Buang Aja Situ lah!

IMG20160326091136

#skripsi_guwweh_bagian_4

Dua minggu yang lalu saya seminar proposal. Alhamdulillah… Eh ini harusnya Alhamdulillah apa Innalillaahi wainna ilaihi roojiuun ya? Kalo versi saya sih, ini beneran Alhamdulillah… Tapi versi penguji ini kayanya adalah innalillaahi… Soalnya mengomentari kata pengantar saya aja beliaunya sampai gedek kayanya. Hihihi…

Aih, apapun kata orang tentang saya di semester yang semakin mencekik ini, setidaknya saya pernah BERJUANG UNTUK TEGAKNYA KEADILAN DI MUKA BUMI INI…!!! ALLAHU AKBAR…!!! TURUNKAN HARGA BE BE EM…!!! KALAU TIDAK BISA MENURUNKAN, TURUN ANDA DARI JABATAN SEKARANG JUGA…!!! MERDEKA…!!! Ih apaan sih guwweh inih!? Macam orasi demo minta harga Be Be eM diturunkan aja. Hihihi…

Yaah, intinya… Apapun yang orang bilang mengenai study saya ini, terserah aja apalah… Toh yang menjalani saya, yang susah saya *-plus menyusahkan pembimbing, penguji, dan terutama orang tua saya-, yang berusaha juga saya, sementara Anda mah cuma tinggal nyawang doang. Gitu aja banyak mulut, lu…!!! Mending banyak harta, terus sedekah ke guwweh. Ntar guwweh sedekahkan lagi ke yang lain. Kan kern gitu. Hihihi…

Penguji-penguji saya adalah sosok-sosok horor di kampus. Bukan berarti mereka adalah hantu. Tapi, you know-lah what I mean. Untuk jaga-jaga dahsyatnya pertempuran di medan laga, saya bahkan sampe les ke temen saya yang udah lebih dulu jadi S.Pd alias Sarjana Pelepah Duit (a.k.a. Sarjana ngabisin duit, *bahasa banjar). Selama dua malam, empat jam. Tapi rupanya serangan negara api terlalu kuat sodara-sodara! Saya melempem bak kerupuk di dalam toples yang engga ditutup selama seminggu.

Seminggu sebelumnya, temen saya yang satu fakultas beda prodi, seminar. Dan salah satu pengujinya juga horor. Engga salah satu, ketang. Salah dua malah. Cuma bedanya, penguji saya, yang satu laki-laki. Sementara temen saya, keduanya perempuan. Jadi lebih nyap-nyap gitu. Hihihi… Salah satu penguji temen saya, dalam memberikan taujih setelah temen saya itu presentasi, ngomongnya datar gitu nadanya. Dan itu membuat salah satu penonton seminar blank. Dan penonton yang blank itu adalah SAYA…!!! Ya! Saya blank, otak saya, kepala saya, jiwa dan raga saya, rasanya kosong kalau mendengar orang bicara dengan nada datar dalam waktu lama. Dan saat temen saya seminar, di waktu penguji itu berkata-kata, saya engga kuat lama mendengarkan. Kemudian saya ambil hape, saya buka facebook. Baca-baca di KBM. Huahaha…!!! Sementara temen saya di asinin di depan. Maafkan saya, Tem. Saya tidak bisa membantu banyak pada seminarmu.

Dan kejadian yang sama rupanya terjadi di seminar saya. Dan kali ini saya engga bisa mengalihkan ke-blank-an kepala saya dengan buka FB, tidur, curhat ataupun lain sebagainya. Karena saya yang di asinin di depan kelas! Mateeei itah…!!! Salah satu penguji saya, bahkan yang menurut saya beliau adalah Srikandi-nya kampus saya, nada bicaranya datar. Waduh, ini sungguh tidak bisa dibiarkan. Segala amunisi saya melepes! Saya engga berisi apapun. Padahal badan saya segede gaban begini. Ini sungguh kaya seorang raja, eh, karena saya perempuan, jadinya ratu. Ini sungguh kaya seorang ratu yang tinggal seorang diri di mercusuar yang dikelilingi batu karang tajam kaya di film Bell Rock. Terus global warming merajalela, membuat air laut semakin melimpah ruah. Engga ada makanan, engga ada air minum, engga ada temen. Ya udah…, tinggal nyemplung ajalah ke laut. Mati, mati aja situ…! Paling bangkenya ke makan ama ikan. Ya, setidaknya masih ada manfaatnya lah di detik-detik terakhir kebinasaan.

