Pacaran

Beberapa hari ini aktivitas saya dikampus sangat menyita perhatian jiwa dan raga. Bahkan sampai membuat saya merasa ini energi mulai ting-nong ting-nong, macam Ultramen Gaia kalo susah ngalahin monster yang demikian kuat menyerang kota. Emosi yang udah labil semakin labil. Imbasnya pun waktu sore saat semakin ting-nong ting-nong ini energi, saya ngantuk sekali, sungguh tidak tertahankan, saat ngajar anak-anak di TPA Al-Hijrah jalan Lawu tempat saya ngajar selama ini. Kalau ngantuk enggak menemui labuhannya, kadang membuat saya kesel setengah udung. Saya semakin gampang dakwah, alias ceramah, kadang-kadang diiringi hujan lokal segala, malah. Alias ngomel-ngomel engga jelas. Muncrat ke mana-mana.

Hari ini, ngantuk kambali menyerang saya pun saat tatapan penuh penantian dari mata-mata mereka, penghuni hati saya. Menunggu nama-nama mereka di panggil buat tiba giliran waktu ngaji. Satu-dua anak mulai beres. Tinggal 3 orang lagi, dan saya ingin begitu pindah dari kelas. Saat anak di kelas saya udah pada ngaji, saya langsung ngibrit keluar kelas.

Saya dapati beberapa anak di dalam masjid tengah berlarian, saya usir ke teras. Sama-sama kami ngumpul di teras masjid. Tentang kebiasaan ini, sampe berbusa-busa juga saya meingatkan aturan main di TPA, mereka masih aja menyela, mencari celah supaya bisa berkejaran di dalam masjid. Padahal itu marbot masjid pernah sampe abang-ireng istilah jawanya, nyemprot ustadz dan ustadzah yang ngajar di kelas. Karena kesel ama anak-anak yang berlarian di dalam masjid. Dikiranya itu anak-anak engga pernah diperingatkan. Namanya juga anak-anak, diomongin mbeling sekali. Itu telinga kadang saya juga heran, wujudnya sih kaya telinga pada umumnya, tapi saya engga yakin kalau itu benda bener-bener terdefinisi sebagai telinga. Abisnya kadang mereka itu kalau diomongin, boro-boro gitu masuk telinga kanan, keluar di telinga kiri. Bisa jadi belum masuk telinga aja itu omongan udah mental duluan.

Di teras, anak-anak terbagi menjadi dua gerombolan besar. Gerombolan anak cowok ama yang cewek. Yang cowok saya lewati begitu aja. Saya nimbrung di yang cewek. Paman yang biasa jualan minum rupanya warungnya tutup tadi itu. Saya minta tolong kepada salah seorang anak buat belikan minum.

Di kumpulan anak itu ada seorang yang badannya kecil banget. Tapi dia lantih banar mulutnya. Namanya Shabrina Amanda Putri. Kakaknya juga ada diantara kumpulan tadi. Namanya Sindi. Juliane Sindi Azzahra. Iseng-iseng saya suka kepoin tentang keluarga anak-anak, bagaimana keseharian mereka di rumah dan lain sebagainya. Tentu saja dalam suasana yang santai, penuh kekehan, juga cengiran malu-malu. Dan Sasa, panggilan Shabrina, adalah korban saya sore tadi.

Photo0029

Shabrina Amanda Putri

Sasa ini anaknya kecil sekali badannya. Imut. Saya kalo deket dia engga bisa kalo engga cubit-cubit pipinya. Dia meringis-meringis kesakitan seringnya. Tapi saya gemes banget! Pernah sampe dianya ngambek engga mau ngaji. Karena saya cubitin pipinya. Hehehe, piiss, damai ya, Sa..

“Sindi sekolah dimana?” tanya saya.

Belum lagi yang ditanya jawab, saya jawab sendiri itu pertanyaan, “SDN 5 Palangka.”

“Ih, Ustadzah udah tau kok masih nanya?”

“Untuk memastikan, hehehe…”

“Ih, Ustadzah, ni…”

“Sindi berapa tahun?”

“Sepuluh tahun tujuh bulan.”

“Aku lima tahun, Ustadzah,” Sasa nyerocos menjawab.

Ya ampun, anak sekecil ini udah lima tahun? Batin saya.

“Aku sama Sasa lahirnya sama-sama bulan Juli, Ustadzah. Tapi beda lima tahun,” kata Sindi.

“Berati Sasa lima tahun tujuh bulan, dong.”

“Iya,” Jawab keduanya bareng.

“Kamu punya adek?”

“Ada.”

“Cowok apa cewek?”

“Cowok.”

