Aku dan Abah, Peran Utama dalam Episode Kali Ini

Saya ingat, pada hari Rabu 09 Juni 2010, adalah hari bahagia untuk dua buah keluarga besar. Dimana ikatan silaturahmi kedua keluarga jauh, telah kembali didekatkan, dengan menikahnya kakak sepupu saya, dengan salah seorang sepupu jauh keluarga besar.

Saya juga masih sangat ingat, pada hari Kamis 11 Oktober 2012 pada pukul 23: ± sedikit, di saat sedang muyek ama makalah yang harus saya selesaikan, hape berdering. Nomor mamah memanggil. Saya tidak karuan, tidak biasanya mamah telpon malam hari. Kecuali kalau hapenya ketindihan waktu tidur, dan enggak sengaja kepencet nelpon, atau ada sesuatu yang darurat. Dan ini sepertinya masuk kategori ketiga. Tapi apa? Terakhir telpon di hari ini adalah selepas isya, mengabarkan keadaan rumah Nini yang giliran pengajian bapak-bapak, sebentar lagi mulai. Juga yang paling terakhir sekitar jam 9an, mengabarkan pengajian udah selesai.

Pertama saya tempelkan hape ditelinga, saya mendengar keriuhan suara orang membaca surah yasin. Aih, masa pengajiannya 2 kali? Saya membatin.

Setelah salam, “Aya naon, Mah?” saya bertanya.

Mamah saya suaranya tegang. “Yun, doaken Abah nya. Abah tos te walakaya…”

Seketika aliran darah saya terpompa dengan hentakan berkali lipat. Menimbulkan kenaikan suhu yang amat drastis pada badan saya. Oh, Allah… Ini kah saatnya? Sekarang kah?

Saya tahu, Abah sakit dalam beberapa minggu belakangan. Rutinitas sebagai orang yang udah uzur di usianya. Namun, yang saya tahu kabarnya kemudian, Abah udah baikan. Kamis malam itu pun. Di detik-detik hari Kamis itu, saya mendapat kabar dari segenap keluarga, bahwa Abah baik-baik saja. Bahkan waktu pengajian, Abah bertindak normal layaknya orang sehat. Bahkan selepas pengajian usai, Abah nampak ngobrol dengan Mang Olong, sopir taksi di desa saya, yang senantiasa setia mengantar Abah. Tiap kali Abah mesti ke KUA. Mengurus segala aksesoris Abah sebagai pengulu desa.

Setelah telpon mamah dimatikan. Sebagai penguatan diri, saya menolak segala kekuatan pikiran saya, bahwa saat abah pulang telah tiba. Saya menguatkan diri sendiri. Mensugesti dengan sia-sia, bahwa Abah belum pada gilirannya untuk berpulang pada Allah. Abah akan menyambut saya di kepulangan pada bulan Desember yang sebentar lagi. Menyambut saya dengan kekehannya yang khas. Saya dengan menguatkan diri, melanjutkan menyelesaikan makalah. Dikesadaran saya, saya mengetik, melanjutkan makalah. Tapi tidak lama kemudian ….

Saya mendapati, entah berada di mana. Suatu tempat yang tidak berujung berbatas. Saya tidak tahu ada di mana. Saya heran, padahal dengan sadar saya yakin bahwa sebelumnya saya sedang mengetik makalah. Di tengah keheranan, saya melihat sosok abah. Saya yakin itu abah saya. Diiringi oleh 2 sosok dibelakangnya, yang saya tidak kenal. Abah saya melesat dengan cepat dari kejauhan, mendekati saya. Lalu berhenti sejenak. Saya bertanya, “Abah mau ke mana?” Abah diam aja. Malah melesat, masih diiringi 2 sosok dibelakangnya, meninggalkan saya. Saya panggil-panggil Abah. Saya teriak-teriak menyeru kepada sosok Abah. Saya tanya abah mau kemana. Sampai menangis. Boro-boro menyahut, abah nengok juga enggak. Saya tetap panggil-panggil Abah, sampai suara terasa hilang. Tenggorokan saya sakit. Sampai saya merasa tercekik memanggilnya. Tangan saya bahkan menggapai-gapai berusaha meraih Abah. Tetapi ketiga sosok itu semakin jauh. Sampai kemudian abah saya menghilang. Lalu saya dikejutkan oleh bunyi dering hape. Saya tergagap. Entah bagaimana, saya tersadarkan setelah mendapati saya baru saja ketiduran. Saya terbangun dengan kedua tangan saya terentang berusaha menggapai sesuatu di udara. Dering hape saya semakin nyaring. Nomor mamah saya.

“Abah tos teu aya. Du’ana nya…” kata Mamah saya diujung seberang telepon.

“Innalillahi…” jerit lirih saya. Saya tidak berkekuatan lagi untuk sekedar menahan setitik bening di mata sembab yang sedang begadang.

Waktu menunjukkan 00: ± 30. Hari sudah berganti. Jumat, 12 Oktober 2012.

*****

Hari ini, di 890 hari ketiadaan sosok Abah, di hari-hari saya. Saya mengenangkan salah satu momen tentang Abah saya.

Abah saya, bernama Sarimin. Meskipun sering mendapati olokan, “Sarimin pergi ke pasar…” dengan gerakan ala-ala topeng monyet, saya katakan, “Saya bangga pada Sarimin Abah saya.”