Seminar ini adalah ajang menunjukkan seberapa udungnya guwweh selama ini di kampus. Dan begitulah saya. Disaat penguji saya, yang bicaranya datar, menanyakan pertanyaan krusial, pertanyaan mendasar, pertanyaan paling gimpil dalam fisika, saya engga bisa jawab. Saya ditanya,”usaha itu vektor apa skalar?” Alamak, saya plegakpleguk kaya si Tom kebanyakan minum kopi karena abis begadang di film Tom & Jerry. Sampe membuat salah satu pembimbing saya wajahnya merah padam.

Saat seminar udah selesai, temen saya, sebenernya mereka salah satu seksi riweuh pada seminar saya, Umi dan Yana, dan saya. Kami semua pokoknya, ngobrolin tentang seminar saya, dalam nuansa kebahagiaan. Dalam salah satu percakapan kami, saya mendapatkan pengetahuan bahwa penguji saya ada mau buang proposal saya. Saking keselnya dengan saya. Saya kaget, wah…, saya engga denger beliau bilang gitu. Padahal jarak beliau dengan saya, dibandingkan jarak beliau ke mereka dekatan ke saya lah… waduh, blank akut rupanya saya ini. Saya beneran engga denger, penguji saya bilang mau buang proposal saya.

“Tak buang loh proposalmu,” Yana maupun Umi dengan canggih mereka bisa menirukan nada datar bicaranya penguji saya. Kata mereka, bicaranya penguji saya waktu mengatakan itu kaya nakutin anak kecil yang nakal. Hihihi…

Sebelumnya saya sungguh engga mengindra moment ini dalam benak. Kalaupun mereka engga cerita, bisa jadi saya engga memiliki kenangan ini dalam seminar saya. Dalam hal ini saya sangat berterimakasih kepada Umi dan juga Yana yang udah berbagi bagian detail cerita seminar kemaren dengan saya.

Ngomong-ngomong mengenai buang-membuang. Saya jadi keingetan kebiasaan saya kepada adik-adik di rumah.

Adik laki-laki saya, dia yang paling hobi berantakin mainan di ruang tengah. Biasanya dia membuat rumah-rumahan. Sebenernya, rumah-rumahannya itu adalah sebuah lingkaran yang mengelilingi dirinya. Lingkaran itu tersusun dari mobil-mobilan, patahan robot-robotnya dan segala abragabrag di keranjang mainannya. Proses pembuatannya bisa berjam-jam. Dan ketika sudah selesai dia hanya duduk lemas, seolah telah bekerja keras, menarik napas dalam-dalam dan dengan ekspresi penuh kepuasan serta lelah, kepada setiap orang yang berada di dekatnya dia bilang, “ini rumahku. Rumahku udah jadi.”

Kalau udah pamer, dianya terus tinggalkan rumah-rumahannya beralih kemainan lainnya. Tanpa membereskan mainan sebelumnya. Setiap kali adik saya nampak menggotong kerajang mainan, baik saya, mamah, maupun adik perempuan saya selalu berakad dengan dia supaya dianya membereskan mainan setelah bermain. Dan kalau dianya menyanggupi, dibolehkanlah dianya mainan. Kalau engga, maka dianya bakal merengek minta diijinkan mainan. Dan menyanggupi dengan keterpaksaan, membereskan mainannya ke dalam keranjang setelah selesai bermain.

Kalau adik laki-laki saya kelupaan membereskan atau melanggar akad, biasanya mamah atau adik perempuan saya yang membereskan. Tentu sambil taujih kemana-mana. Tapi kalau berakad dengan saya, jangan harap saya mau membereskan. Strategi saya adalah, saya berdiri di dekat mainannya. Kaki saya tepat menempel di mainannya. Dengan lagak seolah mau menendang. Lalu saya bilang, “Dot, mainanmu ini engga dibereskan? Lihat nih, teteh buang.” Seringnya ini ampuh. Maka, apapun yang sedang dikerjakannya, dia akan bersegera membereskan mainannya. Dengan senang hati maupun dengan terpaksa. Kadang disertai dengan misuh-misuh ataupun cemberutan engga simetris di bibirnya.

