EPISODE PAMER

#Hibur_Diri

“Ting-ting, Ting-ting …,” hape aku bunyi. Menandakan ada pengirim SMS. Aku yang lagi nunggu pemindahan data di Loopyku si Item yang tersayang, terlonjak kaget dibuatnya. Masalahnya nada dering SMS-ku bukan nada dering standarnya nokia. Tapi lagunya Ebiet G. Ade. Langit Terluka. Udah ku setting. Eh, kelupaan kalau kartu memorinya dilepas, lepas juga tu nada dering di hape.

Uun Kus T’as.
Tertera sebagai pengirimnya. Nomor adek sayah yang tekomsel. Nomor As-nya dia.
“Good afternoon.. how are you sister?” gitu bunyi SMS-nya. Pesan diterima jam 17:15. Geli aja aku bacanya. Jadi inget adegan di film Up! Pas Rusell datangin Mr. Fredricksen buat dapatin lencana menolong orang tua. Geli aja ama nada ngomongnya yang teks book banget. Uun adalah adik perempuan sayah yang paling cantik sedunia, paling solehah. Aku udah beberapa hari enggak SMS ataupun nelpon dia dan orang rumah. Enggak ada pulsa. Enggak ada money juga buat belinya. *Curhat. Aku Cuma bisa pake layanan CM (Call Me) punya Indosat. Ke nomor Indosatnya adik sayah. CM pun aku kirimkan. Menjelang waktu isya ada SMS dari Indosat menandakan bahwa CM-ku udah disampaikan ke nomor tujuan.

Abis isya, sekitaran jam 7-an kurang, nomor Telkomsel ayah nelpon. Dulu keluargaku adalah keluarga Indosat. Lalu sesuatu entah apa terjadi di kampuangku. Di sana, jadi susah sekali sinyal Indosat. Jaringannya jadi payah. Entah apapun namanya, pokoknya susah sekali lah komunikasi pake Indosat di kampuangku nan jauh di hulu sana! Padahal Indosat dikenal ama keluargaku sebagai penyedia layanan komunikasi yang murah. Murahpun tidak akan berarti apa-apa kalau enggak bisa dipake, mah! Indosat tergantikan ama Telkomsel. Bukan bermaksud mencemarkan salah satu pihak, tapi ini emang kenyataan. Kalau pake indosat, nelpon sampe jari keriting, Ya Allah …, enggak nyambung-nyambung! Kalau SMS, dikirimnya pagi, nyampenya malam. Atau sebaliknya. Aku pernah sms ke adikku, ngajak dia solat subuh, ada laporan menandakan smsnya telah terkirim pas udah waktunya solat asar! Astagfirulloh!! Kalau yang namanya telkomsel, dikenal ama keluargaku sebagai penyedia layanan komunikasi yang muahal. Tapi, mahal tidak jadi masalah selama masih bisa berkomunikasi dengan aku, ananda tercinta dari mamah dan ayahku. Ini yang menjadikan aku dan adikku memiliki 2 nomor kontak. Mengetahui keadaan jaringan di desaku kaya gitu, aku tetap teguh dengan kontak Indosatku. Enggak mau ganti-ganti. Ntar ribet lagi kasih tahu ke teman-teman infoin kontak baru. Begitu juga adikku. Untuk kontak telkomsel aku baru makenya, belum tahu banyak mengenai, yang kalau kata orang, operator yang satu ini. Dan baru cuma buat kalangan keluarga atau orang-orang tertentu aja yang tahu.

Waktu jam 7-an tadi, begitu “Halo?” ternyata suara mamah.
Jadilah, hampir setengah jam aku dengan mamah ngorbol. Cerita mengenai begitu sulitnya air di desaku yang tercinta, di musim kemarau ini. Bapak sampe mesti jam 2 dini hari ngangsu air di sumur pamanku di lain RT. Itu juga antri dengan banyak orang. Gantian nunggu keluar air dari sumbernya. Mamah menyaranku aku, si “boros air” supaya jangan pulang dalam waktu dekat. Mamah sangat mengerti aku yang enggak bisa pisah jauh dari air dalam waktu lama, yang enggak bisa tenang berdampingan dengan air kalau tidak melimpah ruah. Mamah tanya-tanya skripsi aku. Aduh, mamahku yang tercinta … Maafkan anakmu ini, Mah. Belum ada kemajuan dari skripsiku. Masih mentok di RPP. Aku juga belum ada konsul lagi. Tapi aku enggak sedetail itu bilangnya. Aku bilangnya sama mamah aku ribet di RPP. *Rencana Pelaksaan Pembelajaran. Buat kurikulum 2013 ini ya ampun, riweuh sekali. Aku enggak mau sok kepintaran dengan menyebutkan apa-apa yang ada di kuliahku. Takut merasa tersinggung aja mamahku. Soalnya kalau aku ngomong rada aneh dikit, curhat aneh dikit aja, mamah suka bilang, “Ah, Mamah mah teu nyaho nu kararitu. Kur lulusan esde sih Mamah, mah. Jalma bodo.” Kalau sudah begini aku berasa ditusuk seribu tombak di ulu hatiku. Merasa bersalah tingkat dunia akhirat.