Abah seorang penghulu di desa saya. Sudah banyak pasangan muda-mudi yang Abah saya nikahkan. Tapi, meskipun begitu, untuk pernikahan putri-putrinya, saya tidak pernah menyaksikan Abah nikahkan sendiri. Pun di pernikahan kedua, Mamah saya. Pernikahan di keluarga, yang dipenghului oleh Abah adalah pernikahan 2 sepupu saya. Salah satunya yang dilaksanakan pada 09 Juni 2010.

“Abah, engke nikahken aku nya? Siga Abah nikahken teh Ela jeng Teh Iim. Aku oge pengen atuh diijabken ku Abah. Lihat malah Abah nu grogi, bukan pangantenna. Abah ngelap keringet di tarang berulang kali. Aku inget pas abah ijabken Teh Iim. Pas Abah salaman jeng Ang Saleh, “Ujang Saleh Bin Abdul Manap. Abah nikahken anjen sareng incu abah, Imasriah binti Ujang Saepudin dengan Mas kawin Bla, bla, bla dibayar Tunai…” Abah sentakken tangan Ang Saleh. Apa coba jawab Ang Saleh? Inget teu, Bah? “Saya terima nikahnya Imasriah binti Ujang Saepudin dengan maskawin bla, bla, bla dibayar tunai.” Aku oge mau atuh denger abah bilang “Fulan bin Fulan, abah nikahken anjen sareng Incu Abah Yuyun Sumarni Binti Mamat Suriyadi dengan maskawin bla, bla, bla di bayar tunai..” hihihihi…” Salah satu cerocos saya pada Abah yang saya sangat ingat.

Jawaban Abah hanya, “Sok atuh gera neangan nu bisa diajak salaman ku Abah.”

*****

Lain hari, di saat abah disibukkan memandangi dan mengisi berkas-berkas pernikahan. Saya membantu Nini membuat sambal.

“Abah, mun aku nikah, gratisnyaaa?” Sedari awal saya telah merencanakan pernikahan sedemikian rupa. Langkah awal, melobi penghulu.

“Sok weh. Asal ayena,” jawab Abah tanpa mengurangi konsetrasinya kepada berkas-berkas.

“Ih, sama siapa juga?” saya tertawa. Kena batunya sendiri.

“Jung neangan hela nya…,” Nini nyambung dari dapur.

“Ih, dimana juga nyarinya? Emangna cabe, tinggal ka pipir terus metik,” saya menyahut Nini.

“Atuh da, make hayang gratis sagala. Da atuh Abah teh perlu jang ongkos Mang Olong ka KUA. Kudu dahar lin di jalan teh, mae’nya atuh olohok salila-lila nungguan Mang Olong neangan penumpang” jawab Nini. Ih, suami istri yang satu ini kompak banget jatuhin usaha saya.

“Diskon nya Bah. Ku anterin wes, ke KUAnya. Gemana?” Saya gigih berjuang.

“Enya, lah. Gampang. Jung neangan hela mangkanya.” Abah lagi-lagi bilang begitu.

“Keee’… Tungguan weeh, bentar dei da.” Sahut saya enteng.

“Gera atuh. Kaburu pensiun ke’ abah,” Abah juga enggak kalah entengnya bilang begitu.

“Ih, gening kitu? Saha atuh nu nikahken aku engke?” Saya hampir merajuk.

“Atuh da loba iyeh penghulu nu sejen.” Kaca mata tebal Abah melorot.

“Emong, aku pengen abah nu ngijabken. Jang naon atuh punya abah penghulu, ari incuna nikah mah ku batur. Teh iim jeng Teh Ela ge ku abah. Masa aku hente?” Saya semakin gencar.

“Enyaa atuuuh…!! Kumaha engke abah we lah nu nikahken maneh,” Abah memberi keputusan.

“Bedus teing, hah! Loba-loba teing lombokna?!” Nini saya Histeris melihat cabe-cabe dalam tangkupan kedua telapak tangan saya. Sekaligus mengalihkan topik.

“Baraha atuh, Ni?” Saya bertanya

“Lima, weh. Da abah mah te beki lada-lada teing.” Nini memberi instruksi.

Gludak, gludak. Bunyi cobek dan pasangannya beradu.

“Gulana dimana, Ni?” Tanyaku.

“Na toples, handapen meja didinya.” Kata Nini saya.

“Tarasina di Belem helanya, Yun.” Abah komen dari ruang tengah. Di tengah kesibukannya, ngisi segala tetek bengek buat menikahkan orang, masih aja sempat inget kalau mesti dibakar dulu terasi sebelum di sambel.

“He’eh, iye yeh abi ker melem. Te ka cium apa bauna?” Nini saya yang menjawab.

“Pilek eiy, mampet irung.” Abah ngeles.

*****

Aih, Abah nikahken saya, seperti Abah menikahkan Teh Iim dan Teh Ela ya, Bah? Pake bahasa Sunda. Kalau enggak sempat lagi menikahkan saya di dunia ini. Tolong nikahkan saya, ijabkan saya di surganya Allah kelak ya, Bah. Nikahkan saya dengan seseorang yang terbaik yang Allah pilihkan buat saya, sampai kita kelak berkumpul lagi. Kalau pernikahan Teh Iim dan Teh Ela saksinya Pak Lurah dan Pak RT, biarlah kelak diijaban saya dengan Abah penghulunya, Allah dan para malaikat yang menjadi saksinya.

Buat di dunia sekarang ini, jika Allah berkehendak mempertemukan saya dengan seseorang yang terbaik pilihanNya, biarlah untuk sekali ini, saya dipenghului oleh penghulu yang lain. Seperti Abah bilang, “Loba iyeh penghulu nu sejen.”

(selesai diketik, setelah mengendap +2 tahun. Palangkaraya, 21 Maret 2015. 22:26)

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s