Tentang Bertanya

Kejadiannya waktu awal-awal saya datang ke Katingan dari Kalimantan Barat. Di Katingan, saya, ayah, dan ibu tinggal di rumah nenek. Ya begitulah, rumah nenek cukup besar. Meskipun bukan Rumah Betang, tapi muat untuk beberapa keluarga dari keluarga-keluarga kecil anak dan menantu nenek. Nenek saya punya Langgar. Anak-anak di tiga RT sekitar, belajar ngaji dengan beliau di Langgar. Dalam tujuh hari, ada salah satu malam yang merupakan jadwal beliau bercerita kepada murid-murid ngaji di Langgar. Dan sebagai salah satu murid ngaji di Langgar, jadwal itu adalah kesukaan saya. Ya, saya suka semua cerita dan dongeng-dongeng dari nenek. Kisah-kisah daerah yang merupakan kekayaan nusantara, kisah para nabi, kisah sahabat nabi dan lain sebagainya. Hampir tidak ada yang luput dari penceritaan beliau. Saat itu saya lagi bawel-bawelnya menanyakan segala sesuatu yang ingin saya ketahui. Sampai kemudian di salah satu malam, ketika beliau menceritakan penggalan kisah seseorang yang merupakan kecintaan saya, yaitu Nabi Muhammad saw. Di akhir cerita saya nyeletuk bertanya.

“Nek, Nabi Muhammad itu orang mana sih? Orang Jawa, orang Sunda, orang Banjar, apa orang Dayak?” saya bertanya dengan polosnya.

“Hus, ngawur! Pamali naros kitu*…!!” nenek membentak saya. Sungguh merupakan respon yang sangat tidak terduga. saya sedikit shock mendengar sahutan nenek.

Saat itu Langgar lagi penuh. Diisi ama orang-orang yang belajar ngaji dengan beliau. Murid beliau cukup banyak. Lintas generasi pula. Ada anak yang belum sekolah, saya salah satunya. Ada anak TK, ada anak SD, ada anak SMP, ada anak Bujang, juga ada orang dewasa yang hatinya senantiasa tertambat dengan Langgar.

Melihat Langgar yang penuh ama penghuni, dan juga mendengar respon nenek saya yang jauh dari harapan, kontan hal itu membuat saya mengkeret. Malu akut, sampe hampir nangis. Dalam benak, saya berpikir, apa salah kalau saya bertanya seperti itu. Saya hanya ingin tahu tentang seseorang yang menjadi kecintaan saya.

Sadar bahwa nenek telah salah dalam merespon pertanyaan anak sekecil saya, beliau berusaha memperbaiki apa yang telah beliau lakukan. Beliau merengkuh saya yang saat itu duduk disamping beliau, kedalam pangkuannya. Lalu dengan lembut beliau menjelaskan.

Geulis, Rasulullah itu bukan orang Jawa, bukan orang Sunda, bukan orang Banjar, bukan orang Dayak. Bukan orang mana-mana. Rasulullah itu orang Arab Quraisy. Bla, bla, bla…,” nenek menjelaskan.

Saat itu sebenarnya saya masih ingin bertanya lagi. Arab Quraisy itu suku apa? Dimana? Dan lain sebagainya. Saat itu pengetahuan saya masih cetek. Dalam pengetahuan saya, dunia itu adalah hanya desa tempat saya tinggal dan desa sebelah saja, desa seberang sungai besar. Dan orang yang saya tahu adalah orang Jawa, Sunda, Banjar, dan Dayak. Jadi Arab Quraisy itu sangat tidak familiar di saya. Tapi saya cukup pintar untuk belajar dari kejadian sebelumnya. Saya belum siap kalau mendapat respon yang mengejutkan seperti pertanyaan pertama. Padahal banyak sekali pertanyaan yang memenuhi otak di kepala saya. Alhamdulillah saya cukup kuat untuk ngempet pertanyaan-pertanyaan saya.

Sejak saat itu, saya tidak getol lagi dalam menanyakan segala sesuatu yang ingin saya ketahui. Kalau ada yang ingin sangat saya ketahui, saya cukup menanyakannya pada diri saya sendiri. Menyimpannya dalam benak saya dengan rapi. Mengendap. Dan baru kemudian muncul ketika dikemudian hari saya menemukan jawabannya.

Alhamdulilah, dari sebelum masuk TK saya sudah bisa membaca. Segala hal yang merupakan tulisan, saya baca kala itu. Istilahnya lagi mamayu. Lagi senang-senangnya dengan sesuatu. Saya senang membaca. Saya senang mencari tahu. Tapi tidak dengan bertanya. Jadi jalan salah satu untuk saya tahu sesuatu adalah dengan membaca. Dan dari membaca itulah kemudian saya mendapatkan jawaban pertanyaan-pertanyaan saya. Meskipun sering juga pertanyaan dimasa kecil saya, baru saya temukan jawabannya di kala saya sudah sekolah SMP. Bahkan salah pertanyaan masa kecil saya, baru-baru ini baru saya temukan jawabannya.

 

_*nanya begitu_

(Terinspirasi buat nulis kejadian yang saya alami ini, dari salah satu event yang ada di grup di FB. Meskipun saya enggak ikutan event tersebut. Saya terpanggil untuk mengabadikan salah satu moment zaman saya kinyis-kinyis dalam bentuk tulisan ini. Selesai di ketik, 29 Januari 2015 _23:35_)

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s