Di salah satu obrolanku, mamah bilang, “Mbak Pesen tas jang si Ayu, ceunah.”
“Iya, nanti aku buatkan. Tapi bukan dari benang katun. Ntar tak buatkan dari benang poly. Biar rada bagusan,” Jawabku.
“Benang poly enggak ada di Palangka sini. Adanya di Sampit. Tapi aku mau beli online dari Jawa aja. Mungkin rada murah.” ceritaku
“Sekalian buat Inun. Pas itu juga katanya Uun, Teh Iim ada pesen juga.” Lanjutku.
Nya dihargaan baraha, gitu.” Mamah memberikan usul
“Aduh, baraha nya Mah? Aku enggak bisa ngahargaan ih.”
Nya di itung weh, baraha modalna…, bayaran nyieun na…,” mamah memberikan solusi.
“Mah, pas itu aku ada datang ke pameran di sini, aku ada lihat tas-tas rajutan meni mahal pisan ih. Tiga ratus ribuan. Bagus sih emang. Kalau aku jual semahal itu, laku enggak ya mah tas buatanku? Hihihihi…,” aku bercerita.
Ajaran weh atuh.” Mamah memberikan saran. Paling bisa ih, mamahku ini memberi semangat ke aku.
“Ari benang katun teh nukumaha?” mamah bertanya.
“Itu siganu aku buat tas jang Uun.” Sahutku.
Mun benang Poly?” Mamah bertanya lagi.
Aduh, aku bingung menjelaskannya. “Nya adalah…,” kataku.
“Lebih bagus aja gitu tampilannya dari benang katun,” sambungku.
“Rencanaku ntar yang buat Ayu sama Inun kubuatkan dari benang Poly. Aku ada juga buat tas dari benang Poly. Buat mamah. Mudah-mudahan Mamah suka.” Aku tersipu.
“Ya, mamah mah suka aja kalau udah dibuatkan, mah.” Kata mamah. Membuat aku semakin malu tersipu.
“Tapi sederhana pisan bentuknya.”
Alah, teu kudu di aneh-aneh teuing lah.” Kata mamah.

Obrolah berlanjut selama setengah jam ngobrol ngalor-ngidul-ngetan-ngulon.

Mengenai rajutan.
Aku memilki hobi, ditiap waktu luangku buat ngerajut. Saking hobinya, sampe-sampe tugas utamaku kadang-kadang menjadi terkalahkan. Sampe-sampe aku harus membatasi diri, menyetop diriku supaya berhenti merajut untuk sementara waktu. Beberapa hari yang lalu, aku baru menyelesaikan membuat tasku. Dan aku menguatkan tekad bahwa itu adalah tas terakhir dalam waktu dekat ini yang aku buat. Yang dari benang katun.

Aku belajar merajut sekitaran bulan oktober tahun 2013. Waktu aku baru datang dari kampuangku guna membuat KTP. *Kartu Tanda Penduduk. Aku menyesal, umur 17 tahunku udah lewat beberapa tahun silam. Tapi KTP baru di buat tahun lalu. Saat aku kembali ke kos, ternyata di kos lagi booming merajut. Sekosan pada merajut. Buat tas. Virus awalnya, ada adik tingkatku, Sylvia Agustina yang balik dari kampuang membawa tas rajutan karya dia. Jadinya sekosan minta diajarkan. Sylvi bisanya dari mamahnya. Hebat! Mantap pokoknya. Awalnya aku enggak mau belajar, waktu diajak belajar juga ama temenku. Aku merasa ribet sekali buatnya, waktu aku mengamati teman-temanku merajut. Aku bahkan berniat pesen satu tas ke salah seorang temanku yang udah bisa. Tapi, lama-lama akhirnya aku mau juga belajar. Dan bahkan sampai sekarang, di saat teman-temanku udah pada enggak merajut lagi, aku masih melakukannya.

