aki Memed, ketika Mang Adang menginjak usia tidak lagi anak-anak, setiap malam Aki Memed ngecek tidurnya Mang Adang. Ketika Mang Adang udah tidur, sebelum subuh Aki sudah bangun, ke kamar Mang Adang untuk ngecek, apakah Mang Adang mendapatkan mimpi basah itu malam ini. Aki selalu berusaha menjadikan orang yang pertama tahu kalau anak laki-lakinya udah mimpi basah. Dirabain kasurnya, apakah basah atau tidak. Aki selalu berusaha menjadi orang tua yang menjadi tempat anak-anaknya bertanya dan juga menyampaikan segala sesuatunya. Terkhusus masalah laki-laki.

Lalu, semakin kesini, aku membaca Hasan Al Banna. Bagaimana ia dengan anak-anaknya. Luar biasa. Subhanallah.. Ah, aku merindukan ayah-ayah seperti mereka kelak untuk anak-anakku. Ayah yang soleh untuk setiap anak-anak dari zaman-zamannya.

(Palangka Raya, 20 Maret 2014 _21:55_ malam mulai gelap dan dingin, suara batuk tetangga kamar sesekali mengirama)

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s