Tentang Imas

Episode Tungku

 

Sepuluh tahun yang lalu. Listrik masih belum nyampe ke desaku. Masih lama. Karena barulah sekitar sepuluh tahun kemudian tiang-tiangnya terpancang di depan rumah di tiap-tiap jalur di desaku. Desa Cempaka Putih. Rumah masih diterangi ama Lampu Teplok kala itu. Lampu minyak yang ditempel (nemplok) di dinding. Masak pun masih mengunakan tungku kayu bakar. Belum menggunakan rice cooker atawa kompor gas kaya sekarang. Dan musim pun masih beraturan sesuai jadwalnya.

Saat itu awal musim hujan, sekitar bulan Oktober. Suatu senja yang sedikit basah karena gerimis yang numpang permisi di sepanjang hari itu. Hari itu memang benar-benar basah, bahkan dari beberapa hari sebelumnya. Hujan dan gerimis silih berganti mengisi hari, tanpa mau tahu apakah kayu bakar di dapur rumah habis atau masih ada. Sementara, mesin-mesin percernaan di badan para penghuni rumah juga enggak mau istirahat, tetap berproduksi. Untuk bertahan hidup, dan supaya mesin-mesin pencernaan enggak mogok, Abah terpaksa membongkar pagar rumah, kayu-kayu selengan orang dewasa, sisa-sisa perayaan Agustusan, buat dialih fungsi menjadi kayu bakar.

“Imas. Seuneuna rek pareum tah. Hawuna bere pager gera ameh hurung. Apinya mau padam tuh. Tungkunya kasih pagar coba biar nyala,” kata seorang ibu-ibu muda pada seorang anak perempuan yang duduk di bangku kecil di depan tungku. Mengusir dingin dengan mengais sedikit radiasi panas dari api di tungku yang nyala dengan terpaksa.

Adzan berkumandang, mengajak orang-orang di rumah itu untuk sejenak meninggalkan segala aktivitas keduniaan. Sejenak bersimpuh bercengkerama dengan pemilik semesta.

“Imas, tinggalken heula hawu. Hayu Sholat heula. Tinggalkan dulu tungku. Ayo sholat dulu,” ajak Abah saat seluruh keluarga sudah berkumpul untuk sholat berjamaah.

Muhun engke heula sakeudap. Iya nanti dulu sebentar. Imas nyusul,” sahut Imas.

Sholat pun dilaksanaakan tanpa keberadaan Imas di barisan makmum. Entah apa yang menghalangi Imas untuk ikut jamaah senja itu. Sementara yang lain sedang berjamaah sholat, Imas membuat sedikit kegaduhan di dapur. Sampai sholat selesai Imas tidak juga beranjak dari dapur. Sampe akhirnya Bi Utih penasaran dengan apa yang dilakukan Imas, menyusul ke dapur.

Ker Naon maneh teh, Imas. Ti tatadi ngan gedak-geduk wae di dapur. Nakolan naon? Lagi ngapain kamu itu, Imas. Dari tadi gedak-geduk aja di dapur. Mukulin apa?” tanya Bi Utih.

“Iye yeh, nuju mageran hawu. Tadi apan dipiwarang mageran hawu ku bibi. Ini nih, lagi magarin tungku. Tadi kan tungkunya disuruh dikasih pagar sama bibi,” jawab Imas polos.

Lalu nampaklah pemandangan beberapa serpihan kayu kecil nancap mengelilingi tungku. Seolah membentuk pagar yang mengelilingi tungku yang apinya semakin sekarat nyalanya.

“Astagfirulloh, Imaas… Ari maneh teh meni tengteuingeun. Ari maksud Bibi teh, hawuna di asupan suluh urut pager. Suluh nu garing. Ameh senena hurung ngagebrung. Lain nanancebkeun suluh nyieun pager di sisi hawu kos kitu. Kamu itu keterlaluan. Maksud Bibi, tungkunya dimasukin kayu bekas pagar. Kayu yang kering. Biar apinya nyala besar. Bukan nancap-nancapkan kayu buat pagar di pinggir tungku,” Bi Utih shock dengan apa yang dilakukan Imas. Jengkel juga geli campur jadi satu, menampilkan ekspresi mau nangis dan tertawa bersamaan. Enggak karu-karuan.

“Oh.. sugan teh mageran hawu. Da cek Bibi kan hawuna dibere pager. Kirain magarin tungku. Kan kata bibi tadi tungkunya dikasih pagar,” Imas mengungkapkan apa yang dipahaminya dari perintah Bi Utih.

Maksud bibi ye kiye yeh…!! Maksud bibi gini nih…!!” dengan gemes Bi Utih mengambil beberapa kayu bakar bekas pagar rumah lalu memasukkannya ke dalam tungku.

Ges, gera magriban kaditu. Udah segera sholat magrib sana,” Bi Utih mengusir Imas dari dapur.

Semetara aku yang menjadi penonton semenjak tadi, tidak sanggup menahan ketawa melihat hasil karya Imas. Sesuatu yang menyerupai pagar mengelilingi tungku yang apinya mulai gemeretuk menyala.

(Selesai diketik di salah satu hari yang panas di bulan-bulan musim penghujan, 28 Januari 2015_13:27_)

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s