Lain halnya dengan adik perempuan saya. Dia paling engga rapi dengan baju kalau pulang sekolah. Tas, baju masih berantakan di depan tivi dan dianya langsung nongkrong sambil genggam remote. Kalau engga gitu, mainan hape. Kalau engga nge-game ya SMS-an. Kalau mamah yang lihat, beliau ngomel dari utara hingga ke selatan, dari musim rambutan hingga musim mangga, kesebut semuanya. Tapi kalau saya engga, saya cuma berdiri, dengan kaki nyepit tas atau bajunya yang tergeletak di lantai, seolah mau membuang sesuatu yang menjijikkan. Lalu bilang, “Un, lihat ini. Teteh buang bajumu, tasmu.” Dan selalu ampuh dengan dia segera menyamber baju, tasnya dan merapikannya, digantung pada tempatnya dikamar.

Hasilnya, alhamdulillah. Kalau ada saya dirumah, adik laki-laki saya rapi dengan mainannya. Soalnya kalau engga, ya, itu. Kalimat,”Teteh buang ya, mainanmu” menjadi momok yang menghantui ketenangan jiwa raganya. Adik perempuan saya sekarang sudah menjadi kebiasaannya kalau pulang sekolah langsung ganti baju dengan baju rumah, baju sekolah dan tasnya rapi pada tempatnya di kamar. Soalnya kalau engga, ya, itu. Kalimat,”Teteh buang ya, bajumu, tasmu” menjadi momok yang menghantui ketenangan jiwa raganya. Kalau saya engga ada di rumah, mana saya tahu mereka gemana. Hihihi…

Terus, perolehan kesemuanya buat saya adalah proposal saya mau dibuang sama penguji. Huahahaha… Dan bahkan saya engga menyadari hal itu. Aduh, rupanya saya lebih parah dari adik-adik saya. Mereka selalu tanggap setiap kali saya bilang mau membuang barang-barang mereka. Tapi saya, sesuatu yang saya perjuangkan bahkan ketika terancam hendak dibuangpun saya dengan udung engga tahu-menahu. Aduh, parah parah!

Kalau saya jadi adik laki-laki saya, padahal saya bisa aja menjawab, “Buang aja situ lah mainanku. Nanti aku minta belikan yang baru sama mamah, sama bapak.”

Kalau saya jadi adik perempuan saya, padahal saya bisa aja menjawab, “Buang aja situ lah bajuku, tasku. Nanti aku minta belikan lagi baju baru, tas baru ke mamah, ke bapak.”

Sementara saya ke penguji, masa harus bilang, “Buang aja proposal saya, Bu. Nanti saya, nanti saya, nanti saya,… Saya ngapain ya?” Saya engga tahu harus bilang apa, harus gemana. Masa minta dibelikan mainan baru kaya adik laki-laki saya? Masa minta dibelikan baju baru, tas baru kaya adik perempuan saya? Lah, minta sama siapa? Atau…, apa pake jurus pamungkas gitu, nurutin saran Raditya Dika, pura-pura mati…!?!

Haih, bagaimanapun, apapun yang telah terjadi, yang saya hadapi, saya harus berbahagia dalam menjalaninya, dalam melewatinya. Bersyukur saya pada pemilik semesta karena telah menganugerahkan segalanya sehingga saya bisa berada pada koordinat dalam kartesius semesta ini.

Makasih untuk semua pihak yang selalu mendukung dan juga mendoakan saya. Mamah, bapak, adik-adik dan keluarga saya. Temen-temen liqo halaqah saya. Berenjit Luwes. Black hole saya di tarbiyah. Dan terutaman juga Seksi riweuh dalam seminar saya, Yana, Upip dan Umi. Neng Zakia yang datang jauh dari Pulpis sana. Serta semuaan yang engga bisa disebut satu persatu. Tapi saya yakin Allah swt., menyebut nama Anda dalam catatan kebaikan malaikatNya. Hanya Allah saja yang bisa membayar kebaikan Anda semuaan kepada saya. Makasih sudah membersamai saya selama ini. Saya masih dan tentu saja akan selalu mengharapkan suntikan energi dari kalian semua. Perjuangan saya masih panjang. Tolonglah, tetap bersama saya, ya.

 

(Palangka Raya, 03 April 2016 _22:10_ Saat Luwes mulai sepi, dan nyamuk-nyamuk mulai beratraksi ganjen minta jatah di fogging)

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s