Mahasiswa Bangke…!!

Lama sekali aku nggak nulis perjalananku mengurai waktu sebagai mahasiswa kaya, kaya dalam arti sebenarnya, mahasiswa sugih, mahasiswa benghar. Banyak hal yang harus aku kerjakan yang berhubungan dengan tugas akhirku. Skripsi yang terhormat. Hal-hal itu sangat ingin aku tuliskan, meski beberapa udah mengendap di buku dairiku yang berisi lukisan cakaran ayam kampung di selokan yang mulai kering karena kemarau. Semoga kelak aku memiliki waktu, kemampuan dan kemauan buat nulis hal-hal tersebut. Karena kalau nggak diungkapkan apa-apa yang mengisi kepalaku, rasanya puyeng udzubillah, kepala cenat-cenut, jadi bukan cuma lagunya si Smash doank yang bisa cenat-cenut, kepala Guwweh juga, sodarah-sodarah!

Hari Senin tanggal 15 bulan September tahun 2014, aku sukses menyelesaikan registrasi di prodiku *Program studi. Pendidikan Fisika. Ya! Sampai juga aku dengan tahun ajaran baru di perkuliahan di semester ini. Tahun ajaran baru lagi, tahun ajaran baru lagi. Aih…, harus sampai kapan aku menjalani semua ini. Ya Allah tolong hambaMu inih….

Temaku dalam masa sudah 1,5 tahun ini adalah kadaluarsa, expaied, basi, udah lewat batas waktu. Tinggal nunggu kapan waktunya dikirim ke pembuangan terakhir. Astagfirulloh…., enggak ah… Semoga tidak sampai ke sana. Semoga saja ada tangan-tangan ajaib yang bersedia mendaur ulang kekadaluarsaanku ini menjadi sesuatu yang baru. Yang jauh lebih bermanfaat. Aamiin, semoga.

Hari kemaren, dengan hati dag dig dug dor..!! Aku ngontel dengan mesra bareng ama Si Merah, sepedaku tersayang, ke Prodiku. Hati harap-harap cemas. Karena sebenarnya masa registrasi KRS udah lewat 2 minggu yang lalu. Bayangin aja, tanggal 6 september terakhirnya, lah aku datangnya tanggal 15. Benar-benar aku ini heh, kadaluarsa dalam segala bidang. Sampai di depan pintu Prodi, aku ketemu ama teman satu angkatan. “Alhamdulillah ya Allah, ada teman. Jadi aku enggak kadaluarsa sendirian.” hatiku membatin. Sambil nunggu Ibu ketua Prodi datang, menggosiplah aku dengannya. Banyak hal yang kami gosipkan. Mahasiswa semester banyak nih, selalu punya bahan gosipan yang semakin seru ketika diperbincangkan.

Tidak lama datanglah dua kakak tingkat, cowok. Yang satu aku nggak tahu namanya, nggak ingat bah! Tapi wajahnya familiar banget. Maklum lama nggak sering ketemu lagi dikampus. Satunya aku tahu namanya, beliau sosok yang mudah dikenali, mudah diingat. Kakak yang wajahnya familiar ini sebut aja dengan Kakak Tingkat Kesatu (KT1), dan kakak tingkat yang kedua, yang mudah dikenali ini, aku menyebutnya dalam tulisan ini sebagai Kakak Tingkat Kedua (KT2). KT1 sibuk dengan berkas-berkas ntah apa, aku pikir maybe berkas-berkas sidang skripsi. Daripada hati penasaran, juga untuk dari pada diam-diaman di ruang tunggu, aku membuka percakapan.

“Berkas apa ini, Kak?” tanyaku.
“Ini surat perpanjangan kuliah, De?” jawabnya.
“Oh… Buat apa ini Kak? Kakak ini tinggal apa lagi, sidangkah?” aku kembali bertanya.
“Sidang apanya De. Proposal gin balum.” Jawabnya. Aku nggak percaya dengan jawaban Kakak. Selain karena kakak yang ini senang berkelakar, rasanya nggak deh kalau kakak emang belum Proposal.
“Kami ni nah Mahasiswa Bangke, De. Hahahaha…” KT2 menyahut.
“Maksudnya Kak?” aku nggak ngerti. Senyum-senyum udung banget Guwweh!
“Udah bukan mahasiswa kadalurasa lagi Kami ni, mahasiswa bangke yang ada.” KT2 menjelaskan keudunganku dengan suara cemprengnya.
“Astagfirulloh, hehehehe…” Aku hanya bisa terkekeh.

