Ratu Hati

Ntah bagaimanalah harus mengawali tulisan saya kali ini. Di hati saya begitu berkecamuk, kata-kata random menyabaki benak ini. Dengan tidak selesai-selesainya apa yang saya kerjakan di kampus, kemudian rindu yang meluber untuk pulang, kesemuanya seperti dua sisi mata uang. Satu sisi menguatkan saya, satu sisi lagi begitu melemahkan saya.

Setahun terakhir ini hanya benda dengan panjang 116, 4 mm. Lebar 50,3 mm. Tebal 13,2 mm. Berwarna hitam. Terselubung dalam karet tipis berwarna biru.  Dan berlabel NOKIA. Hanya benda itu yang menghubungkan saya dengan orang rumah untuk komunikasi. Setahun? Aih, selama itu kah sudah saya tidak berada dalam radius pandangan mata mereka-mereka.

Saya anak pertama dari 3 bersaudara. Adik saya perempuan dan laki-laki. Diantara mereka, sayalah anak yang paling jarang berada di rumah, untuk membersamai keluarga, bapak dan adik-adik saya, terutama mamah. Bukan saya tidak ingin, hanya keadaan saja yang tidak memungkinkan, buat saya.

Di satu kali bertelpon dengan mamah, ketika kami berbicara dari hati ke hati, ada satu penguatan menopang kehampaan saya.

“Segera selesaikan kuliahnya, segera lulus. Nanti kalau udah lulus, jangan pergi jauh-jauh lagi dari mamah, ya.”

“Iya, Mah. Aku juga pengennya nanti di rumah ajalah. Kalau pun kerja ya pengennya yang deket-deket Sp 6.”

“Iya, mudah-mudahan aja ada lowongan buat kamu di deket sini.”

“Kalau engga ada lowongan kerja nanti aku yang buat lowongan. Aku mau bisnis. Hehehe…”

“Iyalah… Pokoknya jangan jauh-jauh dari mamah. Jangan tinggal-tinggalin mamah lagi. Semua anak-anak mamah, cuma kamu aja yang engga pernah nyanding lama deket mamah.”

“Iya, yah Mah…”

“He’eh, dulu waktu kamu masih kecil, mamah yang pergi-pergi tinggalin kamu. Nyari nafkah. Sekarang kamu udah gede, kamu malah yang pergi-pergi tinggalin mamah. Buat nyari ilmu.”

Dua titik bening meluruh di pipi. Teringat bagaimana selama ini kami menguraikan detik-detik waktu yang Allah anugerahkan kepada kami.

Jika dibilang anak broken home, maka saya memang broken. Mulai dari kekerasana dalam rumah tangga dari ayah saya kepada mamah, yang saya saksikan di usia masih belia, kemudian perceraian. Rujuk. Kemudian bagaimana bapak dan mamah bener-bener tidak terselamatkan cintanya. Menjalani kehidupan dengan orang tua tunggal. Sering ditinggal merantau. Tinggal dengan nenek-kakek, paman, bibi, keponakan dan sepupu. Harus menjadi pengasuh buat adik perempuan, hampir layaknya seorang ibu kepada anaknya, di usia yang masih belia. Mengalami kesenjangan kasih sayang yang bener-benar nyata dari nenek selama mamah merantau. Dengan itu semua, tidak menyangkal bahwa saya memang broken. Hati saya, jiwa saya, pemikiran saya, raga saya, terasa broken di mana-mana. Sakitnya itu di mana-mana. Ini sungguh-sungguh! Alhamdulillah, Allah masih mengkaruniakan imun yang luar biasa berkali lipat buat menyembuhkan segala broken-broken dalam diri saya.  Kesemuanya yang telah saya alami di usia belia menjadikan saya, ya seperti yang sekarang ini.

Saya memang harus menjalani kesemuanya. Di moment yang memang tidak lama saya nyanding dengan mamah, justru apa-apa yang terjadi diantara kami sungguh berasa. Sungguh mengendap dengan nyata di dasar hati. Subur dan berhiaskan segala keindahan yang tak terperikan.

