Mumpung Timing, Valentine’s Day

Saya mengenal ada yang namanya Valentine’s Day atau V’day waktu menginjak SMA. SMP saya sekolah di rada jauh dikitlah dari kota. Nama lainnya, hulu. Alias pelosok. Karena SMA saya sekolah di kecamatan (_satu-satunya SMA sekecamatan_), otomatis saya berada di kota. Kota kecamatan. Parenggean. Meskipun aslinya Parenggean itu rada di pelosoknya Kalimantan Tengah.

Kelas 1 SMA, saya masih kinyis-kinyis. Aura hulu masih melekat di roman saya. Waktu kelas 2, saya kos dengan adek tingkat. Dua orang. Saya dikenalkan dengan yang namanya V’day ya oleh salah seorang dari mereka. Saat itu saya tahunya V’day adalah hari kasih sayang. Saatnya berbagi bunga dan juga coklat. Meski enggak mudeng kenapa rasa sayang disimbolkan dengan begitu. Saat itu, salah satu adek tingkat saya, sebut saja A. Beliau mau pulang kampuang. Di V’day itu. Beliau meninggalkan beberapa coklat dan juga surat. Niatannya untuk saya dan juga adek tingkat saya yang satunya, si B. Tapi saya dengan si B ini enggak mudengan. Sama-sama masih kinyis-kinyislah. Si A juga enggak pesen apa-apa. Cuma meletakkan coklat dan juga suratnya dengan begitu saja. Ya itu surat ama colat enggak diapa-apain. Sampai si A kembali, dan V’day udah lewat. Beliau, si A ini kaget kenapa suratnya dan juga coklatnya masih utuh. Lalu menjelaskanlah si A ini bahwa apa yang beliau taruh adalah buat saya dan si B. Setelah ngeh, saya dan si B meminta itu coklat dan suratnya. Eh, enggak dikasihnya. Malah udah dibuangnya, kata si A. Alasannya karena V’daynya udah lewat. Oalah…

Penasaran ama V’day. Dan juga saat itu di sekolah, perpustakaannya banyak banget kumpulan majalah remaja, kayanya emang sekolah langganan majalah-majalah begitu. Di sana ada satu majalah yang menceritakan kenapa sampai ada yang namanya V’day. Saat itu enggak saya catat bagaimana isi artikel itu lengkapnya. Tapi yang saya ingat, kisahnya diceritakan berawal di suatu masa zaman bahula. Saat masih perang berkecamuk. Entah negara mana dengan mana, pokoknya bukan Indonesia salah satunya. Kejadiannya sebelum Indonesia merdeka lah. Dan kejadiannya juga bukan di Indonesia. Di suatu tempat yang menjadi sumber cerita, saat itu para pemudanya digerakkan buat pergi perang. Pokoknya perang, perang, perang dan perang saja. Enggak sempat yang lain-lain lah pokoknya. Enggak boleh nikah segala. Nah, saat itu ada sepasang kekasih yang pengen nikah. Saat itu, presiden melarang pernikahan. Tapi kemudian ada seseorang yang bisa menikahkan, sebut aja penghulu berbaik hati, yang diam-diam menikahkan sepasang kekasih itu. Eh, terus ketahuan. Penghulu itu dihukum ama presiden. Dihukum mati. Dihukumnya bertepatan tanggal 14 Februari. Dan nama penghulu itu adalah Valentine. Ternyata kejadian ini menimbulkan protes warga. Warga pada mendemo presiden. Dan sejak saat itu setiap tangal 14 Februari diperingati sebagai hari Valentin. Peringatan kematian penghulu tersebut. Kenapa dikenal sebagai hari kasih sayang? Padahal itu adalah peristiwa menyedihkan? Peristiwa seseorang dihukum mati, Boo…!! Saya juga tidak tahu sampai sekarang. Nah, itulah kisah asal mula adanya V’day yang saya ketahui. Yang saya baca dari salah satu majalah remaja yang memenuhi perpustakaan sekolah saya.

saya enggak pernah pake acara bagi-bagi coklat atawa bunga di tanggal 14 Februari. Dapat juga enggak pernah.

Semakin ke sini saya banyak membaca, mendengar, dan lain-lain. Menggali informasi. Saat itu informasi yang saya ketahui masih samar. Saya tahunya adalah bahwa V’day bukan ajaran maupun budaya muslim. Penghulu yang bernama Valentine itu ternyata juga bukan muslim. Mengenai boleh enggaknya merayakan masih samar.

Awal kuliah, saya pun masih kinyis-kinyis. Saya ingat saat itu bulan Februari, tentunya. Tapi tahunnya lupa. Udah zaman bahari. Zaman mahasiswa baru. Saat itu kos masih di pak RT. Di jalan Sapta Taruna, Palangka Raya. Sekamar masih berdua ama teman seperjuangan saya, Susi Yanti. Di malam 14 Februari itu, bertepatan dengan pemadaman listrik di area kos dan sekitarnya. Saat itu, selain masih kinyis-kinyis, informasi mengenai V’day juga masih awam. Belum ada perkembangan dari semenjak SMA.

