Tentang Mimpi

Dalam waktu akhir-akhir ini saya beberapa kali, bahkan bisa dikatakan sering, bermimpi. Mimpi saya selalu seputaran air. Awal-awal memimpikan, saya mengabaikan. Dalam pikir saya, aih barang kali hanya bunga molor saja. Namun mimpi itu datang berulang kali. Mimpi yang sama maupun mimpi serupa yang termodifikasi. Kemudian suatu hari saya mendengar dongeng motivasi dari Andrie Wongso mengenai seorang raja yang bermimpi. Mimpi raja itu sama dengan yang saya alami di bulan-bulan, di tahun menjelang kematian kakek saya. Hanya ketidaksengajaan yang sama, pikir saya. Lama-lama hal ini membuat saya tergoda untuk search di google mengenai takwil mimpi yang saya alami. Dalam kisah-kisah yang dibacakan Andri Wongso yang saya dengar, selalu di akhiri dengan pepatah-pepatah cina. Dan ketika saya baca-baca di google, ternyata banyak mimpi-mimpi yang takwilannya berasal dari filosofi-filosofi cina. Hah! Membuat saya semakin mengharuskan memasang imun ganda. Bukan apa-apa, saya takut kalau-kalau aktivitas saya mencari takwil mimpi merupakan aktivitas yang menggadaikan iman saya kepada Allah swt. jadi saya cuma sekedar baca saja, itung-itung menambah perbendaharaan bacaan.

Tentang mimpi saya ini. Satu mimpi, dengan jelas saya mendapati sedang bersama beberapa teman, awalnya tidak jelas siapa saja dan berada di mana, yang pasti kami semua sedang berusaha mendaki tebing yang sangat curam. Bahkan dinding tebing itu tampak sangat rapuh. Kami semua berusaha mencapai puncak untuk menghindari sesuatu yang berusaha mengejar kami. Ada beberapa teman saya yang sudah berhasil melewati tebing itu, dan saya dengan jelas bisa melihat dan mengenal mereka-mereka yang sudah mencapai puncak. Sementara saya, sangat kepayahan mendaki tebing itu. Beberapa teman menyemangati saya, beberapa mengabaikan. Sementara di bawah, air meluber sejauh mata memandang. Bahkan air itu hanya beberapa centi saja dari kaki saya. Dan air itu entah dari mana dan bagaimana menggelegak semakin meninggi saja, seakan mau menelan tebing yang sedang saya dan teman-teman daki. Saya tetap berusaha menyelamatkan diri supaya tidak tertelan air itu. Dan saya terbangun dengan rasa cape yang luar biasa.

Di lain hari, satu mimpi lagi, saya mendapati tengah berada di bawah sebuah bangunan tempat biasa orang-orang naruh profil, tong besar penampungan air. Ada mamah dan bibi saya. Air meluber. Netes-netes. Membasahi saya yang berada di bawahnya. Kemudian saya mendapati berada di semacam rawa berair keruh. Saya naik semacam skoci yang bisanya ada di kapal-kapal. Mengantarkan mamah dan bibi saya menyeberangi rawa itu. Kemudian saya mendapati saya berada di tengah-tengah rawa. Sendirian. Dan air rawa semakin meninggi, semacam jadi danau. Dan airnya semakin keruh karena bercampur lumpur. Lalu saya mendapati saya tengah berenang di danau itu. Sendirian. Kepayahan. Entah dimana sekoci yang semula saya naiki. Entah dimana juga mamah dan bibi saya. Air rawa semakin meninggi sampai dada saya. Saya berusaha berenang melewati. Sampai kemudian saya terbangun dengan rasa payah dan juga cape yang luar biasa.

Mimpi saya yang berhubungan dengan air yang lainnya yang saya ingat adalah saya mendapati berada di suatu desa. Tapi desa itu sangat tidak familiar. Semacam desa transmigrasi baru di buka. Rumah panggung ciri khas rumah trans di Kalimantan. Tanah gambut, ciri khas tanah Kalimantan. Saya mendapati tengah berada di pelataran sebuah rumah. Lalu entah dari mana air membasahi kaki saya. Menggenang sampai mata kaki. Saya lihat sekeliling, ada air dimana-mana. Banjir sejauh mata memandang. Pohon-pohon besar yang sangat tinggi tapi hampir mati. Dan juga semak belukar yang menghitam, jadi arang sisa-sisa pembakaran. Saya tidak sendiri, saya dapati beberapa orang disekitar saya. Tapi saya tidak mengenalnya. Kami semua berdiri. Air meninggi, sampai betis. Lalu dari arah depan, air bah yang sangat luas mengalir dengan derasnya. Membentuk ombak dengan gelombang menggulung-gulung. Tinggi. Saya heran, bagaimana bisa ada ombak yang menggelombang sedemikian rupa. Padahal tempat dimana saya berada bukanlah laut. Gelombang itu hampir menelan saya dan beberapa orang disekitar, tapi kemudian ada dinding yang kasat mata menghadang gelombang air yang mengulung-gulung itu. Ombaknya pecah menjadi aliran air biasa. Meski tetap deras. Mengalir melewati kaki saya. Saya melihat dengan jelas, airnya jernih. Saya mendengar seseorang memanggil saya. Saya tidak mengenali orang itu. Ia membuat sebuah pengakuan yang sangat mengejutkan saya. Saya kemudian terbangun. Untuk mimpi ini saya ingat sekali, terjadi sekitar 2 minggu yang lalu. Saya ingat, saya terbangun jam 1 dini hari dan sulit tidur kembali.