“Sindi sama sama Sasa, berdua perempuan. Adeknya cowok, dianya sendirian. Coba minta adek lagi. Biar cowok. Biar dianya ada temennya,” kata saya.

“Enggak, ah Ustadzah. Nanti dianya pacaran,” kata Sasa polos.

Astagfirullohal ‘adzim. Saya kaget.

“Loh, kok pacaran? Pacaran itu apa, sih?” Nada suara saya meninggi. Memperoleh kekehan juga cengiran dari mereka. Saat itu kumpulan mulai bubar. Tinggal bertiga anak saja di sekitar saya. Sasa, Sindi, dan Yasha.

“Sasa tau pacaran dari mana? Anak muslim engga boleh pacaran, loh ya…” selidik saya.

“Dari kaset, Ustadzah,” jawab Yasha.”Inya sering main ke wadah ulun. Inya pengen liat film tarus,” imbuhnya.

Saya bertanya-tanya, kaset apakah yang diliat buhannya? Film korea kah yang emang lagi booming? Film tentang pacaran? Astagfirulloh…

“Engga boleh pacaran loh ya… Anak islam engga pacaran. Anak sholiha tidak pacaran. Sasa islam kan?” saya mengejarnya dengan banyak pertanyaan.

Yang ditanya cuma nyengir aja.

“Kalau Keristen, boleh ustadzah?” tanyanya membuat saya engga tahu harus jawab apa.

“Yee, ni anak kecil. Sasa islam kan? Islam kan? Islam kan?” saya bertanya terus sampe dia mengangguk dan me-iyakan.

“Kalau udah besar boleh pacarankah ustadzah?” Sindi bertanya.

“Tidak, Sindi. Anak islam, orang islam tidak boleh pacaran. Masa anak sholiha pacaran? Engga kern, dong.”

Mereka bertiga semakin nyengir lebar.

“Kalau pas mau nikah, ustadzah, bolehlah pacaran?” Sindi mencari celah.

Aduh, bagaimanalah saya menceritakan ta’aruf dan kawan-kawannya. Tata cara sebagaimana islam mengatur pertemuan dua anak manusia dalam jalur yang syar’i dalam sebuah pernikahan, sedang ilmu saya demikian dangkal.

“Tidak, Sindi. Bolehnya kalau udah nikah. Pacaran sama suami. Pacaran sama istri.”

Saya lihat sorot mata bingung di tiga pasang mata. Aduh, harus bagaimana lah saya ini? Ngantuk yang bergelayut di mata saya ma’ blar! Ilang.

Saya tidak ingat bagaimana kelanjutannya percakapan tadi sore. Yang saya ingat, percakapan itu menorehkan sedikit sembilu yang membirukan hati saya.

Ya Allah, anak seumur lima tahun tujuh bulan seolah sudah biasa dengan kata pacaran. Membuat saya merasa demikian ngeri dengan fenomena ini. Ya Allah, semakin berat saja tugas saya. Apalagi saya tidak terlalu mahir dalam menghadapi anak-anak. Saya akui saya tidak mahir bagaimana memahamkan anak-anak dengan cara yang ahsan. Sebagaimana Kak Kis dulu memahamkan persoalan yang dihadapi anak-anak. Saya jadi rindu Kak Kis. Aih, kakak, saya masih harus belajar banyak denganmu bagaimana bersikap baik kepada kuntum-kuntum yang demikian ranum, yang kelak akan mekar, menyemarakkan umat dalam kejayaan islam di muka bumi ini. Kakak, saya rindu kebersamaan kita dalam barisan cindil-cindil yang selalu saja demikian indah kakak tanggapi.

Saya bukan aktivis pacaran. Meski gitu, kepada anak-anak ini. Saya, saya harus bagaimana? Dimana saya harus menggali ilmu tentang ini? Dan, aih.. bagaimana pula dengan diri ini yang jauh dari penerapan ilmu-ilmu yang di dapat.

Nanda, para penghuni hati saya…
Maaf, nak… Ibumu ini begitu lemah dalam menabur ilmu kepada kalian.
Kadang, ibu malu pada diri sendiri. Mendoa dan berharap kalian jadi sholih dan sholiha, sementara diri ini, aih.. apalah saya ini…
Jangan lihat siapa ibu, Nak…
Pandanglah guru yang lain di kelas. Mereka tentu sosok-sosok luar biasa yang bisa dijadikan panutan. Apapun itu, jadilah sholih dan sholiha, ya Nak. Karena rasanya mereka cukup mewarnai kalian dengan taburan ilmu dan hikmah yang luar biasa.

 

(Palangka Raya, 17 Maret 2016_23:53_ Tulisan yang dipaksakan. Sempat nge-blank, kehilangan apa-apa isi kepala yang berlompatan.)

 

Iklan