Skripsi Saya

# a.k.a Skripsi Guwweh (bagian 3)

Hihihihi… Setelah sekian semester, tidak terketikkan riwayat perjalanan skripsi saya. Karena terlalu berdarah-darah untuk dikenang. Walau enggak menutup kemungkinan apa-apa yang disekian semester itu suatu saat bakal terketikkan juga, disaat memori otak saya memutar tanpa kendali, kembali menampilkan tiap scene film proses perjalanan, penyelesaian skripsi saya inih. Malam inih, saya tanpa bisa dihentikan kembali menuliskan satu skenario yang baru saja saya action-kan.

Malam ini, adalah malam kesekian saya konsultasi skripsi ke pembimbing 1. Ya, dengan beliau emang begono. Konsultasi urusan akademik jadwalnya adalah pada hari Senin, Rabu dan Jumat jam 20.00 teng. Malam ini adalah malam ke-udah enggak terhitung lagi konsultasi saya dengan beliau. Flash back bentar, 2 minggu kebelakang, tiap-tiap jadwalnya konsul, saya datang dengan terhormat. Hasilnya nihil. rumah beliau kosong. Gelap. Tapi anehnya enggak ada tulisan di kaca jendela beliau, yang mengabarkan kalau enggak ada konsul. Macam biasa yang beliau lakukan. 2 minggu, berarti 6 kali saya nyamperin, dan suasana rumah beliau selau sama. saya enggak sendirian, banyak mah yang berurusan dengan beliau. Usut punya usut, kabar burung, mereka bersiul menginfokan bahwa bapak ke luar kota. Dan emang sengaja enggak kasih tahu mahasiswa. Bahkan enggak bilang juga ke ibu kaprodi.

Dan, dengan keadaan 2 minggu kebelakang itu, saya sangat yakin malam ini bakal rame banget rumah bapak. Secara, sesuatu yang diempet 2 minggu bakal bedah di malam ini. Dengan gambaran situasi medan perang semacam itu, malam ini saya tadi datang ke rumah bapak diawal waktu. Jam 19:45 saya udah rapi jali. Sedikit terkontaminasi keringat bercucuran akibat usaha ngeluarin motor pinjaman ke adek tinggkat, di kamar sebelah, dari lorong kos ke luar kos. Saya enggak terbiasa dan paling enggak bisa mendorong motor di lorong sempitnya Pondok Luwes. Alhamdulillah saya enggak make pupur, kalo make entah gemana udah tampilan ini wajah. Bisa-bisa nampak kaya kurap. Bopeng-bopeng bedak luntur kena keringat di wajah saya inih.

Sampe rumah bapak masih sepi. Pengunjung baru 3 orang. Ibu-ibu guru yang percepatan. Yang bimbingan dengan beliau, pembimbing 1 saya. Ngobrol ngalor-ngidul ama mereka. Sambil nunggu dibukain pintu. Di jendela ada tulisan, kalau sang Bapak sedang ada kegiatan seputaran olimpiade di hotel Aquarius, dimintanya menunggu. Tidak lama bapak datang. Aduh, melihat wajah bapak yang 2 minggu enggak saya lihat, membuat saya gugup setengah udung. Dan kalau saya gugup, markasnya adalah di perut. Saya mendadak kebelet. Panggilan alam enggak bisa di ganggu gugat. Saat pamitan ama yang nunggu, udah datang 3 adek tingkat yang juga bimbingan. Saya persilahkan mereka duluan.

Tadinya saya mau nyetor di masjid Shalahuddin. Tapi mikir lagi, entar la’an, kalo balik ke rumah bapak lagi mesti muterin Yos Sudarso, toh melewati Luwes. Daripada gitu, medingan di Luwes aja sekalian. Begitu sampe, lorong kos diamankan demi kelancaran perjalanan saya menuju sasaran. Menuai beberapa cekikikan anak-anak luwes yang melihat tingkah saya.

Begitu urusan perut selesai, saya balik ke rumah bapak lagi. Di teras kos, saya stater itu motor pinjaman. Begitu melihat ke jalan, saya melihat keributan di depan gedung Gajah Mungkur (GM). Seorang laki-laki dewasa yang sempoyongan tengah ‘diamankan’ ama 2 orang. Dari penglihatan saya, awalnya itu laki-laki dibaik-baikinin ama 2 orang tersebut. Lama-lama malah semakin keras dan hampir anarkis kelakuannya. Sampe kemudian datang orang ke 3. Lah, kelakuan itu laki-laki dewasa malah semakin anarkis. Alamaaakkk…!!! Saya gemeteran. Gugup. Apa yang harus saya lakukan? Saya loh harus lewat jalan itu?

