Pesta Rakyat??

Insya Allah tanggal 09 Desember ini bakal ada pesta kecil-kecilan. Hihihi.. Perasa saya rada aneh aja kalau pemilu disebut Pesta Rakyat. Padahal kan yang dapat nyamannya mah pejabat, yang riweuhnyah inih baru rakyat jelatah kaya guweh!

Stop! Fokus!

Insya Allah, 09 Desember ini warga Palangka Raya bakal pada milih Gubernur untuk periode kerja selanjutnya. Eh, enggak warga Palangka aja ketang. Mestinya seluruh warga Kalimantan Tengah. Sejauh keberadaan saya sebagai warga Palangka Raya, saya mengamati sejauh mata memandang, enggak terlalu hot-hot amat aktivitas di pilihan kali ini. Sepi kampanye di kota. Ini kadang saya mikir, sayanya yang enggak tahu atau emang enggak ada segala kegiatan kampenye?! Emang sepi, atau kegiatannya di hulu-hulu kali ye…

Beberapa hari yang lalu, telepon orang rumah. Mamah saya cerita mengenai kampanye di kampuang nan jauh di mato sanah! Saya kira kampanye Gubernur, ternyata Bupati. Jadi pemilihan kali ini buat Gubernur dan juga Bupati. Gitu kali lah, kira-kira. Waktu saya tanya-tanya mengenai kampanye Gubernur, mamah saya engga tahu. Malahan beliau balik nanya, apa Gubernur juga udah waktunya pilihan lagi? Waduh!

Pemilu kali ini saya enggak tersentuh sama sekali.

Kalau omongin pemilu, jadi ingat tahun kemaren ikut terlibat dalam pemilu, baik Legislatif maupun Presiden. Jadi pengen ceritah buanyakh!!!

Waktu pemilu legislatif, saya ditawari jadi saksi dari partai P**. Sekosana anak Luwes rata-rata jadi saksi, atau malah semua gitu. Aduh, memori jangka panjang saya rada eror! Dapat 150.000,- dan makan sekali serta snack ditanggung ama panitia partai. Gitu kontraknya.

Saya ditugaskan di daerah seberang Sungai Kahayan, Palangka Raya. Daerah-daerah ini enggak saya ceritakan dengan detail, karena ntar malah merusak nama baik sesuatu ataupun seseorang.

Sehari sebelumnya, saya dengan temen, sesama saksi yang TPS-nya berdekatan dengan saya, ubrek-ubrek wilayah di seberang Sungai Kahayan itu, mencari bakal tempat tugas kita berdua. Ya amplop! Ampe ele’ melele’ tu tempat baru ketemu.

TPS tempat saya bertugas adalah sekolah di atas lanting. Lanting itu adalah daerah perumahan di atas sungai. SD teeet *sensor. Alhamdulillah, bermusola.

Pada hari tugas, Jam 6 pagi saya sudah di sana. Saya ingat saya bergamis hitam, kerudung hijau. Busana favorit saya. Ketemu dengan saksi dari berbagai partai. Tanya-tanya berapa uang saku yang didapat. Saya bilang sekian yang saya dapat. Dan luar biasa, itu adalah yang terkecil dibandingkan dengan yang mereka-mereka dapat! Mereka ngece saya, memandang saya dengan ya ampun, kaya GUWEH ADALAH ORANG YANG PALING HARUS DIKASIHANI SEDUNIA!!

Saya rasa, saya ini ditugaskan masih di dalam kota. Kalau Anda ke Palanga Raya, atau warga Palangka Raya, you will know bahwa Sungai Kahayan itu adalah sungai yang berada di dekat pusat kota. Dan pemukiman di seberangnya sangat dekat dengan pusat kota. Hanya dipisahkan oleh sebuah jembatan ikonnya Palangka Raya, Jembatan Kahayan. Sangat masih kota!

Kotak-kotak bakal tempat-tempat naro kertas yang udah dicoblos-coblos di taro di meja-meja dengan rapi. Bertuliskan kertas warna apa harus masuk kotak mana. Kalau engga 3 ya 4 lah kotaknya. Udah engga ingat banget saya! Pemilihan di mulai! Masalah di situ timbul, ternyata banyak warga setempat yang enggak ngerti bahasa Indonesia! Enggak bisa baca! Enggak bisa baca! Halooww…!!! Ini bukan di hulu! Ini di kota!