Saya masih mengingat dengan sangat, bagaimana mamah membantu saya menghafal Pancasila di masa TK dulu. Saya nyandar di tiang bedug Langgar Abah, menunggui beliau mencuci baju di balong yang kala itu sambil menghayati setoran hafalan pancasila saya.

Saya juga ingat sekali ketika saya kelas 1 SD, ada tugas menyanyikan lagi Ibu Kita Kartini dari guru di sekolah. Mamah mengajari saya menyanyi dengan baik. Tapi dasar suara saya sumbang, sekeras apapaun mamah ngajarin, hasilnya tetap kurang memuaskan beliau. Emang dari sananya suara saya engga merdu. Kata mamah kaya suara Kumbang di dalam lubang-lubang di papan dinding rumah. Saat itu saya udah bosen nyanyi. Sampai ketika pada kata “mulia” di lirik “ibu kita kartini putri yang mulia” saya mangap dengan selebar-selebarnya. Ibu kita kartini, putri yang muliAAAA… Dan menuai keplakan sebel dari mamah yang sungguh tidak sakit. Malah mengangetkan saya. Dan menjadikan kami tertawa dengan riuhnya.

Juga ketika kelas 2, di saat itu mamah lagi hamil adik perempuan saya. Bapak saya ada. Beliau sedang mengajarkan matematika. Bapak saya jago matematika. Mamah saya benci matematika. Bapak saya suaranya sumbang. Mamah saya suaranya merdu. Dan saya adalah apa-apa yang buruk dari mereka. Suara saya sumbang dan benci matematika. Buka benci tepatnya. Hanya tidak menyukai matematika. Saat itu ayah saya mengajarkan hitung pembagian. Porogapit istilahnya. Saat itu bapak melombakan saya dengan mamah dalam menyelesaikan suatu soal. Dan saya bisa mengalahkan mamah. Senangnya saya. Bukan kesenangan mengalahkan mamah dalam pengerjaan soal matematika yang saya rasakan, tapi kesenangan bahwa saya mempunyai kenangan indah bersama mereka berdua.

Mamah saya jago menghafal. Yang di hafalkannya adalah lagu-lagu. Saya ingat mamah saya menjadi referensi bibi dalam menyanyikan lagu-lagu nasional. Lebih dari 100 lagu nasional yang mamah hafal saat itu. Sssttt…, mamah bahkan masih hafal lagu Ayam Jago. Lagu jaman mamah masih TK. Lengkap dengan NOT-nya. Kemudian mamah juga banyak hafal lagu-lagu yang lagi ngetop saat itu. salah satunya lagu Jamrud. Grup Band dengan personel yang gondrong-gondrong itu, saya lebih suka mendengarkan lagu-lagunya dari suara mamah.

Segala yang ngetop-ngetop kala itu mamah update. Beliau update-nya dari radio. Waktu mamah kerja di Semanggang di Pagatan, beliau ada membelikan saya radio kecil merknya PANASONIC. Bener-bener PANASONIC, dibaca apa adanya huruf. Saat itu saya masih TK. Radio itu menjadi teman karib saya. Seolah pengganti keberadaan mamah. Bahkan saya kelonin pas tidur, kala saya merindukan mamah. Sayang, radio itu entah berada di mana sekarang.

Saya bahkan pernah sampai berada pada kondisi, saya menggunakan baju mamah ketika tidur. Menangis sambil meringkuk dalam lemari, mencium baju-baju mamah di lemari itu. Karena kerinduan demikian mendalam. Mamah merantau dan lama sekali tidak pulang. Dan hal ini saya yakini tidak sampai terjadi pada kedua adik saya.

Satu yang selalu segar dalam benak saya, ritual saya sebelum tidur. Setengah jam sebelum saya tidur, saya berdoa bersama mamah. Doanya ga cuma bismikallahumma ayha wa bismika amut doang. Tapi surah-surah pendek dari Quran yang sekiranya mamah hafal, akan mamah diktekan kepada saya. Juga ayat-ayat pilihan yang sekiranya mamah hafal, akan mamah diktekan kepada saya. Doa-doa yang relevan juga akan mamah diktekan kepada saya. Alhamdulillah hafalan surah pendek, ayat pilihan dan doa-doa yang biasa dilafalkan dalam kehidupan sehari-hari masih melekat dengan baik di benak saya. Dan ketika saya mengamati kedua adik saya, mereka tidak mendapatkan momet itu. Karena kedua adik saya relatif selalu menolak doa-doa yang panjang kalau mau tidur.

