Tentang Sandi

Image008

Sandi.
Salah satu anak saya dari sekian anak-anak yang mengisi relung hati saya.
Entah mulai kapan, tapi anak ini udah enggak berada dalam radius pandangan mata saya lagi sekarang ini.
Membuka album lama, saat saya masih hobi jepret-jepret dengan kamera ala kadarnya yang sangat di bawah standar.
Membuka kembali ingatan saya mengenai anak yang satu ini.
Anak yang baik, cukup rajin dan bersemangat belajar. Kala itu.
Yang saya ingat, anak saya yang satu ini sering datang telat.
Saya suka prinsipnya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Kalau dia datang, selalu langsung menghampiri pengajar dan bersalaman.
Tak jarang Sandi datang dengan wajah sembab. Habis menangis saya kira.
Pun seperti sore itu.
“Ustazah maaflah terlambat…,” katanya takut-takut.
“Engga papa…,” sahut saya. “Sandi duduk di sana ya…,” saya menambahkan sambil menunjuk ke satu arah. Dia pun menurut.
Mengalami kejadian itu, apa yang Sandi alami sore itu. Mengingatkan saya ke masa kelas 2 SMP. Saat jalan-jalan penghubung desa masih belum sebagus sekarang. Saat musim hujan, dan saat saya mencoba sekolah dengan PP dari SP 6 ke SP 2.
Di suatu hari yang habis hujan hampir semalaman, jalan jadi bubur, angkot ala desa saya, yang saya tumpangi terjebak dalam satu kubangan yang mirip pemandian kerbau di tengah jalan yang mentereng. Pun angkot-angkot dari SP-SP yang lain. SP 5, SP 4, SP 3.
Saya terlambat datang ke sekolah. Jam pelajaran pertama udah di mulai sejak lama ketika saya sampai sekolah, pelajaran agama. Saya ingat guru saya, Pak Anwar. Orang SP 1, semoga beliau selalu dalam naungan rahmat Allah swt.
Saya datang ke sekolah seperti habis dari sawah. Belepotan lumpur. Sepatu saya tenteng.
Saya ketuk pintu kelas yang terbuka, beliau persilahkan saya masuk.
Saya langsung menuju meja beliau.
“Pak saya terlambat…,” saya mau nangis. Ekspresi saya jelek sekali. Saya berkaca-kaca. Bahkan sempat satu titik mutiara bening nyenggol pipi saya sebelum kemudian pecah menumbuk lantai kelas.
“Engga papa.. Silahkan duduk,” sahut beliau dengan senyum khasnya.
Kembali ke Sandi.
Di hari lain dia datang dengan terlambat dan wajah yang sembab.
“Sandi abis nangis, ya.. kenapa?” tanya saya ketika tiba giliran dia ngaji face to face dengan saya.
“Dipukul abah. Disuruh ngaji ustazah…,” adunya.
“Loh kenapa Sandi sampe dipukul? Sandi engga mau ngajikah?” aku menyelidik.
“aku teguring ustazah ai. terlambat. Kada wani ngaji..” jawabnya.
“Loh ya engga papa.. Ngaji aja. Besok-besok Sandi datang-datang aja lah. Lambat gin engga papa kok…” aku menegaskan.
Inggih ustazah.” jawabnya.
Biasanya acara wajah sembab hanya sebentar mampir di wajah Sandi. Enggak perlu sampe 5 menit dia udah ceria lagi.
Sandi adalah salah satu anak saya yang cukup aktif.
Sering saya temukan beberapa luka dan lebam di wajahnya.
Ketika saya tanya, “Jatuh ustazah ai..” jawabnya.
Aih, mungkin salah satu buah keaktifannya.
Meski saya pernah mendapatkan beberapa kali aduan Sandi kepada saya, karena gangguan teman-temannya. seingat saya, saya tidak pernah mendapati aduan anak-anak saya yang lain atas gangguan Sandi.
Saya suka dengan ekspresi wajah Sandi ketika dia membaca Al-Qurannya. Penuh penghayatan. Ketika dia membaca, wajahnya menunjukkan ekspresi seolah dia paham apa yang dia baca. Meskipun masih tersendat dan kurang benar dalam tajwidnya. Mata jernihnya, suara lantang tanpa ragu. Saya masih menyimpan itu semua dengan rapi dalam benak saya.
Aih, Sandi. Sejak kapan ya, kamu berhenti ngaji? Maaf, ibu enggak mengingat semua tentang kamu dengan baik Nak. Karena banyak teman-temanmu yang lain juga yang telah mengisi hati ibu dan memerlukan perhatian juga. Sama sepertimu.
Semoga kamu memaafkan ibu…
Ngaji dimana kamu sekarang, Nak?
Sandi, pasti kamu sudah besar sekarang ya Nak..
Dimanapun kamu sekarang belajar, tetap belajar dengan semangat dan sungguh-sungguh ya.
Seperti Sandi yang telah mengisi hati ibu. Sandi yang selalu semangat dan bersungguh-sungguh dalam belajar
Semoga ilmu yang kamu dapatkan membawamu dalam kemuliaan.
Semoga Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim senantiasa melimpahimu dengan kasih dan sayangNya, Nak…
Selalu jadi anak yang soleh ya..
ibu merindukanmu, dan selalu mendoakan yang terbaik buatmu nak.

 

_SP_ satuan pemukiman (nama lain desa)
_Teguring_ tertidur
_Kada wani_ tidak berani

 

(Selesai diketik saat kos sudah sunyi sejak tadi. Palangka Raya, 05 Februari 2015_23:29_)

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s