Di malam yang gelap gulita itu, dua makhluk Allah yang kinyis-kinyis tengah merencanakan sesuatu buat mengisi V’day. Keduanya kujuk-kujuk pergi ke Swalayan Tulip. Swalayan terdekat dengan kos. Keduanya membeli TimTam. Jajanan yang bercoklat. Masing-masing beli sebungkus yang rada gede. Sampe di kos kedua makhluk Allah yang kinyis-kinyis itu merebus air, lalu membuat teh. Dalam kegelapan malam karena pemadaman listrik itu, keduanya menghabiskan malam V’day dengan ngeteh dan makan TimTam. Saya ingat peristiwa ini atas ide teman saya, Susi Yanti. Saya mana ngerti V’day-V’dayan. Saya hanya meng-ha­yu-kan ajakan teman saya. Saya rasa itulah V’day pertama dan juga terakhir yang saya isi dengan benda bernama coklat.

Waktu mentoring, mahasiswa baru. Banyak kajian. Salah satu materinya adalah mengenai V’day ini. Tapi saya juga sudah tidak ingat ini materi diterima waktu jadi mahasiswa di tingkat berapa. Udah bahari pokoknya. Disitu disampaikan sama kakak pemateri bagaimana kengerian dan segala aksesorisnya V’day. Perawan. Kondom. Hotel. Pacaran. Aborsi. Dan lain sebagainya. Ya semacam V’day undercover lah. Alamak, sesadis itukah!?

Berganti tahun, saya naik kelas. Ngajian saya namanya Liqo, halaqoh. Ya semacam itulah. Meski udah tahun-tahun, saya masih rancu mengucapkannya. Enaknya nyebutnya dengan ngaji. Kakak dingajian saya, enggak ngutukin V’day sebagaimana kakak waktu mentoring. Kakak dingajian saya, baik mah. Beliau enggak cuma nyodorkan masalah doank. Kakak bilang, V’day emang bukan budaya maupun ajaran islam. Lagian kalau merayakan hari kasih sayang dengan V’day, enggak nyambung. Masa hari kematian dijadikan hari kasih sayang. Klop!! Sama seperti yang saya pikirkan sebelumnya.

Kakak bilang, hari kasih sayang itu ya setiap hari. Tidak ada pengkhususan. Kasih sayang itu universal. Enggak selalu berhubungan dengan seks. Dan enggak selalu diwujudkan dalam bentuk seks. Kalau udah ke seks, itu namanya nafsu. Bukan kasih sayang lagi.

Nah, kalo emang maksa mau ada peringatan hari kasih sayang berlebih. Kata kakak, di islam juga ada peringatan hari kasih sayang. Lebih banyak lagi harinya. Enggak cuma 1 hari, tapi 1 bulan. Jadinya bisa puas bersayang-sayang. Adanya di bulan muharram. Kakak sampaikan itu saat materi keutamaan bulan muharram. Kenapa di bulan ini disebut sebagai hari kasih sayang berlebih? Karena di bulan ini diharamkan berperang. Itu salah satunya. Jadi sebagai seharusnya, di bulan ini para makhluk Allah menaburkan kasih sayang ke sesama makhluk Allah dengan berlebih. Kasih sayang yang sebenarnya. Bukan melulu mengenai nafsu dan segala aksesorisnya.

Saya heran, kenapa tiap-tiap Februari orang selalu aja masih himung dengan V’day. Bahkan sampai sekarang. Kok ya enggak ngerti-ngerti gitu loh. Kok ya enggak mudeng-mudeng gitu loh.

Kalau mau dipikir secara logika aja ya. (_Lepasin unsur SARA, dech. Bicarain Indonesia seutuhnya_). Kisah asal muasal V’day bukan di Indonesia. Kalau kisah si penghulu bernama Valentine itu benar adanya, dia juga enggak berkontribusi buat indonesia. Buat kemerdekaan Indonesia, misalnya. Atau kontribusi di hal lainnya. Enggak ada juga loh. Kenapa himung banar dengan V’day warga negara inilah? Mestinya himungnya ya waktu memperingati tokoh-tokoh Indonesia yang berkontribusi ke negara ini. Saya yakin masih banyak tokoh-tokoh yang sangat berkontribusi ke negara Indonesia yang terhormat ini, yang bahkan belum dikenali ama segerombolan makhluk yang kinyis-kinyis yang berstempel Indonesia. Apalagi sampai himung diperingati hari bersejarahnya. Saya yakin itu.

Sudah selayaknya sebagai generasi Indonesia yang baik dan benar enggak merayakan, enggak mengisi tanggal 14 Februari dengan V’day. Tapi selayaknya tanggal 14 Februari saja. Saya sampai sekarang masih memikirkan bagaimana pertanggungjawaban saya ketika kelak berhadapan dengan para pejuang negara ini, para sesepuh yang sangat berkontribusi buat terbentuknya, dan juga kemajuannya negara Indonesia. Saya masih belum bisa menghadapi kecemburuan mereka, ketika kelak mereka menanyakan kenapa, saya atau anda malah himung memperingati seseorang yang tidak berkontribusi buat negara yang terhormat ini, memperingati suatu peristiwa yang tidak ada sangkut pautnya dengan Indonesia. Sementara mereka, para pahlawan Indonesia, para sesepuh Indonesia, boro-boro diperingati hari bersejarahnya. Dikenal aja enggak.

Mending direnungi lagi, mumpung masih bisa berpikir, mumpung masih punya otak yang masih bisa loading dengan baik, sebagai pemuda harapan bangsa, sebagai generasi yang baik dan benar. Mari kita hadapi, kita jalani, kita isi tanggal 14 Februari selayaknya tanggal 14 Februari. Kita. Saya dan Anda.

(Dalam renunganku seorang. Palangka Raya, 12 Februari 2015 _22:59_)

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s