Sementara saya sekarang, aih mamah… Bisa jadi saya tidur dengan tanpa berdoa. Tidur dengan niat tidak tidur alias ketiduran, kadang saya mendapati saya terbangun diantara tumpukan baju yang belum saya lipat, diantara kertas-kertas bekas, diantara map-map, tinta yang berceceran, piring kotor yang bahkan kadang sampai berbelatung engga sempat tercuci. Aih, sok sibuk sekali saya ya mah?

Apa-apa yang saya hadapi dalam hari-hari saya. Bagaimana keadaan kami dulu. Menjadikan saya seolah “lebih” di mata mamah ketika kami semua ngumpul, saya dan adik-adik. Kalau saya pulang, apa yang menjadi mau saya, akan mamah usahakan terpenuhi. Dan hal itu sempat menjadikan adik perempuan saya merengut. Dia bilang, “Mamah cuma sayang sama Teteh, apa yang Teteh bilang pasti mamah penuhi. Coba kalau aku, pasti nanti-nanti terus.” Aih, maafkan teteh, Un. Mengenai ini, mamah menjelaskan dengan sangat indah supaya adik perempuan saya paham kenapa mamah lebih sering memenuhi apa yang saya bilang. Entah bagaimana caranya. Namun saya pernah mendengar selentingan mamah mengatakan bahwa saya yang jarang di rumah, itulah dalil terkuat untuk memahamkan adik saya.

Di satu keadaan kadang saya merasa kurang nyaman dengan adik-adik saya atas perlakuan “lebih” mamah kepada saya. Kadang saya merasa, seolah mamah sedang melunasi apa-apa yang saya hadapi di usia belia saya. KDRT yang saya saksikan, yang sempat mempengaruhi psikologi saya, kemudian saya harus menjadi kakak sekaligus “ibu” buat adik saya menggantikan beliau, menjalani kehidupan hari-hari bersama keluarga besar yang tentu saja berbeda jika berada dalam lingkupan mamah. Beliau yang sering pergi-pergi. Dan segala kekurangan-kekurangan di keluarga kami di masa dulu.

Kedua adik saya tidak mengalami itu semua. Untuk hal ini saya sangat bersyukur kepada Allah swt. Mereka menjalani masa belia dengan lebih baik dari saya. Mamah saya menikah lagi. Lahir adik laki-laki saya. Kehidupan mulai membaik. Dan sejauh ini, mamah stay di rumah menjadi ibu rumah tangga. Nyanding buat bapak saya yang sekarang dan juga adik-adik.

Saya memang jarang berada dalam radius pandangan mata mamah saya. Saya memang jarang bergelung dalam pelukan beliau. Tetapi saya yakin kesemuanya itu tidak menjadikan saya jarang berada dalam lingkupan kasih sayang beliau. Tidak menjadikan saya tak berada dalam ruang terindah di hati beliau. Tidak menjadikan saya mengosongkan hati buat beliau, justeru, telah saya siapkan sebuah ruang yang teramat indah buat beliau di hati ini. Dan beliaulah ratu yang bertahta di hati saya. Saya yakin, hati-hati kami bertaut erat. Cinta kami bertautan erat. Dalam doa-doa beliau, dalam doa-doa saya, kami saling bergelung dengan mesra. Mamah, tetap bersama saya ya, Mah…

I am strong when I am on your shoulders

I am strong when I am on your shoulders

 

 

(Palangka Raya, 06 Mei 2016_16:47_ selesai diketik di kamar no. 11, ketika matahari mulai menunduk lemah, menyembunyikan kegarangannya di sesiang ini tadi.)

Iklan

setiap warga negara berhak mengeluarkan pendapatnya. Ayo gunakan Hak Anda dengan baik.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s