Batu Akik Semakin Mencekik

Bulan-bulan terakhir ini, setiap saya berangkat mengajar, saya selalu mendapati gerombolan-gerombolan orang seperti kalau ada kecelakaan. Di jalan Yos Sudarso, Palangka Raya. Awalnya heran, ada apakah gerangan. Langkah-langkah kaki saya mendekati kerumunan itu, karena emang selintasan dengan tujuan saya ke TPA Al Hijrah. Oalah, ternyata aktivitas kaum adam yang sedang bermesra dengan sumber daya alam dari proses endapan itu. Kalo enggak percaya, melintas aja dari Gajah Mungkur di sepanjangan Yos Sudarso ke arah bundaran. Ntar la’an banyak gerombolan. Hihihi…

(sumber: simomot.com)

(sumber dari halaman sebelah)

Batu akik, bukan lagi fenomena yang baru sebenarnya. Enggak ngaruh juga ke kehidupan saya awalnya. Bahkan event pameran nasional batu akik di hotel, sebelah kos pada April lalu pun, sepi sesepinya di selorongan Pondok Luwes.

Lama-lama, karena mulai terbiasa melintasi kerumunan itu. Dan otomastis saya mengamati aktvitas di dalamnya, _secara enggak sengaja_. Saya melihat diantara bapak-bapak itu ada yang menggosok-gosok batu. Ada yang sedang menggerinda batu. Ada yang membolak-balik batu. Ada yang meusap-usap batu. Ada yang memicingkan mata, meneropong sesuatu melalui batu. Ada yang berdiri dengan bersedekap. Ada yang berdiri dengan berkacak pinggang. Ada yang nungging. Ada yang jongkok. Ada yang merokok. Saya merasa kasian dengan mereka. Sepertinya sebagian dari merea telah diperdaya oleh kekuatan sang batu. Saya merasa, kaum adam itu malah berkurang produktifitasnya. Dengan saya melihat dan mengamati para kerumunan itu. Lah wong tiap hari, tiap saya lewat Yos Sudarso. Gitu-gitu aja yang dikerjakan. Apa enggak pulang mereka itu? Apa enggak makan mereka itu? Apa enggak sholat mereka itu? Enggak mandi? Enggak kerja? Bertongkrongan aja di Yos Sudarso kaya begitu. Kalau pedagangnya okelah, dianya bisa dibilang kerja. Lah lainnya? Hihihihi…

Kemudian, ada anak saya yang dijarinya bertengger sebentuk cicin. Matanya hijau muda. Warna kesukaan adik perempuan saya. Dianya juga memamerkan dengan bangga bahwa cicinnya adalah akik asli. Akik lagi, akik lagi. Saya mulai gerah. Tanpa ada unsur sensi terhadap si akik beserta sodara-sodaranya, saya menegur si anak. Supaya tidak menggunakan perhiasan yang lazimnya digunakan perempuan. Karena dianya laki-laki. Beberapa waktu sebelumnya saya ada menegur seorang anak yang menggenakan kalung emas dan seorang anak yang lain yang menggenakan gelang. Dianya laki-laki. Saya tegur dia, bahwa perhiasan lazimnya digunakan oleh perempuan, baik itu kalung, anting, gelang, maupun cincin. Boleh laki-laki menggenakan perhiasan, yaitu jam tangan. Saya sedikit berseloroh kepada si anak yang berkalung dan bergelang, bahwa kalau masih ingin memakainya ngajinya supaya berkerudung, sholatnya memakai mukena. Hanya menghasilkan gelak tawa dari yang bersangkutan dan teman-teman yang lain. Balik ke anak yang menggenakan cincin akik, berbagai kilah disampaikan olehnya. Saya tetap pada pendirian saya, bahwa yang menggenakan kalung, cincin, gelang dan anting adalah perempuan. Dalam bentuk apapun. Dianya nurut, itu cincin tidak digunakan lagi. Isu perhiasan sejenak mengendap di kelas. Tidak ada pembahasan lagi, sudah clear!

Dan kemudian, kemaren. Tepatnya hari Minggu 05 Juli 2015, pembahasan perhiasan muncul lagi di kelas. Seorang anak lainnya mengenakan cincin bermata akik. Saya tetap kembali pada apa yang pernah saya sampaikan, bahwa perhiasana lazim digunakan oleh perempuan, karena dianya laki-laki, jadi silahkan ditanggalkan. Si anak, berkilah dengan semangat tapi masih dibalut keluguannya, katanya dia, “Ustazah, boleh ja make cincin tu. Rasul make cincin akik jua. Ujar beliau malah mewajibkan make cincin akik.”

Saya shock, “heuheuheu… Darimana kamu dapat ilmu begitu, Nak?”

“Tidak ada yang begitu itu,” lanjut saya. Aduh, PR saya makin berat aja nih.

“Dukun tau lah yang make cincin akik tu! Penuh sepuluh jari akik semua, kaya ini…” seorang anak lain yang agak cubby nyolot sambil memeragakan gerakan tangan dukun-dukun yang ada di tipi-tipi. Kayanya ini anak kebanyak liat sinetron deh.

“Hus, kau ini…” saya menengahi.

Sejujurnya saya pun masih minim ilmu mengenai hukum penggunaan perhiasan untuk laki-laki. Saya hanya tidak ingin anak-anak saya mengampang-gampangkan terhadap hal ini. Awalnya hanya main-main, lama-lama entahlah… Saya tidak ingin anak-anak saya yang laki-laki berdekat-dekatan sedikitpun dengan segala unsur-unsur yang beraroma perempuan. Di tambah isu LGBT begini. Mungkin saya termasuk yang lebe gitu hadapi semua ini. Biarkanlah. Saya melakukan ini untuk kebaikan mereka, insya Allah. Toh saya tidak dengan cara paksa memberikan ultimatum kepada mereka. Ya melalui sindiran-sindiran saja. Melalui candaan-candaan yang garing. Saya belum sukses dalam hal canda-mencandai ataupun dicandai. (06 juli 2015_23:39)

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s