Saya ingat betul, ada warga yang bingung. Di sebuah kotak yang diharuskan dimasukan kertas warna merah, bertuliskan “MERAH”. Sang warga masih aja salah.

Nang ini, masuk mana?
Tu nah nang ada tulisannya “MIRAH” ganal.”
Mirah tu warna nang mana garang?
Aduh, lah. Nang HABANG tu nah, Cil.”

You Know what i mean, lah…
Tempat saya tugas, rata-rata warga Banjar yang saya juga kurang tahu tepatnya daerah mana, yang logat ngomongnya kaya kalau anda bersendawa. Merega! Mereka melogatkan MERAH dengan MIRAH. Dan MERAH sendiri dalam bahasa mereka adalah HABANG.

Akhirnya, tulisan MERAH di kotak diganti dengan HABANG…!!!

Back to me sebagi titik fokusnya. Diawal mulai pemilihan, ini saksi dari partai lain songong sekali. Tanya-tanya warung aja, lapar katanya. Mumpung ada duit, dia mau makan enak, sepuasnya. Alhamdulillah ya Allah, sekolah libur, kantin juga libur. Enggak ada warung di dekat TPS. Ada sih, tapi jauh. Sampe dianya ijin. Dengan songongnya dia makan di hadapan GUWEH…!!! Saya enggak makan apapun. Diam aja. Fokus mengawasi jalannya pemilihan, mereka semakin kasihan ama saya, dikiranya enggak makan maupun enggak beli-beli karena uang saksi yang didapatkan kecil. Padahal saya sedang puasa, bayar utang Ramadan guweh ke Allah yang segunung!

Sampe kemudian, teng tong! Jam 9an, ketua saksi saya, Pak teeet *sensor_padahal mah udah lupa siapa. Hihihihi….

Oke fokus!

Jam 9an ketua saksi saya datang, membawa cemilan buat saya. Tahu seberapa??? Sekantong plastik gede yang warna MERAH!!! Yang warna MERAH, BESAR!!! Isinya lengkap. Minum, ada yag tawar, yang manis. Permen berbagai rasa. Snack yang gurih, manis, asem juga ada. Terus kacang. Terus, terus, terus… Ah, pokoknya mah banyak sekali. Si saksi itu mulai mengerjap-ngerjapkan matanya.

Kemudian, jam 11an, teng tong, ketua saksi saya datang lagi. Ngantarkan makan buat saya. Tahu makanannya apa?? Hihihihi… Nasi Padang. Lengkap selengkap-lengkapkapkapnya! Si saksi lain mulai duduknya gelisah.

Duhur, break dulu. Perut mulai lapar. Dipersilahkan solat, makan dan lain sebagainya. Si saksi ini bilang ke saya, “Mbak.. nyamannya pian, makanan diantarkan.”

“Heh, nyaho siah!” Dalam batin gueh! Tadi ajah mandangin gueh kaya nista banget! Emang situ duit banyakan lah, tapi lapar mah lapar! Engga ada makanan! Mesti nyari ke sana ke mari! Lah gueh, emang cuma 150 rebu! Tapi utuh, makanan nyanding. Rasakan! Batin gueh jahat! Huahahaha…

Sempat ada something problem, tapi ya alhamdulillah bisa terselesaikan dengan guweh gemeteran. Soalnya guweh yang protes. Di suruh ama ketua! Guweh yang rada gemana gituh bicara di depan umum, aduh, berasa enggak nginjak lantai! Salah hitung suara buat PKB. Dan itu bukan partai dimana dakuh bersaksi. Dan PKB adalah partai yang dapat suara dominan di TPS tempat saya tugas.