Mimpi yang terjadi semalam. Dan mimpi inilah yang sering sekali berulang-ulang di waktu sebelum-sebelumnya. Mimpi itu ialah, saya mendapati saya tengah berada di sungai jalur 8 di Katingan, di mana desa yang dulu separuh masa kecil saya dihabiskan. Dulu namanya Desa Subuh Indah. Dalam mimpi itu saya melakukan aktivitas yang berhubungan dengan sungai. Mencuci baju, berendam, bermain air, mandi dan lain sebagainya. Namun ketika saya mandi, saya dapati air sungai surut, keruh, dan menguning, semacam air karat. Padahal sebentar lagi saya menyelesaikan aktivitas saya. Saya sedih dan kebingungan mendapati semua itu. Lalu saya terbangun dengan perasaan sedih yang mendalam.

saya tidak tahu bagaimana saya harus menyikapi mimpi saya yang berulang itu. Dan ketika saya membaca-baca di google pun, karena saya sudah menetapkan hati untuk memiliki imun tentang apa yang saya baca, info-info yang didapatkan hanya mengalir begitu saja tanpa pernah menyentuh hati saya. Saya takut iman saya tergadai.

Tentang mimpi ini, saya tidak buta-buta amat. Saya membaca surat cinta pemilik hati saya, Al Quran. Saya baca sirah para utusanNya. Sebagai hobi saya, membaca cerita, dongeng dan sejenisnya. Saya dapati berita-berita mengenai mimpi. Ada Nabi Yusuf yang bermimpi melihat 11 bintang, Bulan dan matahari yang bersujud kepadanya. Juga ada 2 orang teman Nabi Yusuf ketika dipenjara, yang bermimpi meletakkan roti diatas kepala. Yang satu meletakkan kembali rotinya sementara yang satu, rotinya malah dimakan burung-burung. Nabi Yusuf mentakwilkan mimpi-mimpi itu dengan baik. Kemudian mimpi pembesar Mesir yang melihat 7 tangkai yang ranum dan melihat 7 tangkai yang kering, melihat 7 ekor sapi yang gemuk dan 7 ekor sapi yang kurus, dan seterusnya dan seterusnya. Kisahnya terdapat dalam ayat-ayat al Quran di surah ke 12. Dalam QS. Ash-Shaffaat ayat 102 ada kisah yang maknanya demikian mengharu biru, dimana Nabi Ibrahim ketika itu bermimpi ia diharuskan menyembelih putranya, Ismail. Juga dalam QS. Al-Fath ayat 27 mengenai mimpi Rasulullah saw. Mengunjungi Mekkah dengan para sahabat, mimpi ini terjadi disekitaran peristiwa perjanjian Hudaibiyah.

Membaca kisah-kisah itu membuat saya ingin sekali bertemu dengan Nabi Yusuf dan menanyakan takwil mimpi saya. Saya ingin sekali bertemu dengan Nabi Ibrahim yang hatinya demikian jernih menterjemahkan perintah Allah dan begitu kuatnya iman beliau menerima, melaksanakan apa-apa yang menjadi perintah Robbnya. Dan juga tentunya adalah begitu kuatnya beliau dalam melawan musuh abadi manusia. Syetan yang memang hingga akhir zaman akan terus menghalau umat manusia dari ketakwaan kepada Allah. Saya juga ingin sekali bertemu dengan orang kecintaan saya, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutholib, belajar dengan beliau kekuatannya, ketegarannya, kesabarannya, keteguhannya akan kebenaran risalah yang diembannya, ketika menghadapi hari-hari setelah mimpinya itu. Bercermin pada apa-apa yang saya baca, semakin menciutkan saya. Saya malu. Aih, siapalah saya ini? Betapa songongnya saya. Bercermin pada orang-orang super, sementara saya, hanya setitik debu di muka bumi ini.

Oh, Allah… Robb pemilik semesta. Pada Engkau tiada illah selainMu…
Jika mimpi-mimpi saya hanyalah bunga tidur, mohon biarkanlah ia menjadi bunga yang membawa ketenangan dengan mendapatinya.
Jika mimpi-mimpi saya adalah bisikan keburukan dan juga gangguan-gangguan makhlukMu, sungguh ya Allah, saya berlindung kepada Engkau, sebagai Dzat yang Maha Pencipta, dari segala keburukan syetan, jin dan sejenisnya.
Jika mimpi-mimpi saya merupakan peringatan penuh kasih sayang dari Engkau sebagai Yang Maha Rahmaan dan Maha Rahiim. Sungguh ya Ghafuur, mohon ampuni segala dosa, maksiat dan kelalaian yang senantiasa saya lakukan. Apalah saya ini, hanya setitik kotoran yang menyabaki bumiMu.

(Pondok Luwes, 28 April 2015_22:27_)

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s