Setelah aku pikir, emang sih.. Aku aja udah mahasiswa semester banyak. Dan beliau berdua ini adalah Kakak tingkatku. Dua angkatan di atasku. Emang wajar aja kalau mereka menyebut diri sebagai mahasiswa bangke. Aku dan beberapa mahasiswa yag berada ruang tunggu itu terkekeh bersama, bercanda, membahagiakan diri, menghibur diri, mentertawakan keudungan diri masing-masing. Satu doaku kepada Allah Robbul ‘izzati, doa untukku, temanku, dan juga kakak tingkat yang aku temui di Prodi kemaren, “Rob… mudahkan segala urusan Kami dalam menyelesaikan studi ini. Ampuni segala kelalaian kami..”

Perbincangan semakin seru, ditambah dengan datang lagi 2 kakak tingkat cewek. Yang ini aku kurang tahu kakak tingkat dari angkatan tahun berapa, yang aku tahu salah satu diantara mereka-mereka yang datang kemudian, yang memenuhi ruang tunggu adalah kakak tingkat yang udah lulus, yang masih berurusan dengan prodi untuk ijasahnya. Salah satu Kakak tingkat yang cewek bercerita mengenai perlakuan adek-adek tingkat yang sekarang mengisi HIMAFIS Prodiku di UNPAR ini. Bagaimana perlakuan mereka ke Kakak tingkat. Kakak itu bercerita dalam bahasa asli kalteng, bahasa dayak, yang nggak terlalu kupahami. Sedikit banyak, aku mengerti isi cerita Kakak, lebih tepatnya curahan isi hati kakak. Tentang bagaimana begitu ngece-nya adek-adek tingkat kepada kakak-kakak tingkat. Apalagi mahasiswa semester banyak kaya aku, terlebih lagi mahasiswa bangke kaya mereka. Mereka, adik-adik tingkat, padahal enggak tahu bagaimana nasib mereka dikemudian hari, apakah mereka-merekalah kelak yang bakal menggantikan mahkota kakak-kakak itu sebagai mahasiswa bangke.

Di UNPAR kalteng ini, sedikit banyak aku mendengar bahwa Prodiku adalah Prodi yang paling susah lulusnya. Ujar urang jua, jar paling sedikit tiap tahun wisudaan yang lulus ni dari Prodiku. Bahkan denger-dengerlah, ujar urang jua tu beh, ada dosen yang sayang banget dengan mahasiswanya, senang berlama-lama bersama dengan mahasiswanya, betah berlama-lama memberikan ilmu buat mahasiswanya yang tersayang. Hal itu karena beliaunya dulu digituin ama dosennya waktu masih jadi mahasiswa. Dilamain gitu waktu penyusunan tugas akhirnya. Mengenai berita ini, wallau’alam. Kurang tahu kebenarannya aku. Meski 80% berita tersebut adalah benar. Meski sedikit banyak ujar orang benar, namun aku melihat, merasa, menyaksikan bahwa Prodiku sedang berbenah. Segala sesuatu di Prodiku sedang diperbaiki, administrasi, sistem, dan segalaan di Prodiku sedang dalam perbaikan menuju Prodi Fisika yang lebih Baik. Mengenai dosen yang sayang dengan mahasiswanya, jika hal itu adalah benar, aku hanya bisa mendoakan supaya dosen itu insyaf. Kembali kejalan yang benar. Menyayangi mahasiswa dalam batas wajar saja. Hihihihihi…

Baiklah…
Setelah ngalor-ngidul, ngacamprung ngegosip kesana kemari kesono kesini, mengungkapkan kata-kata yang selalu menyabaki kepala sayah, intinya sayah mau bilang, “Jangan Mau dan Jangan Sampai jadi mahasiswa semester banyak, kaya sayah. Apalagi mahasiswa bangke! Dihina-hina adik tingkat. Dan juga renungilah wajah ayah dan mamah yang bahkan diusia mereka yang sudah tua, masih dirungsingkan dengan memikirkan dan mengusahakan biaya kuliah. Ini untuk mahasiswa yang biayanya ditangguh ama orang tua kaya sayah.”

Sungguh, menjadi mahasiswa semester banyak bukan cita-cita sayah. So, jangan pernah ada makhluk di bumi Allah ini yang berniat mengikuti jejak sayah. Dan pipi sayah, mata sayah tidak pernah selamat dari hujan badai air mata jikalau mengingat semua yang terjadi ke sayah. Kuliah yang belum juga bisa sayah selesaikan, orag tua sayah yang diusia tuanya belum ada hal yang bisa sayah persembahkan untuk mereka.

(@Pondhok_Luwes, hari Senin tanggal 16 bulan September tahun 2014, dikamar nomor 11 yang udah seminggu nggak di sapu saat jam di Loopy Item yang udah sering heng hong ini menunjukkan waktu 19:22 WIB)

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s