Gedung GM, semula adalah gedung lapangan badminton. Itu waktu awal-awal saya masuk Luwes. Dengan kegiatan olahraga para pengunjungnya, sering banget mah orang-orang disekitar GM merasa terganggu. Di sekitar GM ada lebih dari 4 kos-kosan. Teriakan mereka dan segala hal yang berhubungan dengan olahraga badminton. Nyaring. Berisik. Sampe malam-malam. Tapi kemudian, lama-lama itu gedung yang semula tempat olahraga, berubah fungsi menjadi tempat main bilyar. Awalnya mau husnuzon aja dengan aktivitas mereka di dalam. Toh, saya enggak pernah masuk, dari sejak jadi lapangan badminton maupun setelah berubah ini. Tapi yang nampak adalah indikasi yang sangat sulit sekali buat husnuzon dengan aktivitas mereka. Baju mbak-mbaknya yang seksi abis. Awal-awal mereka malah berseragam. Sekarang enggak lagi. Terus musik ajeb-ajeb sampe lewat tengah malam yang sangat mengganggu. Dan lain lagi masih banyak. Dan malam ini tadi. Laki-laki dewasa yang sempoyongan yang melakukan sesuatu yang menjurus anarkis, dan jagalan 3 orang yang berusaha menanganipun nampak kawalahan. Oalah GM, GM.

Gedung GM diputari oleh sebuah jalan kecil. Meliuk di belakangnya. Kos luwes berada di sebelah kiri bangunan gedung. Di sebelah kanan dan rada belakang sedikit gedung GM, adalah sebuah bangunan besar entah bekas apa, yang wujudnya abis kebakar. Rusak dimakan waktu. Lokasinya bahkan udah semi hutan. Serem abis…!! Terutama malam hari. Gelap. Pokoknya kaya wilayah-wilayah yang sering ditampilin di film-film horor. Siang aja saya males lewat situ, apalagi malam. Dan, astagfirulloh… Malam ini sepertinya saya mesti lewat sono. Lewat belakang GM. Setelah saya perhitungkan, dari pada melewati orang yang tengah bersitegang itu, medingan cari aman dengan menghindar. Walaupun istilahnya lepas dari mulut Harimau masuk mulut Buaya. Tapi, saya memantapkan hati, harus berani lewat belakang GM. Saya merapal Ayat Kursi dan ayat-ayat lain yang ada di isi kepala. Hasil perhitungan, kalau saya lewat depan GM, itu orang yang yang lagi kerusuhan enggak bakal takut ama Ayat Kursi. Tapi kalau lewat belakang GM, jin dan keluarga-keluarganya bakal mudah terkalahkan dengan rapalan saya. Bismillah, laahaulaawala quwwata illah billah…, saya jalankan motor. Gugup saya enggak ilang-ilang, malah nambah. Apalagi setelah melewati wilayah gelap itu. Walau alhamdulillah saya selamat tanpa kurang suatu apapun. Sampe depan rumah bapak orang udah banyak yang datang. Saya bahkan hampir jatuh dari motor karena bannya kepeleset di batu-batu. Ih, dasar banget saya inih! Begitu nyampe, gugup saya belum ilang. Saya lihat orang membuat kerusuhan, saya lewat tempat menyeremkan dan gelap, yang sangat saya antiin banget. Eh, begitu sampe, ada 1 adik tingkat baru keluar dari pintu bapak, langsung ditunjuklah ama yang disitu bahwa yang konsul berikutnya adalah saya. Ya ampun, saya, lutut saya aja masih belum pada tempatnya. Muka aja masih lumutan ama keringet gugup, eh malah langsung di suruh menghadap lagi. Tapi, saya nurut aja ama telunjuknya itu adik tingkat. Masuklah saya dengan segala aksesoris skripsi saya. Alhasil, saya planga-plongo di hadapan bapak. Ucapan saya terbata-bata. Saya gagu tiba-tiba. Bapak, bisa jadi dengan melihat kondisi saya yang enggak karu-karuan, beliau melihat skripsi saya enggak banyak-banyak. Saya cuma diperiksa beberapa kalimat ketikan di soal-soal istrument. Enggak sampe 5 menitan mah konsul saya tadi.

Malam ini, saja jalani dengan perasaan yang luar biasa.
Malam ini, sedikit terungkap betapa seremnya tenaga seorang laki-laki dewasa.
Aih, kalau saja kekuatannya disalurkan pada sesuatu yang bermanfaat, sungguh akan menakjubkan. Bukan malah untuk sempoyongan ataupun bertindak anarkis di tempat umum.
Aih, dasar ah makhluk Allah yang satu ini ni…

(Palangka Raya, 11 Mei 2015 _22:49_)
Mengalirkan energi gugup yang masih berasa, menjadi sebuah tulisan yang setidaknya bisa dibaca.

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s