Merajut itu emang seribet yang aku pikirkan, ketika aku melihat mereka, teman-temanku merajut. Tapi, aku benar-benar kesengsem dengan merajut. Semacam ada kenikmatan tersendiri kalau lagi merajut. Bahkan pernah sampe semalaman aku enggak tidur, demi merajut tasku. Proses belajarku sangat ribet, salah-salah mulu. Tas buatanku yang pertama dibongkar ulang lebih dari 5 kali. Yang kuingat ketika membuat dasarnya aja, bongkar ulang lebih mah 3 kali. Salah-salah mulu. Terus pas udah mulai ke bagian yang lainnya, dibongkar ampe 2 kali. Karena kurang kenceng. Terus talinya, dibongkat ampe 2 kali. Pas udah selesai, aku bongkar lagi, merasa kurang puas. Belum lagi pembongkaran-pembongkaran yang aku enggak ingat, saking berulang-ulangnya. Bongkar lagi, perbaiki lagi, enggak menjadikan aku bosan ama merajut. Justru malah makin suka. Aku bahkan membuat kotak pensil buat adik-adikku. Modelnya aku ngawur aja. Mengikuti imajinasiku. Dengan menggunakan pola-pola yang diajarkan sama temenku. Kami menyebutnya, rantai, bambu, kipas. Aku mau pamerkan 3 karya pertama buatanku. Ini dia…,

1

Tas pertamaku, kotak pensil buat adik-adikku (yang rada gede buat uun, yang rada kecil buat rendi, karena saat itu rendi masih TK)

 

Rada Geli juga sih, masa anak cowok kotak pensilnya dari rajutan. Hihihihi….

2

Kotak Pensil buat Uun

Belum cukup sampai disitu, aku merasa kurang puas ama tas pertama buatanku. Waktu bulan Februari akhir 2014, aku datang ke kos lagi,*Kuliahku belum beres, cuy! Aku bongkar lagi tu tasku. Aku mikirnya, tas pertamaku kudu bagus, aku merasa kurang puas, semacam ada yang kurang dimana-mana. Aku melakukan semua ini di kos, soalnya kalau di kampuangku, aku sibuk. Sibuk makan, main tempat sodara, nonton tivi, tidur, dan lain sebagainya agendaku dikampuang sana. Pada akhirnya, tas pertamaku jadinya begini. Taraaa…..!!!

3

fix tas pertamaku

 

Di semester tahun 2014 ini aku emang mengerjakan skripsi. Itu tugas utamaku, merajut hanya selinganku. Skripsi. Aku pikir awalnya dalam pengerjaannya bakal sibuk banget. Ternyata, emang bikin sibuk. Sibuk ngelapin air mata! Bukan kelilipan debu, tapi mewek! Hihihihi…

Daripada keki enggak ketulungan, galau ngeranyau enggak jelas, aku melampiaskannya ke rajutan. Aku merajut lagi.

4

Dan hasilnya adalah…..

5

Enggak sampai disitu aja. Aku ingat waktu januari 2014 kepulanganku, adikku Uun, merengek minta dibuatkan tas. Dan aku bersedia memenuhinya. Tapi dengan syarat, dia enggak boleh lepas dari 3 besar di kelasnya. Janji itu kupenuhi.

6

Juni 2014 Uun pengumuman, dan dia menduduki rangking 3. Turun peringkat dia, waktu semester sebelumnya, dia rangking 2. Tapi tetap bersyukur, masih masuk 3 besar. Dan ketika libur ramadhan, aku membawa hadiaku buatnya. Aku membawa tas yang warna merah muda ama yang warna belang merah biru, aku memberi kebebasan ke dia buat milih salah satunya. Dan pilihannya jatuh pada warna merah muda. Aku moto karya-karyaku pake kamera hape. Hapeku hape jadul. Kameranya juga enggak secanggih dan sebagus kamera-kamera sekarang. Aku, kalau aku menilai, karya-karyaku, warnanya yang asli lebih bagus dari warna-warna hasil jepretanku. Hihihihihihi…

Adikku rendi pun minta dibuatkan tas rajutan. Lucu amat. Aneh aja gitu kalau cowok pake tas rajutan. Tapi aku enggak menolaknya, aku malah mempunyai pemikiran, kalau aku mau buat tas rajutan di bentuk ransel, yang juga pantes dipake ama cowok. Masih dalam pemikiran aja, belum hunting bentuk juga aku. Semoga suatu saat bisa aku.

Dalam merajut, aku enggak berpuas dengan hanya bisa membuat tas aja. Aku mencoba belajar juga membuat bros, meskipun belum sebagus karya-karya orang yang aku lihat diinternet, tapi lumayanlah. Aku bisa membuatnya.