Oh, ya… jam 7an malem, ketua saksi saya datang lagi. Bawa makanan lagi buat saya. Aduh, makanan buat saya numpuk sekali. Membuat saksi lain sangat liar. Pengen melahap. Saya mah sante aja. Rezeki saksi solehah, aih alhamdulillah! Aduh, saksi lain semakin kisut aja! Finally, yang menjalankan tugas dengan baik, *ciyehhhh…!!! di TPS itu adalah hanya saksi dari partai teeet *sensor, yaitu saya. Dan dari PKB aja. Yang sampe tuntas, tas, tas. Yang lainnya pada kabur. Kelaparan, dan lain-lain sebagainya. Enggak tahu juga, dan engga mau tahu juga sayanya!

Selesainya sampe jam 11 malem Bo…!!! Melintasi Jembatan Kahayan, menatap lampu-lampu diketinggian jembatan, berboncengan, aduh, romatis sekaleeh!!! Lampu-lampu di Panjaitan, di bundaran malam hari yang lengang, terus Yos Sudarso sebelum lampu merah. Aduh….!!! Meleleh sayah! Baru nyaho, eiy makna cantiknya kota Palangka Raya! Segala penat akibat aktivitas seharian yang beresiko memicu ambeien tersebut, alis duduk mulu itu hilang, BLAAAR…!!!

Ternyata meski di partai yang sama, enggak semua saksi mendapatkan kenyamanan seperti saya. Ada temen saya yang bisa dibilang ditelantarkan ama ketua saksinya. Hihihi… Ada yang ampe malem enggak diberi makan, snack juga cuma dikit. Dianya kelaparan akut! Kalau saya, dikontrak sekali aja makan, malah dikirim dua kali. Bahkan yang parah adalah ada juga temen yang enggak boleh ninggalin TPS sama sekali, walaupun ijin sholat. Karena TPS tempat beliau tugas itu jauh dari masjid. Sampe kemudian teman saya ini enggak pengen lagi berteman ama ketua saksi. Padahal ketua saksi itu sama-sama anak Luwes. Hihihi…

Alhamdulillah, so far, pengalaman saya sebagai saksi di seberang Kahayan membawa kisah yang menyenangkan. Bertemu orang-orang yang belum tentu akan saya temui lagi. Bersama mereka, membuka mata saya, bahwa kesejahteraan itu sangat-sangat tidak merata di negara inih. Saya mikir, ini tugas para pemimpin berat amat ya! Membuat saya enggak berniat menjadi pemimpin, pejabat dalam wilayah luas. Saya maunya jadi pejabat di rumah tangga aja, *Eehhh…!?! Membuat saya mikir, aduh…, kaya gemanalah nanti pertanggungjawaban di hadapan Allah. Karena jangankan di hulu, di yang nyata-nyata kota aja, begitu banyaknya yang tidak tersentuh ama tangan-tangan pemerintah, pendidikan, kesehatan, sangat kritis!!! Bayangin aja, di kota, masih buanyak yang tuna aksara! Ini yang salah siapa? Ah, cape juga kalau nyari siapa yang salah, mah!

Tanggal 09 Desember tahun ini hanya tinggal menghitung hari.
Meskipun enggak terlibat langsung dalam pemilihan baik itu gubernur maupun bupati, saya akan senantiasa melibatkan diri secara tidak langsung pada negara yang saya cintai dengan segenap hati inih. Saya selalu mendoakan semoga segalanya berjalan sebagimana seharusnya, aman, damai, jujur, dan orang-orang yang tepatlah yang berada di tempat yang seharusnya.

Semoga PALANGKA RAYA semakin OKE, semakin CANTIK! Kalimantan Tengah menjadi Propinsi yang oke di Indonesia! Dikenal khalayak, dikagumi! Selama ini kan, hasil buminya aja yang dikeruk, sedangkan keberadaannya seakan lenyap, ntar kalo Kalimantan Tengah dicaplok ama Malaysia aja, baru pada himung! Hihihi….
Selamat memilih buat anda yang memilih.

Kalau saya mah, engga milih. Boro-boro milih, proposal juga belum saya ajukan ke murobbi. *Eehhhh!!!
(01 Desember 2015, ditulis di Pondok Luwes di sudut kamar no. 11 saat Hari Mendung dan cucian baju saya seabreg _10:51_)

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s