Tentang Rambutan

Maret sudah lewat beberapa hari dari pertengahan bulannya, Alhamdulillah sampe sekarang masih bisa menikmati rambutan. Musimnya, sepertinya sudah menjelang akhir-akhir penghabisan. Malam ini, saya kembali berkesempatan makan buah rambutan. Alhamdulillah. Ada adek kos yang mamahnya datang, bawa rambutan. Kecipratan rezeki juga saya. Menikmati rambutan kali ini, kembali menguatkan saya untuk menulis seepisode kisah mengenai rambutan. Saya ingat, sudah menuliskan tentang rambutan beberapa minggu yang lalu, di saat Palangkaraya banjir rambutan. Tapi karena belum ada kuota internet, belum di upload. Nah, giliran malam ini saya cek, itu file udah berada di antah berantah keberadaannya.

Musim Rambutan kali ini saya enggak dikirim buah dari kampuang nan jauh di mato. Juga enggak memesan. Namun hal itu tidak mengurangi banyaknya jumlah Rambutan yang melewati mulut saya, untuk kemudian bersemedi, memenuhi lambung. Terakhir saya dikirim rambutan dari kampuang nan jauh di mato adalah waktu panen tahun 2013. Dan seingat saya, terakhir memakan rambutan dengan memetik langsung dari pohonnya adalah tahun 2012 bulan Januari. Di saat kepulangan saya dalam rangka liburan. Di rumah Abah-Nini saya. Berempat bersama adik-adik dan juga sepupu, saya nyerbu ke rumah Abah-Nini. Saya masih suka foto-foto mengabadikan sesuatu, kala itu. Meskipun kamera hape kala itu masih sangat abal-abal, (_sekarang juga padahal masih abal-abal kamera saya_). Dari folder 2012 Januari, saya mendapati telah berkesempatan mengabadikan 6 jepretan. Saat itu Abah saya masih ada. Bahkan, diantara 6 yang saya jepret, salah satunya itu adalah foto beliau, di masa-masa terakhir usianya. Foto terakhir Abah yang saya jepret, tapi tidak layak Upload, Abah saya hanya berkolor. Yang kemudian, di Oktober tahun yang sama, Abah pulang, kembali pada Allah swt.

Pohon rambutan di rumah abah, ada sekitar 5-6. Ditanam sejajar di samping rumah. Berjajar rapi sampai ke belakang rumah. Saat itu buah rambutan di rumah Abah masih belum pada mateng. Buahnya juga belum banyak. Kata Abah saya, itu pohon masih ‘belajar berbuah’. Abah yang ambilkan buah rambutan buah kami. Saya, adik-adik, dan juga sepupu saya. Meskipun pohonnya enggak tinggi. Itulah salah satu cinta abah kepada cucu-cucunya.

Ali dan Rendi berebut memanjat pohon Rambutan

Ali dan Rendi berebut memanjat pohon Rambutan

Ali, sepupu saya. Di salah satu dahan pohon rambutan di belakang rumah Abah-Nini saya

Ali, sepupu saya. Di salah satu dahan pohon rambutan di belakang rumah Abah-Nini saya

Ali dan Rendi, adik saya. Bercanda di atas pohon rambutan.

Ali dan Rendi, adik saya. Bercanda di atas pohon rambutan.

Ini dia buah rambutan yang dipetikan sama Abah saya

Ini dia buah rambutan yang dipetikan sama Abah saya

Tahun ini, saya tidak lama di kampuang. Nasih sebagai mahasiswa semester banyak mengusir saya dari zona nyaman. Saya tidak tahu kabar rambutan di rumah Nini saya. Tahun ini, saya sedikit alay. Setiap menikmati rambutan, entah itu di beri, atau waktu pengajian, saya selalu keingetan ama moment kebersamaan saya bersama Abah saya di masa akhir usianya.

Dalam setiap kali kecapan manisnya rambutan, berbisik lirih hati ini.

Abah, maafkan saya belum bisa menjadi cucu yang patut Abah banggakan.

Aih, semoga Allah swt., menghadiahkan segala kemanisan alam barzah kepada Abah, sebagai buah manisnya keimanan, kehati-hatian Abah selama di dunia.

(Diiringi “Cinta Saja”-nya Debu. 20:30. Palangkaraya, 21 Maret 2015)

Iklan

3 thoughts on “Tentang Rambutan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s