7

7aa

7ab

7b

Bros itu bukan karya pertamaku. Bros karya pertamaku enggak sempat ke foto, udah enggak tahu kemana. Bisa jadi udah ke jual atau mungkin ku kasihkan ke temanku. Aku enggak ingat. Bros yang warna pink, aku belajar ke temenku. Bros yang warna kuning diatas memiliki cerita lucu dalam pembuatannya. Diawali dengan aku hunting model-model bros diinternet, ada satu bentuk bagus banget yang aku suka. Aku ngenetnya lewat hape yang enggak bisa nge-save foto dari internet, jadinya enggak bisa aku tunjukkan kebagusan model itu. Aku pengen bisa buat bros kaya yang dipajang orang diinternet itu. Enggak bisa-bisa, ternyata. Akhirnya aku ngawur sebisaku. Jadilah bros kaya di foto di atas itu, yang berwarna kuning. Itu 2 bros yang aku sempat foto dari model itu. Aku menyebutnya sebagai produk gagal, tapi kata temanku bagus. Bahkan ketika aku jual, pun laku. Alhamdulillah.

Berikutnya ada juga model bros rajutanku yang diawali dengan sesuatu yang aku bilang produk gagal. Temenku menunjukkan bros rajutan yang ia beli di Banjarmasin. Besar. Bagus banget. Aku suka modelnya, dan aku penasaran pengen buat. Sampe didedel ama yang punya. Pengen tahu cara buatnya. Dan aku niru. Tapi bentuknya beda banget. Jaaauuh!! Aslinya gemana, hasil buatanku gemana. Jalan snediri-sendiri, wes! Ini beberapa yang aku buat yang sempat aku foto.

8

9

10

11

12

13

Bros-bros ini aku foto ketika pembuatannya belum fix. Aku pinjam kamera teman yang rada bagusan. Pengen aja gitu dokumentasikan karyaku dengan baik. Pas belum selesai, udah keburu dikembalikan kameranya. Untuk bros-bros yang warna keseluruhannya sama aku menambahkan beberapa hal. Kaya salah satunya begini,

14

15

bros ini difoto ama kameraku. Kentara sekali bedanya. Hihihihi…

Ada juga bros-bros yang berbentuknya kaya begini,

15a

Bros-bros itu aku bawa pulang kampuang waktu liburan ramadhan kemaren. Alhamdulillah laku. kalau yang bentuknya kaya emoticon gitu para pembeli banyak yang saranin supaya dijadiin jepit rambut. Aku bingung, gemana buat jepit rambut dari rajutan. Kalau bondu kayanya aku pernah lihat. Dan belum pernah buat. Suatu saat aku pengen membuatnya.

16

17

Kesemuaan yang aku buat adalah dari benang katun. Kecuali bros emoticon itu, yang itu baru. Bros emoticon yang dari katun di kampuang sana semua, udah. Yang itu dari benang poly. Waktu aku baru kenal ama yang namanya benang poly. Aku ada satu lagi karyaku yang dari benang poly. Menurutku benang poly lebih bagus dari benang katun. Merajutnya pun lebih nyaman. Karya pertamaku dari benang poly adalah tas buat mamah. Ini dia,

18

Tadinya mau aku buat polos aja tanpa bunga. Tapi aku berubah pikiran. Tas buat mamahku fix-nya jadi begini. Sederhana. Seperti kataku dalam perbincangan di telpon dengan mamah.

19

Aku, seperti kataku. Bahwa aku akan mengakhiri pembuatan tas dengan menggunakan benang katun untuk waktu sekarang-sekarang ini. Dan ini adalah karya terakhirku dalam waktu sekarang-sekarang ini yang terbuat dari benang katun.

20

Insya Allah kedepannya karyaku bakal lebih baik lagi. Dan lebih banyak lagi. Aamiin.
Aku, aku kalau lagi galau meratapi nasibku sebagai mahasiswa semester banyak, kalau lagi curhat ama Allah, juga sama teman. Selalu saja aku mendapatkan instruksi bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Ketika temen kos yang mentes banget di agama, rada militan, pindah, aku sedih. Dan kata temenku yang lain, dia bilang, “Teteh, segala sesuatunya pasti ada hikmahnya. Mungkin dengan kepindahan dia, kita bisa menjadi lebih baik. Supaya bisa menempati posisi militannya dia di kos ini.”

Dan mengenai rejekiku sebagai mahasiswa semester banyak ini, aku pernah mengutarakan perkataan kepada temenku, “Bisa jadi hikmah aku jadi mahasiswa semester banyak salah satunya adalah aku jadi bisa merajut. Bisa buat tas, buat bros…,” kataku. Perkataan itu mampir dibenakku sebagai hasil perenungan suatu malam, setelah curhat ama Allah, nangis gulung kuming. Meskipun gitu, hal ini, bisa merajut, alhamdulillah bisa menjadi pelipur laraku di masa-masa ini. Masa menyandang predikat mahasiswa semester banyak.

 

(@Pondok_Luwes, malam minggu yang sepi, 20 September 2014, di kamar yang banyak nyamuknya karena jendelanya masih terbuka, sementara di luar, asap begitu pedih menyengat mata, bau menusuk hidung 22:12)

 

Iklan

10 thoughts on “EPISODE PAMER

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s